Koridor 1 BST Dioptimalkan, Koridor 4 Segera Dioperasikan

Bus Batik Solo Trans (BST) Koridor 1 berhenti di selter RS DKT untuk menurunkan penumpang.

Bertambahnya jumlah kendaraan pribadi dan merebaknya angkutan umum berbasis daring, menjadi tantangan terbesar bagi pengelolaan moda transportasi massal yang diupayakan Pemkot Surakarta. Meski penataan trayek telah disusun melalui penyediaan koridor-koridor Batik Solo Trans (BST), transportasi umum di Solo belum banyak dilirik masyarakat untuk bepergian. Padahal kemacetan kini terus membayangi sejumlah kawasan Kota Bengawan.

Menyadari hal tersebut, Pemkot memutuskan untuk berbenah. Koridor 1 BST sebagai jalur pionir bus kota terintegrasi itu kini dialihkan pengelolaannya, dari Perum Damri Surakarta kepada PT Bengawan Solo Trans. Perusahaan yang disebut terakhir adalah konsorsium pengelola Koridor 2 dan 3 BST.

“Selama ini Perum Damri mengaku merugi saat mengelola Koridor 1. Selain itu mereka juga enggan mengoperasikan Koridor 4, tanpa subsidi dari Pemkot. Padahal jika dibandingkan dengan PT Bengawan Solo Trans, konsorsium itu bisa menjalankan Koridor 2 dan 3 tanpa hambatan berarti,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Hari Prihatno.

Pemkot berpendapat bahwa Koridor 1 BST masih potensial dikembangkan, lantaran menghubungkan sejumlah fasilitas publik. Seperti Stasiun Solo Purwosari, Bandara Adi Soemarmo, pusat perbelanjaan di kawasan Gladag, hingga terminal bus di Palur dan Kartasura. Pun halnya dengan Koridor 4, yang menghubungkan Terminal Palur dan Kartasura dengan Terminal Tirtonadi.

“Jadi sebenarnya operasional Koridor 1 dan 4 sudah jadi satu paket dan sejak awal kerja sama kami serahkan kepada Perum Damri. Sementara Koridor 2 dan 3 dikelola PT Bengawan Solo Trans. Tapi karena Damri menolak mengoperasikan Koridor 4 tanpa subsidi dan Koridor 1 juga diakui merugi, maka kami memutuskan untuk mengalihkan pengelolaannya kepada PT Bengawan Solo Trans.”

Di bawah manajemen konsorsium gabungan beberapa perusahaan otobus (PO) tersebut, Pemkot berharap Koridor 1 BST bisa dioptimalkan. Salah satunya menyangkut prosedur standar operasional (SOP), di mana waktu jeda antarbus (headway) ditetapkan 8-10 menit.

Selama ini headway jarang terpenuhi, lantaran bus yang dioperasikan Perum Damri adalah bus besar sehingga sulit bermanuver di tengah kemacetan. “Saat ini sudah ada 23 bus medium, yang siap dioperasikan di dua koridor tersebut. Semuanya adalah armada baru, hasil pengadaan tahun 2015, 2016 dan 2017,” papar Hari.

Ya, bagi Pemkot, transportasi umum seperti BST berikut angkutan pengumpan (feeder)-nya merupakan solusi yang tepat bagi kemacetan di Kota Solo. Tak heran layanan BST terus dimaksimalkan, agar perlahan pengguna kendaraan pribadi bisa beralih ke moda transportasi massal.

Gayung pun bersambut. Manajemen PT Bengawan Solo Trans menyanggupi tugas berat tersebut.

“Per Rabu (6/2), kami sudah mengoperasikan tujuh armada di Koridor 1. Secara bertahap jumlah armada akan ditambah menjadi 10 unit dan nantinya 15 unit. Koridor 4 pun akan disiapkan operasionalnya sesegera mungkin,” tegas Direktur Utama PT Bengawan Solo Trans, Farida Wardhatul Jannah.

Perusahaan itu memang butuh waktu untuk menyediakan layanan prima di Koridor 1. Ia mengaku masih butuh merekrut pengemudi dan kru BST, sebelum mengoperasikan 15 bus dan memenuhi SOP yang sudah ditetapkan.

“Untuk sementara tujuh bus itu dijalankan oleh pengemudi cadangan dan supir dari PO anggota konsorsium. Bus-bus itu juga masih harus diurus izin operasionalnya, kepada instansi terkait. Tapi kami upayakan rekrutmen dan pengurusan izin bisa tuntas dalam waktu dekat. Tahun ini juga Koridor 4 bisa beroperasi,” urai dia.

Farida menjamin jika 15 bus sudah dioperasikan di Koridor 1, maka headway yang ditetapkan Pemkot bisa terpenuhi. Dengan demikian calon penumpang tak harus menunggu terlalu lama di selter atau halte.

“Untuk Koridor 4 semua infrastruktur seperti selter juga sudah terpasang. Tinggal menunggu izin operasional armada dan krunya saja,” tegasnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This