Kampung Responsif Gender dan Anak Tipes

Di kelurahan Tipes khusus nya di RW XV yang ditunjuk sebagai Kampung Responsive Gender dan Anak melalui Keputusan Lurah Tipes dan telah tersusun Rencana Kerja Masyarakat yang meliputi :

Sanitasi

Dari hasil identifikasi di Rt 02, Rt 03 dan Rt 05 masih ada beberapa rumah yang tidak mempunyai sapiteng, mereka masih membuang air besar sembarangan, hal ini dikarenakan karena kondisi rumah warga yang masih sangat terbatas.

Rekoemndasi nya adalah akan dibuatkan sapiteng komunal dimana hal ini akan dikomunikasikan dengan dinas terkait untuk membantu proses tersebut, warga akan melakukan pendataan berapa jumlah KK dari tiga RT tersebut yang belum mempunyai sapiteng.

Drainase

Sampai sekarang masih ada drainase yang tidak lancar yaitu di Rt 01 dan Rt 02, sebenarnya ini sudahb diusulkan ke Dinas Pekerjaan Umum melalui program Kotaku, menurut informasi hal ini akan dikerjakan pada tahun 2019, namun perlu mengawal agar program ini berjalan sesuai dengan usulan

Pembangunan Talut

Dibeberapa Rt yaitu Rt 02, Rt 03 dan Rt 05 masih sering terjadi banjir dikarenakan talut yang kurang tinggi, mereka yang rumah nya berada di bantaran sungai sering kali mengalami kebanjiran, bahkan ada beberapa tembok rumah pun yang rusak terkena tekanan air. Kondisi ini sudah pernah dilaporkan tetapi beluma da respon positif dari pemerintah. Rekomendasi nya adalah untuk mengkomuniasikan dengan dinas terkait agar segera di programkan untuk memperbaiki dan meninggikan talut tersebu

Rumah Tidak Layak Huni

Di RW XV Kelurahan Tipes telah di data ada sebanyak 23 Rumah Tidak Layak Huni yaitu di Rt 01 sebanyak 3 rumah, Rt 02 sebanyak 8 rumah, Rt 03 sebanyak 6 rumah, dan Rt 05 sebanyak 6 rumah. Persoalan nya adalah rumah tidak layak huni tersebut adalah rumah kontrakan yang dimiliki oleh seseorang dan di kontrak oleh warga RW XV, sehingga untuk mengusulkan pembangunan rumah tidak layak huni ke dinas permukiman ini mengalami kendala (bukan rumah sendiri).  Rekomendasi nya akan dikomunikasikan dengan pemilik rumah kontrakan dan ke Dinas Permukiman

Posyandu Lansia

Hasil assesmen yang dilakukan bahwa di RW XV jumlah lansia sangat banyak tetapi belum ada program untuk lansia tersebut, Posyandu Lansia belum terbentuk sehingga RW tidak bisa melakukan pemantauan terhadap lansia disana. Rekoemendasi nya adalah mengidentifikasi warga yang bersedia untuk menjadi kader Poyandu Lansia, memberikan peningkatan kapasitas kader tentang posyandu lansia dan kemudian membentuk posyandu lansia.

Bina Keluarga Lansia

Selain lansia itu sendiri, keluarga yang memiliki lansia pun perlu mendapatkan pembinaan, namun di RW XV belum mempunya Kader Bina Keluarga Lansia, hal ini menjadi rekoemndasi untuk menyiapkan kader yang bersedia menjadi pengurus bina keluarga lansia, diberikan kapasitas dan dibentuk bina keluarga lansia. Bina keluarga lansia ini yang nanti nya akan mendampingi keluarga yang mempunyai lansia nya, sehingga untuk para lansia di dampingi oleh posyandu Lansia dan keluarga nya mendapatkan pembinaan dari Bina Keluarga Lansia

Warga Peduli HIV AIDS

Isu HIV AIDS masih menjadi isu utama, kasus HIV AIDS yang terus meningkat tidak diimbangi dengan kesadaran warga masyarakat untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini, hal ini dibutuhkan untuk memberikan pemahaman ke masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan deteksi dini HIV AIDS, di RW XV ini akan diberikan sosialisasi dan masyarakat diberikan kapasitas untuk menjadi Warga Peduli HIV AIDS.

Pembentukan PPT Tingkat RW

Kasus kekerasan dalam rumah tangga di RW XV tercatat ada 2 kasus, tetapi untuk perceraian cukup banyak yaitu sebanyak 12 kasus, hal ini juga tidak lepas dari persoalan KDRT. Selama ini penanganan kasus KDRT hanya berada di level kelurahan saja, dimana di tingkat RW atau Rt belum ada uniit khusus untuk penanganan kasus tersebut, akibatnya banyak kasus yang tidak terlaporkan dan diselesaikan sendiri tanpa mendapatkan pendampingan. Menyingkapi hal tersebut masyarakat merekoemendasikan untuk membuat PPT di Level RW, dimana diharapkan ini akan mendakatkan dengan korban sehingga kasus-kasus di level RW tersebut bisa tertangani dengan baik. Tidak hanya untuk penganan kasus saja diharapkan PPT di Level RW juga akan melakukan pencegahan yang lebih masif, seperti beberapa data kasus yang di ungkap diatas bahwa perlu untuk melakukan sosialisasi tentang pecegahan KDRT di semua masyarat.

Pemberdayaan Karangtaruna

Ada sekitar 30 anggota karang taruna di RW XV, mereka semua perwakilan dari masing-masing RT, pertemuan yang dilakukan rutin setiap dua bulan sekali, kegiatan nya masih sangat terbatas, belum pernah ada sosialisasi tentang isu-isu untuk remaja yang langsung ke mereka. Dalam rencana kerja masyarakat diusulkan untuk memberikan sosialisasi kesehatan reproduksi untuk karang taruna dan sosialisasi tentang bahaya narkoba, hal ini untuk memberikan bekal para remaja untuk menjaga kesehatan dan pergaulan nya sehingga tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif

Pengembangan Ekonomi Masyarakat

Sebagian besar masyarakat di RW XV keluraha tipes adalah bermata pencaharian sebagai penjahit, menjadi penjahit adalah pekerjaan yang sudah turun temurun, hampir setiap rumah mempunya mesin jahit. Saangnya ketrampilan untuk menjahit ini hanya sebatas membuat sarung bantal dan daster saja, dimana upahnya sangat kecil untuk menjahit dua macam tersebut, padahal ini sangat berpotensi untuk meningkatkan peran serta perempuan dalam kesejahteraan keluarga. Untuk itu maka direkoemndasikan untuk memberikan pelatihan ke masyarakat yaitu pelatihan membuat Pola Jahit Baju dan Celana, pelatihan ini dilaksanakan dua tahap. Selaihn pelatihan tersebut juga dikembangkan pelatihan untuk merajut dan memasak. Diharapkan dengan ada pelatihan ini maka mereka bisa berkontribusi untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This