Solo Menyapu, Simbol Perbaikan Kinerja Birokrasi

Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo menyapu kawasan Pasar Gede, saat berlangsung Solo Menyapu 2019

Birokrasi yang bersih dan profesional merupakan dambaan masyarakat, lantaran mampu menyediakan pelayanan publik nan prima. Sadar akan hal tersebut, Pemkot Surakarta terus bertekad memperbaiki kinerja jajaran birokrasinya.

Tidak terhitung upaya Pemkot untuk mewujudkan perbaikan tersebut. Betapapun, birokrasi yang bersih dan profesional harus terus dikontrol agar kinerja mereka memuaskan sesuai harapan.

Melalui aksi Solo Menyapu yang digelar Jumat (12/7), pentingnya agar birokrasi berbenah pun kembali disuarakan. Meski dibalut dengan kegiatan kerja bakti massal, Solo Menyapu sejatinya ingin menyebarkan semangat pembaruan kepada para aparatur sipil negara (ASN), agar mereka bekerja sebagaimana harapan publik.

”Sapu itu singkatan dari Saya Adalah Pelayan Ulung. Jadi melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh ASN untuk bisa menjadi pelayan yang baik,” ungkap Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, di sela-sela kerja bakti.

Wali Kota yang akrab disapa warganya dengan nama Rudy ini menambahkan, pelayan yang baik perlu ditandai dengan aksi nyata dan bukti kinerja. Akronim Sapu itu adalah salah satu slogan pengingat mereka, demi mewujudkan perbaikan kinerja tersebut.

”Secara umum pelayanan publik hingga tingkat kelurahan sudah cukup bagus, meskipun ada hal-hal yang masih perlu ditingkatkan. Laporan keuangan Pemkot juga sudah mendapatkan predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) sebanyak sembilan kali berturut-turut.”

Pun halnya dengan sistem manajerial maupun pengawasan yang selama ini diterapkan Pemkot. Wali Kota menyebut, penghapusan pungutan liar (pungli), peniadaan potensi penyimpangan anggaran, hingga penataan sistem administrasi birokrasi, merupakan buah dari upaya-upaya pembenahan tersebut.

”Jadi filosofi Sapu inilah yang harus terpatri dalam diri masing-masing ASN, agar mereka bisa bekerja lebih baik lagi,” tandas Rudy.

Jika dirunut, kerja bakti massal penuh makna ini selalu dilangsungkan Pemkot sejak 2012. Bahkan demi mematrikan semangat pembaruan kinerja ASN itu, tanggal 8 Juni telah ditetapkan Pemkot sebagai Hari Solo Menyapu.

Tidak sebatas mengerahkan ribuan ASN, yang menjadi sasaran utama aksi tersebut, Pemkot juga selalu melibatkan sejumlah pemangku kepentingan terkait setiap tahunnya. Mulai aparat TNI/Polri hingga perwakilan organisasi masyarakat. Sebab bagaimanapun juga, perbaikan kinerja birokrasi perlu didorong seluas-luasnya oleh sebanyak mungkin pihak.

Tahun-tahun sebelumnya, Pemkot juga selalu menyelenggarakan lomba Senam Solo Menyapu. Ya, senam itu merupakan pembeda Solo Menyapu dengan aksi kerja bakti massal lain. Lomba itu pun dimaksudkan untuk mempopulerkan gerakan pembersihan kinerja birokrasi, dari pungli, korupsi maupun aksi tak terpuji lainnya.

”Tapi untuk tahun ini, lomba senam terpaksa ditiadakan karena waktunya tidak memungkinkan. Pelaksanaan Solo Menyapu juga harus diundur dari jadwal semula, yakni 8 Juni, karena hari itu bertepatan dengan cuti bersama Lebaran,” aku Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sri Wardhani Poerbowidjojo.

Pun begitu, makna kegiatan tetap tersampaikan. Saat Solo Menyapu 2019 berlangsung, ribuan peserta tetap bekerja bakti membersihkan sejumlah kawasan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Kolonel Sutarto dengan penuh semangat. ”Solo Menyapu diawali dengan apel bersama di lima titik yang berbeda.”

Bahkan secara tidak langsung, melalui Solo Menyapu Pemkot juga kembali mengajari para peserta dan khalayak tentang perilaku bijak dalam hidup bermasyarakat. Yakni budaya hidup gotong-royong, rasa memiliki, menjaga, merawat, dan mengamankan Kota Solo beserta isinya.

”Kami harap bersih-bersih kota tidak hanya dilakukan saat hari-hari tertentu saja. Sebab kebersihan pada dasarnya adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Wardhani. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This