Revitalisasi Pasar Jebres Wujud Nyata Perlindungan Pasar Tradisional

Publik bisa saja tak percaya tatkala melihat kondisi Pasar Jebres saat ini. Kesan kumuh dan tak terawat yang pernah melekat, kini lenyap seiring bergantinya fasade bangunan pasar tersebut.

Diresmikan penggunaannya oleh Pemkot Surakarta, Kamis (11/4), bangunan pasar di seberang Stasiun Solo Jebres itu memang terlihat megah. Berbagai fasilitas pendukung, mulai los dan kios, ruang laktasi, ruang kesehatan hingga ruang tera pun tersedia di pasar tersebut.

Semua penampakan wah itu merupakan buah manis revitalisasi Pasar Jebres, yang dikerjakan Pemkot secara bertahap sejak 2018. “Pasar Jebres ini mulai dibangun untuk pertama kali tahun 1985. Sampai tahun 2017 belum pernah tersentuh perbaikan total. Makanya tidak mengherankan jika kondisi awalnya becek, kumuh, kotor, banyak tikus maupun kecoa,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan Subagiyo, saat prosesi peresmian di halaman pasar.

Tekad Pemkot untuk merevitalisasi Pasar Jebres pun mulai direalisasikan tahun lalu. Berbekal hibah Pemprov Jateng sebesar Rp 13 miliar dan APBD sebesar Rp 5,561 miliar, konstruksi utama bangunan pun berhasil diwujudkan pada pengujung 2018. “Tahun ini kami fokus terhadap finishing dengan dana APBD. Nilai kontraknya sekitar Rp 3,9 miliar.”

Alhasil, kini ratusan pedagang yang selama ini mengais rezeki di Pasar Jebres bisa lebih nyaman berjualan tanpa terganggu buruknya sarana dan prasarana yang tersedia. Pengunjung pun dapat leluasa memilih dagangan, lantaran Pemkot memberlakukan zonasi berdasarkan jenis-jenis komoditas yang diperjualbelikan.

“Ini adalah pasar ke-32 yang kami revitalisasi sejak beberapa tahun terakhir. Kami tidak ingin pasar tradisional seperti Pasar Jebres, kalah bersaing dengan pasar modern di sekitarnya,” tandas Subagiyo.

Rencana pengembangan pasar agar selaras dengan kawasan Stasiun Solo Jebres yang menjadi bangunan cagar budaya, pun segera direalisasikan Pemkot. Betapapun, letak pasar dan stasiun yang hanya terpisah Jalan Prof Yohanes menjadikan Pasar Jebres begitu strategis. Sebab pasar tersebut berpotensi dilirik warga luar Solo, terkhusus penumpang kereta api yang turun di Stasiun Solo Jebres.

“Sederetan kios di bagian depan pasar akan kami khususkan sebagai lokasi penjualan buah tangan khas Solo. Kalau dari segi fisik, desain bangunan Pasar Jebres sejak awal sudah diselaraskan dengan bangunan stasiun. Jadi kelihatan menyatu dengan kawasan setempat,” urai Subagiyo.

Wakil Wali Kota (Wawali) Achmad Purnomo ikut menegaskan komitmen perlindungan pasar tradisional dan ekonomi kerakyatan yang dimiliki Pemkot. “Revitalisasi Pasar Jebres ini membuktikan, bahwa Pemkot sepenuh hati membangun dan merenovasi pasar tradisional di Kota Surakarta,” tandasnya.

Wawali bahkan meyakinkan, hasil revitalisasi Pasar Jebres memperlihatkan bangunan pasar itu tidak kalah dengan mal. “Untuk itu kami tak pernah lelah mengingatkan, agar masyarakat terus berbelanja di pasar tradisional. Karena pasar tradisional adalah jantung perekonomian Kota Surakarta,” terang Purnomo.

Wali Kota FX Hadi Rudyatmo pun melambungkan harapan agar Pasar Jebres dan pasar tradisional lain lebih eksis dan memiliki nilai tawar yang tinggi di era persaingan terbuka saat ini. “Bangunan pasar tradisional saat ini sudah banyak yang bersih dan megah. Tidak kalah dengan ritel modern. Slogan Rerajut Ati harus bisa mempengaruhi masyarakat untuk terus berbelanja, merawat dan melestarikan pasar tradisional di Kota Surakarta,” terang Wali Kota dalam sambutan tertulis yang dibacakan saat peresmian Pasar Jebres. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This