Siapkan Pembangunan RSUD Baru, Lahan Bong Mojo Dikosongkan

Tekad Pemkot Surakarta mendirikan rumah sakit umum daerah (RSUD) tambahan, usai RSUD Bung Karno Semanggi beroperasi, ternyata sudah bulat. Upaya pemerataan layanan kesehatan di tiap kecamatan Kota Bengawan, tidak lagi bisa ditawar.

Tahap awal pendirian RSUD, berupa pemetaan lahan yang akan dijadikan lokasi rumah sakit,  pun telah dimulai Pemkot. Tahap ini sangat krusial, mengingat terbatasnya lahan kosong nan representatif untuk keperluan tersebut. Penyebabnya jelas, kota seluas 44 km persegi ini kian sesak dijejali penduduk.

Tak habis akal, lahan Bong Mojo pun dilirik Pemkot. Sejak 2017, rencana pemanfaatan lahan makam etnis Tionghoa tersebut memang sudah mengemuka. Apalagi sebagian tanah di kompleks pemakaman itu telah dijarah warga, untuk didirikan hunian atau bangunan lain.

Kini, rencana pemanfaatan lahan Bong Mojo mulai direalisasikan bertahap. Ratusan makam menjadi sasaran relokasi ke tempat pemakaman umum (TPU) lain yang dikelola Pemkot.

“Kami sudah menyosialisasikan rencana pemindahan itu dengan melibatkan pengelola rumah duka, pengurus komunitas Tionghoa, kelurahan dan kecamatan. Para ahli waris diberi kesempatan untuk menghubungi kami terkait pemindahan badan keluarga mereka sampai 30 Agustus 2019,” ungkap Kepala Seksi (Kasi) Pemakaman Umum Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Sawaras Budi Kusuma.

Badan adalah istilah yang digunakan Pemkot guna menyebut jenazah yang dikebumikan di sebuah makam. Pemindahan makam itu, imbuh Sawaras, menjadi dari pengosongan Bong Mojo, guna mendukung pembangunan RSUD di wilayah Jebres.

“Kami sudah menyiapkan TPU Daksinalaya dan TPU Purwalaya, sebagai lokasi penampungan badan yang direlokasi dari Bong Mojo.”

Merujuk hasil pendataan terakhir, di lahan yang disiapkan sebagai lokasi pembangunan rumah sakit itu terdapat tak kurang 300 makam. Lahan calon RSUD itu berada di sisi timur Bong Mojo. Luasnya sekitar 1,6 hektare.

“Itu data tahun 2014. Saat ini kami juga sedang mendata ulang makam di sana, untuk update data. Bisa jadi ada ahli waris yang sudah memindahkan makam keluarganya ke tempat lain, sebelum sosialisasi,” tutur Sawaras.

Piranti-piranti pendukung sosialisasi sudah dipasang Pemkot di berbagai lokasi, seperti Rumah Duka Tiong Thing, Kantor Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), maupun beberapa titik Bong Mojo. “Sosialisasi maupun pendaftaran pemindahan makam ini kami buka sampai Agustus. Harapannya, sesudah 31 Agustus tidak ada lagi makam yang tidak diketahui ahli warisnya. Tanggal 1 September pembongkaran dan pemindahan makam sudah bisa dimulai,” beber Sawarsa.

Akhir 2019 merupakan target relokasi makam yang dipatok Pemkot. Pemindahan makam ke TPU Daksinalaya dan Purwalaya dijamin gratis, dengan anggaran APBD. “Kami tetap mempersilakan ahli waris yang ingin memindahkan makam keluarganya ke lokasi lain. Namun saat ini belum diputuskan apakah ada kompensasinya atau tidak. Yang jelas, pembongkaran makamnya tetap kami bantu,” tegas dia.

Wali Kota FX Hadi Rudyatmo mengamini rencana relokasi makam Bong Mojo itu. “Yang saya tahu, sebagian ahli waris bersedia membongkar dan memindahkan makam keluarga mereka secara swadaya. Rata-rata ke Delingan, Kabupaten Karanganyar. Mungkin mereka belum berkoordinasi saja dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,” jelas Rudy, sapaan akrab orang nomor satu di Kota Solo ini.

Rudy menambahkan, pembangunan RSUD di lahan Bong Mojo dirasa vital untuk pemerataan layanan kesehatan di Kota Bengawan. Wali Kota menyebut, Solo masih membutuhkan tambahan rumah sakit tipe C, sekalipun telah mengoperasikan RSUD Surakarta di Kecamatan Banjarsari dan segera mengoperasikan RSUD Bung Karno di Kecamatan Pasarkliwon.
“Tahun ini kami usahakan pengosongan lahan makamnya selesai dulu. Kalau bisa sekalian disusun detail engineering design (DED) pembangunan RSUD-nya,” tegas Rudy. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This