Feeder BST Dilengkapi Sistem Navigasi

Salah satu armada kendaraan pengumpan (feeder) BST saat melintas di Jalan Gajahmada, Senin (3/12/18).

Pelayanan prima moda transportasi umum massal memang menjadi salah satu prioritas Pemkot Surakarta. Sejak mengoperasikan bus Batik Solo Trans (BST) Koridor 1 pada 2010, angkutan umum terus dikembangkan agar pengguna kendaraan pribadi yang melintas di Kota Solo bisa terus ditekan.

Tidak sebatas bus kota yang disulap Pemkot menjadi BST. Angkutan kota (angkuta) pun didesain sebagai kendaraan pengumpan (feeder), agar calon penumpang BST di daerah-daerah pinggiran atau kawasan permukiman bisa menjangkau layanan bus tersebut.

Penataan ulang trayek, peremajaan sebagian kendaraan dan peluncuran operasional feeder pada Maret 2017 menjadi titik awal pembenahan layanan angkutan umum tersebut. Betapa tidak, sejak saat itu sederet standart operational procedure (SOP) wajib ditaati seluruh pengemudi. Mulai dilarang merokok selama mengemudikan angkuta, wajib menutup pintu dan jendela kendaraan, hingga mematuhi jam operasional yang sudah ditetapkan.

Terkini, peningkatan layanan feeder itu kembali dilakukan Pemkot dengan memasang sistem navigasi berupa Global Positioning System (GPS)“Ada 30 feeder baru yang akan dipasangi GPS. Kami sedang mengurus administrasinya, sekaligus mengkaji koridor mana saja yang akan menjadi jalur operasional feeder tersebut,” terang Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Taufiq Muhammad.

Pemasangan alat navigasi itu, menurut Taufiq, penting agar salah satu SOP feeder BST bisa diimplementasikan pengemudi dengan baik. “GPS itu membantu kami untuk mengetahui posisi feeder secara real time. Kalau terbukti pengemudi ngetem terlalu lama di suatu titik atau bahkan keluar dari jalur yang sudah ditetapkan, petugas yang berwenang bisa langsung menegur mereka.”

Waktu ngetem atau berhenti menunggu penumpang ini memang menjadi fokus Pemkot. Sebab hingga kini Pemkot masih kerap menerima aduan dari masyarakat, jika waktu tunggu itu dianggap terlalu lama.

“Waktu jeda feeder antara kendaraan satu dengan lainnya sudah ditetapkan sejak awal. Yaitu 10 menit saat waktu normal dan 5 menit pada jam sibuk. Puncak kepadatan lalu lintas juga sudah dibagi tiga, yakni pagi hari pukul 06.00-08.00, siang hari pukul 13.00-15.00, serta sore hari pukul 16.00-18.00. Jadi sejak awal pengemudi sudah kami batasi waktu ngetem-nya,” tandas Taufiq.

Adanya GPS juga membantu Pemkot mendeteksi kecepatan kendaraan, yang melebihi batas ketentuan. Sebab Pemkot sudah membatasi laju feeder maksimal 40 km/jam. ”Feeder yang berada di luar jalur, misalnya karena dicarter, juga akan ketahuan. Prinsipnya carter angkuta ini dilarang, meskipun kami masih menoleransi carter tersebut di luar jam operasional. Misalnya sore atau malam hari,” imbuh Kepala Dishub Hari Prihatno.

Meski terkesan membatasi ruang gerak dan kebebasan pengemudi, namun pemasangan alat navigasi itu juga bisa berguna bagi mereka. “GPS ini bisa juga membantu pengemudi menemukan alternatif rute perjalanan, kalau situasi di lapangan memang mendesak. Jadi kalau perlu perubahan rute karena pembangunan infrastruktur di Solo misalnya, pengemudi bisa mengantisipasinya dengan baik,” terang Taufiq.

Meski baru dipasang di 30 armada, Pemkot berusaha melengkapi 71 armada lain yang sudah dioperasikan saat ini secara bertahap. “Adanya pembaruan teknologi ini diharapkan bisa menyempurnakan pelayanan tranportasi massal di Kota Solo. Meski pengemudi masih mengeluh sehingga SOP yang sudah disepakati bersama dilanggar, tapi angkutan umum harus bisa menarik kembali minat masyarakat. Makanya transportasi publik yang sudah ada akan dimaksimalkan dulu,” tandas Taufiq. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This