Ajak Siswa Berbudaya, Pemkot Hadiahkan Seperangkat Gamelan

Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo bersalaman dengan penerima hibah gamelan di aula SMP Negeri 4 Surakarta.

Gamelan adalah warisan budaya Jawa yang patut dilestarikan. Pemkot Surakarta pun menyadari sepenuhnya akan hal itu.

Berangkat dari keprihatinan kian pudarnya pamor alat musik tradisional tersebut, Pemkot lantas memilih memasyarakatkan kembali gamelan sejak dini kepada generasi muda. Tidak tanggung-tanggung, caranya adalah membagikan seperangkat gamelan kepada seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri di Kota Bengawan.

Pada 25 Januari 2019, pembagian itu dimulai Pemkot. Adalah SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 26 Surakarta yang beruntung mendapatkan kendang, gong, rebab, siter, bonang dan alat musik lain dalam seperangkat gamelan tersebut.

“Pembagian gamelan ini dimaksudkan agar anak-anak sekarang bisa mencintai lagi gamelan, karawitan, serta budaya asli Indonesia. Sekarang mereka memang agak menjauh dari warisan budaya bangsa,” tegas Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Kedua sekolah tersebut, lanjut Wali Kota, merupakan penerima pertama hibah seperangkat gamelan. Sebelumnya, Pemkot baru membagikan gamelan tersebut kepada kelurahan-kelurahan yang dinilai layak mendapatkannya.

“Tahun besok, ada dua hingga tiga SMP lagi yang mendapatkannya. Kalau dimungkinkan, nanti sesudah pembagian gamelan di seluruh kelurahan selesai, Pemkot akan fokus membagikan gamelan ini di tiap SMP.”

Rudy, demikian Wali Kota akrab disapa berharap, gamelan itu bisa bermanfaat bagi pelajar untuk lebih mengenal budaya tradisional. Menurutnya, Pemkot tak ingin alat musik maupun kesenian tradisional lain hilang tergerus zaman, karena tidak ada lagi yang memahami apalagi melestarikannya. “Jangan sampai anak-anak nanti mainnya gamelan elektronik. Gamelan ya tetap gamelan, yang ditabuh fisiknya. Nabuhnya juga memakai rasa, nggak gaco nuthuk,” tandas dia.

Ekstrakulikuler pun diinstruksikan untuk diselenggarakan oleh pengelola sekolah penerima hibah gamelan tersebut. “Nanti juga bisa digunakan saat mata pelajaran rutin, khususnya kesenian,” terang Rudy.

Ya, meskipun harus merogoh kocek cukup dalam, tekad kuat untuk senantiasa nguri-uri warisan budaya tetap menjadi salah satu prioritas Pemkot. Ditilik dari data Dinas Kebudayaan (Dinbud) pengadaan seperangkat gamelan bagi dua SMP dan tiga kelurahan pada awal 2019 saja sudah menelan anggaran Rp 1,8 miliar. “Tidak apa-apa. Nanti kami siap mencadangkan anggaran Rp 4,5 miliar lagi untuk pengadaan 10 perangkat gamelan tambahan,” tandas Wali Kota.

Jika diakumulasi dengan pembagian pada tahun-tahun sebelumnya, saat ini sudah 19 kelurahan dan dua SMP yang memiliki seperangkat gamelan tersebut. “Kelurahan Sumber sudah ada ketopraknya, jadi gamelan itu bisa sekalian dimanfaatkan. Kelurahan lain kami minta jangan obor blarak, tapi harus terus konsisten melestarikan budaya tradisional ini,” harap Wali Kota.

Kepala Dinbud Kinkin Sultanul Hakim menambahkan, pelestarian gamelan dan kesenian tradisional Jawa itu kian menegaskan pamor Solo sebagai Kota Budaya. Apalagi ia berpendapat, gamelan bukan peninggalan budaya yang sembarangan.

“Saat jazirah Arab menampilkan rebana yang terbuat dari kulit, Eropa khususnya Spanyol menampilkan gitar dalam bentuk kayu dan senar, Nusantara telah mampu menampilkan alat musik dari logam yaitu gamelan. Kalau diartikan, sejak dulu kita adalah bangsa besar yang mampu bertarung di bidang metalurgi, karena dapat membuat seperangkat gamelan ini,” jelas dia.

Apalagi bagi Kinkin, gamelan memiliki daya hidup yang melebihi struktur sosial politik di Indonesia. “Biarpun berganti pemerintahan dan kepemimpinan politik, gamelan tetap ada di hati masyarakat,” tegasnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This