Sewa Alun-alun Lor Keraton Surakarta Diperpanjang Setahun

Aktivitas pedagang Pasar Klewer sisi timur yang menempati pasar darurat di kawasan Alun-alun Utara Keraton Surakarta, Kamis (25/10/18).

Dibongkarnya bangunan Pasar Klewer sisi timur pada akhir tahun lalu, menjadikan Alun-alun Lor Keraton Surakarta dipilih Pemkot Surakarta sebagai lokasi pasar sementara bagi ratusan pedagang pasar tersebut. Molornya realisasi revitalisasi pasar permanen, mendatangkan konsekuensi tersendiri bagi Pemkot.

Bermula dari habisnya masa peminjaman lahan pada 20 Oktober 2018, Pemkot terpaksa memperpanjang sewa alun-alun, lantaran bangunan Pasar Klewer sisi timur masih rata dengan tanah. ”Pemkot memutuskan untuk memperpanjang peminjaman alun-alun hingga setahun ke depan,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan Surakarta, Subagiyo.

Sebagian anggaran penambahan periode sewa lahan pasar sementara itu, lanjut Subagiyo, telah dialokasikan dalam APBD Perubahan 2018. ”APBD Perubahan tahun ini dianggarkan Rp 1,25 miliar. Sisanya Rp 1,25 miliar lagi akan dianggarkan dalam APBD 2019.”

Nilai sewa lahan itu sama persis dengan biaya peminjaman Alun-alun Lor sebelumnya. Ya, sejak 2015 alun-alun di sisi timur laut Pasar Klewer itu memang dipinjam Pemkot sebagai lokasi pasar sementara.

Awalnya alun-alun difungsikan sebagai tempat berjualan sementara bagi ribuan pedagang Pasar Klewer sisi barat, usai kebakaran melalap bangunan pasar permanen pada Desember 2014. Usai pembangunan kembali pasar permanen tuntas dua tahun berikutnya, giliran ratusan pedagang Pasar Klewer sisi timur yang menempati kios sementara di alun-alun. Ini berkaitan dengan rencana revitalisasi bangunan pasar yang digagas Pemkot sejak tahun lalu.

Sejak berakhirnya sewa alun-alun pada 2016, Pemkot telah memperpanjang masa peminjaman lahan itu sebanyak dua kali. Tarif sewa yang dibayarkan Pemkot kepada pihak keraton selaku pemilik lahan tidak berubah, yakni Rp 2,5 miliar setahun.

Insya Allah ini adalah perpanjangan sewa alun-alun terakhir. Kami tetap berupaya mewujudkan revitalisasi Pasar Klewer sisi timur pada tahun depan. Jadi setelah masa sewa berakhir, tidak perlu lagi diperpanjang,” tandas Subagiyo.

Asa itu juga didasari sejumlah pertimbangan. Selain relatif lamanya pedagang berjualan di kios-kios sementara, hasil koordinasi Pemkot dengan pemerintah pusat terkait persiapan revitalisasi Pasar Klewer sisi timur ikut memicu harapan tersebut.

Menurut Subagiyo, baru-baru ini Pemkot telah diundang pemerintah pusat dalam rapat koordinasi revitalisasi tersebut. “Semua persyaratan teknis dan nonteknis sudah selesai dievaluasi. Kemungkinan akan ada rapat lanjutan November mendatang, untuk memastikan pelaksanaan lelang revitalisasi Pasar Klewer oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera),” jelas dia.

Bahkan jika rencana revitalisasi itu kembali meleset, sebagaimana lelang proyek yang didanai Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada akhir 2017, Pemkot tetap tidak tinggal diam. “Kami akan mencadangkan anggaran revitalisasi dari APBD 2019 senilai Rp 30 miliar. Hanya konsekuensinya, pembangunan Pasar Klewer harus disesuaikan dengan ketersediaan anggaran. Tidak seperti desain pasar jika revitalisasi didanai APBN,” kata Subagiyo.

Prosedur-prosedur peminjaman lahan pun sudah dilalui Pemkot. “Sejak September kami sudah menyurati keraton. Intinya Pemkot ingin memperpanjang sewa alun-alun. Sinuhun PB XIII juga sudah membalas surat itu kepada Wali Kota. Prinsipnya Sinuhun mempersilakan dan tidak keberatan jika peminjaman alun-alun diperpanjang.”

Wali Kota FX Hadi Rudyatmo pun menyiratkan keinginannya, agar perpanjangan sewa Alun-alun Lor pada tahun ini adalah kali terakhir. “Kasihan pedagang kalau berjualan di sana terlalu lama. Kami harap, awal tahun depan revitalisasi bisa dimulai. Jika revitalisasi berjalan selama tujuh bulan, maka selesai masa peminjaman alun-alun pedagang bisa kembali berjualan di Pasar Klewer,” tandas Rudy, demikian Wali Kota biasa disapa. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This