Penutupan Kali Pepe Tandai Pembangunan Pintu Air Baru

Alat berat meratakan tanah di lokasi proyek pembangunan pintu air baru di selatan Pintu Air Demangan.

Setahap demi setahap, ikhtiar Pemkot Surakarta membebaskan Kota Solo dari ancaman banjir tahunan akibat luapan Bengawan Solo terus berbuah manis. Usai dinding penahan limpasan air sungai (parapet) berhasil didirikan di tepian sungai, kini koordinasi intensif soal pembangunan pintu air baru pengganti Pintu Air Demangan mulai terlihat hasilnya.

Tahap pertama pendirian pintu air di hilir Kali Pepe yang berbatasan langsung dengan Bengawan Solo, mulai direalisasikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Tumpukan material, sejumlah alat berat, hingga berbagai aktivitas pekerja proyek bisa disaksikan siapapun yang melintas di sekitar Kali Pepe wilayah Sewu dan Sangkrah.

Menurunnya debit air Kali Pepe, menjadikan tahap awal pembangunan pintu air tersebut relatif lancar. Penutupan aliran air di bagian ujung sungai yang membelah Kota Solo itu, seolah menjadi penanda kasat mata realisasi rencana pembangunan pintu air pengganti Pintu Air Demangan, yang dimimpikan Pemkot sejak beberapa tahun lalu itu.

“Alur Kali Pepe yang lama memang harus ditutup dulu, agar pembangunan pintu air bisa dimulai,” ungkap Kepala Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Andri Rachmanto Wibowo.

Meski ditutup dengan urukan pasir, air yang mengalir dari hulu Kali Pepe tetap bisa bermuara ke Bengawan Solo. BBWSBS memilih memindahkan aliran air itu melalui kontainer-kontainer, yang berfungsi sebagai terowongan pengelak.

Sambungan kontainer-kontainer itu juga diperkuat timbunan tanah, membran biotekstil serta pasir dan batu (sirtu). “Jadi terowongan dan tanah di sekitarnya bisa dipadatkan, sehingga kuat menahan arus air saat terjadi banjir. Berbagai alat berat dan material proyek juga sudah tiba di lokasi. Eskavator sudah datang, crane, turap (sheet pile) besi dan beton juga mulai dipasang,” beber Andri.

Pendirian bangunan pengendali banjir yang berjarak sekitar 500 meter dari Pintu Air Demangan itu, memang direalisasikan bertahap menyesuaikan ketersediaan anggaran dari pemerintah pusat. Merujuk laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), tahap pertama proyek tersebut didanai APBN, dengan nilai kontrak sekitar 41,7 miliar. Adapun pekerjaan baru dikonsentrasi kepada pendirian konstruksi pintu air.

“Konstruksi pintu air ditargetkan selesai dibangun pada Desember 2019,” kata Kepala BBWSBS, Charisal A Manu.

Rencananya dalam tahap kedua, pekerjaan baru menyentuh pemasangan sistem mekanikal elektrikal pendukung operasional pintu air. Misalnya pembangunan mekanikal pompa, genset, kabel daya dan pemasangan terminal, serta saringan sampah. “Seluruh pekerjaan ditargetkan selesai akhir 2020.”

Charisal menjelaskan, berdasarkan desain engginering design (DED) yang disusun, pintu air baru itu bakal dilengkapi pompa berkapasitas 12,5 meter kubik per detik. Pengendali elevasi air pengganti Pintu Air Demangan tersebut rencananya juga dilengkapi fasilitas penyaring sampah (trash rack) yang ditempatkan di depan intake pompa.

Pelaksanaan proyek juga dijanjikan tetap memperhatikan lingkungan sekitar. Dalam laman resmi BBWSBS, Charisal mengatakan bahwa lokasi pembangunan pintu air merupakan wilayah dengan tantangan sosial yang tinggi. “Oleh karena itu kita semua harus peka terhadap kondisi sosial yang ada di sana,” tegas dia.

Charisal pun mengamini pentingnya keberadaan pintu air baru pengganti Pintu Air Demangan, guna mengendalikan ancaman banjir bandang di tepian Kali Pepe akibat luapan Bengawan Solo. Terlebih ia menilai, usia Pintu Air Demangan telah uzur.

“Umur ekonomis pintu air itu 25-50 tahun. Tapi Pintu Air Demangan sudah lebih dari 100 tahun,” tandasnya.

Kini, khalayak tinggal menanti tetenger baru di tepi Bengawan Solo pada akhir tahun nanti. Yakni bangunan pintu air di muara Kali Pepe yang berbatasan dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.

Jika pertanyaan terkait nasib Pintu Air Demangan pascaoperasional pintu air baru tersebut menggantungi benak publik, Pemkot Surakarta telah punya jawabannya.

“Nanti Pintu Air Demangan dialihkan sebagai pintu air cadangan. Tidak akan dirobohkan karena itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya,” kata Wali Kota FX Hadi Rudyatmo. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This