Perpaduan Masa Lalu dan Masa Depan dalam Bengawan Solo Park

JALIN KERJASAMA--Prosesi penandatanganan kerjasama anatara Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) dengan PT Warna Bhuana Indonesia, Jumat (28/9/2018).

“Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan”. Adagium tersebut kini melekat kuat dalam benak sebagian warga Kota Bengawan.

Melambangkan semangat untuk menyesuaikan dinamika zaman tanpa melupakan basis historis, sejumlah pihak terus mencoba mengoptimalkan potensi kejayaan masa lalu demi perkembangan Kota Surakarta.

Tunjuklah Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang baru saja berhasil menggandeng investor, guna menggarap area komersial di sisi timur kompleks konservasi satwa itu, sebagai salah satunya. Sang penanam modal, PT Warna Bhuana Indonesia (WBI), berjanji mengemas nuansa Surakarta tempo doeloe dalam sejumlah wahana yang disiapkannya.

”Kami ingin mengembalikan kejayaan Solo yang dulu terkenal sebagai kota yang tak pernah tidur, melalui kehadiran Bengawan Solo Park,” ungkap Herman Adrianto, Direktur Utama (Dirut) PT WBI.

Herman mengklaim, citra tersebut mampu dipopulerkan kembali melalui Bengawan Solo Park yang bakal menyediakan lokasi khusus bagi para pegiat komunitas. ”Nantinya akan ada community park yang bisa menampung aktivitas komunitas-komunitas, layaknya Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari. Jadi apa yang dulu hilang (setelah THR tidak lagi beroperasi) nantinya bisa ditemukan di Bengawan Solo Park, dengan gaya yang sedikit berbeda.”

Tak hanya itu. Monumen Gesang pun bakal dipoles, guna mengingatkan pengunjung Bengawan Solo Park akan kebesaran nama maestro keroncong tersebut. ”Kami akan membuat museum, dengan mempertahankan monumen itu.”

Bagi Herman, masa lalu Kota Solo merupakan aset berharga untuk pengembangan potensi pariwisata. Kerjasama PT WBI dengan TSTJ diharapkan mampu mengemas potensi itu, demi kemajuan Solo. ”Kami akan membagi Bengawan Solo Park menjadi empat zona, di mana zona community park akan diprioritaskan pembangunannya. Diharapkan akhir 2018 sudah bisa digunakan, kendati belum maksimal,” terangnya.

Namun tak sekadar terjebak euforia masa lalu. Solo, di mata Herman, perlu mengadopsi perkembangan zaman, dan Bengawan Solo Park juga didesain untuk perkembangan tersebut.

Melalui pembangunan zona electronic sport (e-sport), Bengawan Solo Park disebut Herman mampu mengakomodasi kebutuhan generasi kekinian akan tempat hiburan dan pendidikan. ”E-sport saat ini sedang booming. Di Asian Games (AG) kemarin juga didemonstrasikan. Makanya kami berencana membikin e-stadium, yang dilengkapi level-level tertentu, mulai beginner hingga profesional,” urai dia.

Seluruh wahana tersebut bakal didirikan bertahap di atas lahan seluas dua hektare. Anggaran tak kurang Rp 22 miliar pun disiapkan PT WBI, guna merealisasikan perpaduan masa lalu dan masa kini demi masa depan Kota Solo tersebut.

Dirut Perumda TSTJ, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso menerangkan, nota kesepahaman kedua pihak telah ditandatangani. ”Kerjasama ini diharapkan bisa memberikan hal baru kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat yang hendak berwisata tidak perlu jauh-jauh. Cukup di Jurug Solo Zoo (sebutan lain TSTJ) saja,” tandasnya.

Adapun Wakil Wali Kota (Wawali) Achmad Purnomo berharap, pendirian Bengawan Solo Park mampu melengkapi wahana TSTJ dan menjadi daya tarik pendukung kebun binatang. ”Apalagi sebelumnya juga sudah dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan Kolam Keceh dan sudah ada Taman Pelangi. Pemkot ingin agar TSTJ bisa menjadi destinasi wisata nomor satu di Jawa Tengah,” kata dia. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This