Libur Lebaran, Solo Ramah Bagi Pemudik dan Wisatawan

Lebaran sebentar lagi. Momentum Idul Fitri kerap menjadi waktu terbaik bagi khalayak, untuk bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga. Tidak ketinggalan, berlibur bersama demi melewatkan masa liburan.

Pemkot Surakarta pun berbenah, guna menyambut “para tamu” tersebut. Mereka adalah pemudik dan wisatawan dari berbagai kota, yang hendak menghabiskan libur Lebaran di Kota Bengawan.

Kesiapan Pemkot pun ditunjukkan dalam apel kesiapan Lebaran di halaman Balai Kota Surakarta, pada 24 Mei. Diikuti 434 personel dari berbagai instansi terkait, yakni Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, Dinas Kesehatan Kota (DKK), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), serta Asosiasi Parkir Surakarta (Asparta), kegiatan tersebut membuktikan berbagai jajaran sanggup mewujudkan Solo yang ramah bagi pemudik maupun wisatawan.

Soal rest area misalnya. Wali Kota FX Hadi Rudyatmo berjanji untuk melengkapi fasilitas tempat rehat bagi pemudik itu dengan air wudhu dan alat pemadam api ringan (Apar). “Selama ini rest area baru dilengkapi alat kesehatan dan obat-obatan. Belum ada air wudhu, padahal di sana biasanya sering ada toilet portabel. Nanti akan disediakan mobil tangki yang dimodifikasi untuk menyuplai air wudhu, sehingga rest area tidak hanya menjadi tempat istirahat melainkan juga lokasi ibadah,” urai dia.

Dishub pun diminta menambah rest area, yang sedianya didirikan di tiga titik. Yakni Jurug, Jalan Adisucipto dan Palang Joglo. “Di sekitar Tanjung Anom juga perlu dibangun, untuk mengakomodasi pemudik dari arah selatan yaitu Sukoharjo dan Wonogiri.”

Soal kuliner pun demikian. Betapapun Solo sudah terkenal sebagai surga bagi aktivitas keplek ilat. “Kami minta Dinas Perdagangan menyosialisasikan kepada pedagang di sentra kuliner, mulai New Gladag Langen Bogan (Galabo), Kottabarat, Pucangsawit, dan selter-selter pedagang kaki lima (PKL), untuk menjaga kebersihan,” tegas Rudy, sapaan akrab orang nomor satu di Solo ini.

Soal harga menu juga tak kalah penting. “Jangan sampai ada istilah ‘kalkulator rusak’.”

Bahkan saking ramahnya, Pemkot pun menoleransi aktivitas PKL hingga pelanggaran aturan perparkiran. “Kami minta petugas Satpol PP dan Linmas untuk menghentikan sementara penertiban PKL. Nanti setelah Lebaran silakan dilanjutkan kembali,”

PKL yang berjualan di trotoar, imbuh Rudy, tetap diizinkan selama libur Lebaran mendatang. “Asal tidak di trotoar depan Balai Kota atau aktivitasnya mengganggu arus lalu lintas.”

Pun halnya dengan pelanggar aturan parkir. Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) diminta untuk tidak langsung menggembok kendaraan pelanggar.

“Diberikan teguran dulu saja atau ditunggu beberapa saat, sampai pemiliknya memindahkan kendaraan. Kalau masih tetap nekat, silakan digembok. Lokasi rawan pelanggaran juga harus terus diawasi petugas,” tandasnya.

Menurut Rudy, dispensasi itu diberikan guna memberikan kenyamanan warga, pemudik maupun wisatawan. “Jangan sampai timbul persepsi buruk dari masyarakat. Sebab sebagus apapun kita bekerja, pasti tidak bisa diterima oleh semua orang,” terang Wali Kota.

Meski demikian, aturan tetaplah aturan. Kelonggaran tersebut tidak berarti membuat khalayak seenaknya. “Kami tetap mengimbau pengendara tidak parkir di lokasi larangan parkir. Dispensasi itu hanya tidak menggembok langsung, melainkan memberikan peringatan lisan sebanyak tiga kali. Kalau tidak diindahkan, ya tetap akan kami gembok,” kata Kabid Perparkiran Dishub, M Usman.

Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Satpol PP, Agus Sis Wuryanto, menandaskan hal senada. Menurut dia, PKL diizinkan berjualan di trotoar mulai pukul 17.00 hingga pukul 05.00.

”Yang penting tetap tertib, datang bersih pergi bersih dan tidak kumuh. Tidak boleh sampai meluber ke bahu jalan karena membahayakan pengguna jalan,” terang dia. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This