Pagelaran Festival Ketoprak ke-9

Sabtu (7/7/2019) bertempat di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Penerintah Kota Surakarta menyelenggarakan Festival Ketoprak tahun 2019. Telah memasuki tahun ke-9, festival kali ini mengangkat tema “Ndudhah Surakarta” dan diikuti oleh perwakilan dari masing-masing kecamatan yang ada di Kota Surakarta.

Hadir pula Walikota Surakarta, Sekretaris Daerah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan ISI Surakarta, dan tidak lupa masyarakat yang antusias untuk menyaksikan festival ketoprak.

Makna dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kinkin Sultanul Hakim. Beliau menyampaikan bahwa tema Ndhudhah Surakarta berisikan perjalanan panjang sejarah Kota Surakarta itu dimulai dengan sebuah keberhasilan dan kegagalan karena sejarah tidak hanya bercerita tentang keberhasilan tetapi juga kegagalan. “Berdirinya Benteng Vastenburg, Keraton Surakarta adalah wujud dari sejarah yang bercerita tentang kegagalan yang tentunya akan kita pakai untuk menghadapi masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Solo sebagai kota budaya merupakan aset yang luar biasa guna mendukung kota kreatif dunia di bidang seni pertunjukan serta menumbuhkembangkan potensi budaya yang ada di Kota Surakarta.

“Jadi kebudayaan ketoprak adalah kesenian yang paling fleksibel, mudah diinovasi baik dari sisi panggung, garapan seni, pencahayaan dan sebagainya. Oleh karena itu kegiatan ini diharapkan meningkatkan kualitas dari performance yang akan dimainkan,” terang Kinkin.

Peserta diikuti dari 5 kecamatan dengan memerankan lakon yang berbeda, Kecamatan Jebres dengan lakon Geger Pecinan, Kecamatan Laweyan dengan lakon Bedhah Kartosura, Kecamatan Serengan dengan lakon Boyong Kedhaton, Kecamatan Pasar Kliwon dengan lakon Perjanjian Giyanti, Kecamatan Banjarsari dengan lakon Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo.

Pada kesempatan ini pula, Walikota Surakarta FX. Hadi Rudyatmo menegaskan bahwa ketoprak bukanlah mitos. Melainkan guna membuka mata hati dalam rangka nguri-uri budaya dan kesenian Kota Surakarta yang penuh dengan sejarah luar biasa.

“Wayang orang dan ketoprak itu bukan mitos, melainkan mengandung sejarah bangsa Indonesia, sebelum merdeka wayang orang dan ketoprak sudah ada. Marilah bersama mewujudkan solo sebagai kota budaya dengan masyarakat yang waras, wasis, wareg, mapan dan papan. Semoga yang berubah hanyalah waktu bukan pandangan kita dalam menyikapi seni dan budaya bangsa indonesia,” terang Walikota.

Untuk memulai festival ketoprak ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Walikota Surakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This