Lavataro Atasi Masalah Lahan Parkir

Lahan kota adalah entitas yang tetap, namun jumlah kendaraan bermotor warga terus bergerak progresif. Tak ayal hal ini menimbulkan masalah, baik itu masalah kemacetan di jalan raya maupun di ruang-ruang parkir. Hal ini membuat Pemerintah Kota Surakarta terus berinovasi supaya dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Jumat (28/6) lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta secara resmi meluncurkan jasa parkir valet di Pasar Singosaren dan Pasar Klewer, tepatnya di halaman Pasar Singosaren. Diharapkan, dengan adanya layanan parkir valet yang diberi nama Lavataro (Layanan Valet Parkir Pasar Tradisional) dapat menyelesaikan masalah minimnya lahan parkir di Kota Surakarta.

Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo mengatakan minimnya lahan parkir menjadi persoalan yang kini dihadapi Pemkot Surakarta. Untuk diketahui, kota Surakarta ini hanya memiliki luas 44,03 Km2, jumlah penduduk pada siang hari mencapai 2,5 juta jiwa sedangkan pada malam hari hanya 560.000. Kemudian untuk jumlah kendaraan pribadi di kota ini mencapai 747.000 unit. “Untuk itulah keberadaan layanan valet sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah minimnya lahan parkir,” jelas Rudy.

Lebih lanjut, Rudy menegaskan jasa valet parkir ini harus mengutamakan kepercayaan pelanggan. Itulah alasan sangat dibutuhkan kejujuran dari para petugas parkirnya. Menurutnya, kepercayaan inilah yang akan mempengaruhi tingkat keramaian dari pengguna jasa valet parkir tersebut.

“Kepercayaan itu penting, jadi mereka harus jujur. Karena saat pelanggan menggunakan jasa ini, kunci motor dibawa petugas. Jadi jangan sampai ada petugas tidak jujur. Untuk itu saya minta agar petugas parkir nanti digaji oleh Pemkot,” ujarnya.

Untuk petugas jasa valet parkir Lavataro ini ada beberapa personel. Nantinya, lanjut Rudy ada satu petugas yang bertugas memarkirkan kendaraan bermotor, lalu satu lagi bertugas memarkirkan mobil dan satu lagi sebagai koordinatornya. Dengan digaji dari pemerintah, saya berharap ini memotivasi mereka untuk bisa bekerja maksimal dan jujur.

“Petugas yang memarkirkan mobil dan kendaraan bermotor harus memiliki kemampuan yang bagus. Petugas yang memarkir mobil harus bisa mengendarai mobil manual dan matic. Jadi perlu ikut pelatihan dulu. Lalu kalau mereka hanya mengandalkan setoran dan tips, mereka tidak akan semangat. Jadi baiknya mereka digaji rata-rata senilai UMR, dan statusnya bisa tenaga kontrak dengan perjanjian kerja (TKPK). Dengan ini tanggung jawab mereka ke pemerintah bukan pihak ketiga,” jelas Rudy.

Sementara itu, Project Leader Lavataro, Muhammad Usman, menjelaskan dengan menggunakan jasa Lavataro, kendaraan atau mobil dari pelanggan akan diparkirkan oleh petugas. Prosesnya, pelanggan datang counter Lavataro, kemudian akan ada yang mencatat plat nomor dan pelanggan menyerahkan kunci, lalu akan ada petugas yang kemudian memarkirkan kendaraan mereka.

“Nanti ada empat petugas, mereka petugas parkir, pengemudi, penjaga parkir, dan koordinator. Dalam kerjanya, para petugas ini akan dilengkapi dengan HT (handie talkie) untuk berkomunikasi satu sama lain.” kata dia.

Usman berharap layanan baru ini bisa memaksimalkan ruang parkir lantai atas Pasar Singosaren yang selama ini sepi. Untuk diketahui, lahan parkir di Pasar Singosaren bisa menampung 80 mobil dan 1.500 sepeda motor.

“Ke depan kami akan mengaplikasikan sejumlah pelayanan seperti penggunaan karcis parkir elektronik. Ini untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, terlebih target pendapatan asli daerah (PAD) dari perparkiran ditingkatkan dari semula Rp 3,7 miliar pada 2018 dinaikkan jadi Rp 4 miliar tahun ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This