Batu Andesit Jadi Penanda Kota Lama

Suasana pengerjaan proyek koridor Jenderal Sudirman yang disiapkan menjadi kawasan kota lama Kota Bengawan, Rabu (26/9/2018).

Sejak tahun 2012, jalan Jenderal Sudirman sudah diperuntukkan sebagai koridor budaya oleh Pemkot Surakarta. Diawali dengan pembongkaran pagar pengaman bangunan dan pemasangan batu granit di bundaran Gladag dan Tugu Pamandengan, salah satu ruas jalan utama Kota Solo itu kerap digunakan sebagai lokasi pementasan kesenian.

Kini Pemkot memutuskan untuk mengembangkan koridor tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Koridor Jenderal Sudirman disiapkan menjadi kawasan kota lama Kota Bengawan. Tujuannya jelas, menambah destinasi wisata dan memperkuat aroma kota Surakarta sebagai kota bersejarah.

“Koridor Jenderal Sudirman, mulai Gladag sampai Tugu Pemandengan bahkan Pasar Gede, berada di lokasi yang sangat bersejarah. Sebab keberadaannya tidak terlepas dari eksistensi Keraton Surakarta. Termasuk keberadaan Benteng Vastenburg yang dulu digunakan untuk memata-matai aktivitas Keraton oleh penjajah,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Surakarta, Endah Sitaresmi Suryandari.

Alasan tersebut lantas menjadi salah satu pemicu keputusan mendesain Koridor Jenderal Sudirman menjadi kota lama. Salah satu strategi guna mewujudkan kota lama itu yakni penggantian aspal badan Jalan Jenderal Sudirman dengan batu andesit.

“Seperti yang terdapat di kota-kota di luar negeri, aspal jalan dikelupas kemudian diganti dengan batu andesit. Batu andesit cocok dipasang di badan Jalan Jenderal Sudirman lantaran menimbulkan kesan alami,” terang Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Bagi Wali Kota, alasan lain untuk mengembangkan kota lama di Koridor Jenderal Sudirman adalah keberadaan sejumlah bangunan di ruas jalan tersebut yang telah berstatus Benda Cagar Budaya (BCB). ”Jadi nantinya aspal diganti batu andesit, lalu di-coating agar tidak licin dan tetap aman dilalui kendaraan,” imbuh Rudy.

Saat ini tahap pertama penggantian aspal dengan batu andesit itu tengah dikebut kontraktor pelaksana proyek. Pemasangan andesit di penggal jalan, mulai persimpangan Bank Indonesia (BI) hingga bundaran Tugu Pemandengan pun ditarget rampung akhir tahun ini. ”Sisanya (persimpangan BI hingga bundaran Gladag) kami usahakan untuk dikerjakan awal tahun depan,” kata Sita, panggilan akrab kepala DPUPR itu.

Proyek tersebut tak pelak berdampak terhadap arus lalu lintas di sekitarnya. Pemkot berharap, pengguna jalan memaklumi perihal kepadatan lalu lintas tersebut untuk sementara waktu.

Manajemen rekayasa lalu lintas (MRLL) telah disiapkan instansi terkait. Selama proyek berlangsung, ruas jalan protokol itu disisakan 4 meter agar pengendara tetap bisa melaluinya. ”Pekerjaan ini akan berlangsung selama tiga tahap. Dalam tahap pertama, arus lalu lintas akan melewati sisi barat dan timur Jalan Jenderal Sudirman dengan lebar jalan masing-masing 4 meter,” terang Kasi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta Mudo Prayitno.
Dalam tahap kedua, jalur pengendara akan dialihkan ke sisi tengah Jalan Jenderal Sudirman. Pengendara dipersilakan melewati permukaan jalan dari batu andesit, yang menggantikan aspal Jalan Jenderal Sudirman. “Untuk tahap ketiga, relatif tidak ada persoalan karena pengerjaan hanya fokus di akses masuk Balai Kota dan Bank Rakyat Indonesia (BRI),” urainya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This