Zonasi Pedagang Diterapkan, Pasar Tradisional Panen Pujian

PENGELOLAAN PASAR TRADISIONAL--Aktifitas jual beli di Pasar Tanggul, Jumat (28/9/2018). Pengelolaan zonasi pedagang menjadi salah satu faktor tertatanya sebuah pasar tradisional.

Pengembangan pasar tradisional di Solo sudah menjadi salah satu prioritas Pemkot Surakarta. Pemkot sadar, 44 pasar tradisional yang tersebar di seluruh penjuru kota itu merupakan potensi ekonomi yang patut dipertahankan demi kemaslahatan warganya.

Keseriusan mengelola pasar tradisional tersebut kini mulai menuai hasil positif. Pujian demi pujian pun mengalir dari berbagai pihak atas keberhasilan Pemkot menata aktivitas jual beli di pasar tradisional.

Terkini, acungan jempol itu dilayangkan puluhan peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengelolaan Pasar Tradisional yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah, saat mengunjungi Pasar Tanggul, Kamis (27/9). “Kami menganggap pengelolaan pasar di Solo luar biasa. Penataannya rapi dan lokasinya juga bersih,” tutur Wahyudin, salah seorang peserta diklat.

Pengelola data perekonomian dan pendapatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi UKM Kabupaten Banjarnegara ini mengakui, pasar tradisional di Kota Bengawan lebih maju dibanding 23 pasar kabupaten di daerahnya. “Di sini pembeli bisa leluasa melihat barang dagangan yang dipajang penjual. Berbeda dengan los pasar di Banjarnegara, yang sampai saat ini masih dibatasi sekat.”

Pemberlakuan zonasi pedagang pun menjadi perhatian tersendiri. Menurut Wahyudin, pengunjung lebih mudah mencari barang-barang kebutuhannya lantaran pedagang sudah dikelompokkan berdasarkan komoditas. “Ada juga bank sampah, yang sampai sekarang belum bisa diterapkan di Banjarnegara,” kata dia.

Pujian pun datang dari ketua rombongan peserta diklat, Maryadi. Menurutnya, citra pasar tradisional yang bersih dan tertata rapi menjadi alasan mengapa peserta pelatihan diajak studi banding ke Kota Solo. ”Fasilitas di pasar tanggul ini banyak dan komplet. Baik musala, ruang laktasi, toilet, sampai travelator. Belum semua kabupaten/kota di Jateng mempunyai pasar dengan sarana dan prasarana seperti Pasar Tanggul ini,” jelas dia.

Sejumlah materi pelatihan yang berkaitan dengan perdagangan, perparkiran, kebersihan pasar, hingga pemetaan letak pasar strategis pun bisa dilihat langsung di Pasar Tanggul. Bagi Maryadi, bangunan baru pasar yang diresmikan Wali Kota FX Hadi Rudyatmo pada 1 Juni 2015 merupakan salah satu representasi pasar tradisional yang ideal. ”Lebih mirip pasar modern,” tandasnya.

Ya, bagi Pemkot pasar tradisional bukanlah sekadar tempat berlangsungnya transaksi antara pedagang dan pembeli. Kepala Dinas Perdagangan Subagiyo menegaskan, pasar tradisional merupakan salah satu sendi perekonomian Kota Solo yang harus dipertahankan. Apalagi saat ini pasar tradisional harus bersaing dengan pasar modern.

Zonasi pedagang, diakui Subagiyo, memang menjadi salah satu jurus untuk menarik minat khalayak berbelanja di pasar tradisional. Strategi lainnya adalah revitalisasi bangunan pasar dan penyediaan fasilitas penunjang.

Di Pasar Tanggul misalnya, sebanyak lima zonasi telah diterapkan Pemkot sejak pasar yang direvitalisasi dengan dana sekitar Rp 14,6 miliar tersebut beroperasi. Kelima zona itu adalah zona komoditas basah, komoditas semi basah, komoditas kering, kuliner dan kios. “Pembagian zona juga memberi rasa keadilan bagi pedagang, selain untuk memudahkan para pengunjung memilih kebutuhannya,” terang Subagiyo. (**)

Share This