SICF 2019, Menyemai Mimpi Destinasi Wisata Gastronomi

Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta, Achmad Purnomo, melakukan prosesi pembukaan Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) 2019 di Benteng Vastenburg, Kamis (4/4).

Solo adalah surga bagi penggemar kuliner yang seolah dimanjakan dengan beragam menu makanan tradisional di berbagai sudut Kota Bengawan. Sebutlah tengkleng, sate buntel, selat, hingga nasi liwet, untuk menyebut beberapa menu kuliner yang banyak diburu wisatawan.

Pemkot Surakarta pun menyadari sepenuhnya potensi wisata berbasis kuliner tersebut. Demi meraup pendapatan asli daerah (PAD) yang berimbas terhadap peningkatan kesejahteraan warga dan pelaku bisnis kuliner, potensi-potensi itu dipromosikan dan dikemas menarik dalam event tahunan yakni Solo Indonesia Culinary Festival (SICF).

“Makanan dan minuman khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Surakarta. Berbagai makanan khas itu akan mampu menggugah selera dengan berbagai sajian yang memperhatikan harmonisasi rasa, seperti tengkleng atau tahu kupat,” kata Wakil Wali Kota (Wawali) Achmad Purnomo saat membuka SICF 2019 di Benteng Vastenburg, Kamis (4/4).

Mengangkat tema Heritage, SICF 2019 pun memilih timlo dan sosis basah sebagai menu andalan untuk dipopulerkan kepada pengunjung. Alasannya jelas, kedua menu tersebut merupakan makanan otentik Kota Solo.

“Timlo itu sejenis sup yang cuma ada di Solo. Juga sosis basah. Tidak bisa ditemukan di kota-kota lain, seperti Bandung, Jakarta, Makassar atau Semarang,” tegas Ketua Panitia SICF 2019, Daryono.

Ditetapkannya Solo sebagai destinasi wisata kuliner nomor wahid oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada 2015, lanjut dia, kian menggenjot semangat pemangku kepentingan terkait untuk mempopulerkan makanan dan minuman tradisional Kota Bengawan tersebut. Dalam rangka itu pula, SICF 2019 digelar di Vastenburg mulai 4-7 April.

“Kami akan membagikan 7.000 porsi timlo, sosis dan tengkleng kepada pengunjung, selama empat hari pelaksanaan kegiatan. Tengkleng memang masih kami sajikan seperti halnya SICF sebelumnya, karena ini adalah ikon kuliner Solo yang paling terkenal di mata wisatawan.”

Daryono berpendapat, SICF 2019 merupakan momentum tepat untuk merintis wisata gastronomi di Solo. Merujuk definisi Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), wisata gastronomi adalah sebuah perjalanan yang berhubungan dengan makanan ke suatu daerah dengan tujuan rekreasi. Singkatnya, kuliner tidak sekadar bahan konsumsi melainkan menjadi sifat atau atribut yang berhubungan dengan pariwisata.

“Kita punya Pasar Gede, di mana di sana terdapat bahan makanan tradisional, penjual yang memasak bahan-bahan itu, hingga menyajikannya kepada para pembeli. Jika dikemas dengan menarik, tentu ini bisa menjadi paket wisata baru yang memiliki daya tarik tersendiri,” terang dia.

Mungkin mimpi ini cukup realistis. Apalagi wisata kuliner di Solo memang tidak main-main, karena terbukti menyumbang PAD Pemkot tidak sedikit.

“Data Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPPKAD) menunjukkan, pajak hotel dan restoran tahun lalu berkisar Rp 52 miliar. Dari jumlah itu, Rp 32 miliar berasal dari kuliner. Baik kuliner di restoran hotel maupun di luar hotel,” terang Daryono.

Alhasil, mulai tahun ini SICF menggencarkan promosi ke luar kota untuk menarik minat pengunjung. Panitia sengaja memanfaatkan operasional berbagai ruas jalan tol baru, guna menjaring penikmat kuliner dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Kami targetkan tahun ini SICF bisa dikunjungi 30.000 orang, dengan total transaksi Rp 3 miliar,” tegas Daryono.

Deputi Pemasaran Otorita Borobudur, Agus Rochiyardi, berharap bahwa SICF kian mempopulerkan potensi kuliner Kota Solo. “Cara paling cepat, efektif dan halis untuk mempopulerkan suatu tempat ke pasar global adalah penggunaan simbol budaya. Orang belum pergi ke Jepang, namun sudah mengenal ramen, sushi maupun bento. Demikian juga orang sudah mengenal pizza dan pasta, meski belum pernah ke Italia,” kata dia saat membuka SICF 2019.

Ia pun mengamini besarnya potensi pendapatan dari urusan makan tersebut. “Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menunjukkan, tahun 2016 kuliner sudah berkontribusi sebesar Rp 382 triliun dari produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 923 triliun. Setara dengan 41 persen.” (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This