Pasar Legi, Pasar Sadar Proteksi

Sejumlah pekerja nampak bekerja membongkar puing sisa bangunan Pasar Legi dengan peralatannya.

Kebakaran yang melanda Pasar Legi pada akhir Oktober 2018, menjadi pelajaran berharga bagi para pengambil kebijakan. Apalagi amukan si jago merah terbukti mampu mendatangkan kerugian bagi ribuan pedagang, serta menghentikan aktivitas ekonomi di lokasi tersebut.

Padahal siapapun tahu, Pasar Legi merupakan pasar induk penyedia barang-barang kebutuhan pokok. Tidak hanya bagi Kota Solo, pasar tersebut juga menyangga kegiatan jual beli di sejumlah wilayah eks Karesidenan Surakarta.

Berangkat dari kenangan pahit itu, Pemkot pun memutuskan untuk membangun ulang Pasar Legi sebaik-baiknya. Usai mendapatkan jaminan alokasi dana pemerintah pusat, saat ini Pemkot tengah menyusun perencanaan teknis bagi pelaksanaan revitalisasi Pasar Legi.

Pemerintah pusat selaku penyedia anggaran pun tak tinggal diam. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) langsung mendampingi Pemkot dalam menyusun perencanaan. Prinsipnya, Pasar Legi nantinya harus sesuai standar teknis bangunan yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Salah satu syarat teknis itu adalah sistem proteksi kebakaran, guna mencegah atau mengantisipasi kebakaran pada masa mendatang,” tandas Kepala Pusat Pengembangan Sarana Prasarana Pendidikan Olahraga dan Pasar Kemenpupera, Iwan Supriyanto.

Iwan pun merinci sistem proteksi kebakaran yang dimaksudnya. Sistem proteksi tersebut dibaginya menjadi dua kategori, yakni pasif dan aktif.

“Sistem proteksi kebakaran pasif berupa pencegahan dini kebakaran, misalnya kelengkapan water sprinkler systemsmoke detector, alat pemadam api ringan (APAR) sampai hidran,” tambahnya.

Adapun sistem proteksi aktif lebih merujuk kepada faktor manusia. “Pengelola pasar bertindak sebagai building manager(manajer gedung). Mereka tidak hanya mengelola pedagang melainkan juga bangunan. Mulai mengecek sistem proteksi kebakaran, memetakan zona rawan kebakaran, seperti tempat kuliner. Kemudian secara berkala dilakukan fire drill (latihan kebakaran) bagi pedagang dan pengunjung, agar mereka tanggap bencana dan mengetahui jalur evakuasi saat kebakaran terjadi,” beber Iwan.

Jika semua itu dipenuhi, Iwan optimistis musibah kebakaran bisa diantisipasi sejak dini. Untuk realisasi pembangunan ulang Pasar Legi, yang mana bangunan lama sudah dirobohkan, Kemenpupera masih menunggu detil perencanaan yang kini tengah disusun Pemkot di bawah pendampingan institusi tersebut.

“Kalau perencanaan selesai September, maka Oktober bisa digelar lelang dini (lelang mendahului anggaran). Jadi awal 2020 diharapkan pembangunan Pasar Legi bisa dimulai,” tegasnya.

Rentang waktu antara 10-12 bulan dibutuhkan guna menyelesaikan pembangunan tersebut. “Lamanya menyesuaikan hasil perencanaan. Yang jelas proyek ini sifatnya single year (tahun tunggal). Artinya selesai pada 2020,” kata Iwan.

Kementerian pun menjanjikan kucuran anggaran proyek sekitar Rp 150 miliar. Angka itu masih di bawah permohonan Pemkot, yang berkisar Rp 244 miliar. “Kami tidak menyoal angka, tapi kualitas bangunan pasar seperti apa nantinya. Kalau dengan Rp 150 miliar sudah cukup membangun pasar yang sesuai standar dan layak, ya kenapa harus menganggarkan lebih?,” tandas Iwan dengan nada setengah bertanya.

Kepala Dinas Perdagangan Surakarta, Heru Sunardi menerangkan, saat ini Pemkot tengah mengebut proses perencanaan proyek revitalisasi Pasar Legi. “Ditargetkan akhir September sudah selesai. Pokoknya secepatnya,” jelas dia.

Menurut Heru, perencanaan proyek tersebut juga disesuaikan dengan ketersediaan dana revitalisasi. “Yang disesuaikan ada bermacam-macam. Seperti luasan kios, yang tadinya lebih lebar nantinya harus mengacu Standar Nasional Indonesia (SNI), dan sebagainya. (**)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This