Menyemai Mimpi MTSS Jadi Islamic Center

Menko Luhut meninjau lokasi pembangunan di kawasan MTSS, bersama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surakarta.

Lebih dari setahun terakhir, publik disajikan aktivitas megaproyek pembangunan Masjid Taman Sriwedari Surakarta (MTSS) di kawasan Sriwedari. Usai peletakkan batu pertama pembangunan pada Februari 2018, kini pengguna Jalan Slamet Riyadi bisa menyaksikan sebagian konstruksi masjid sudah berdiri. Plus, kerangka sebuah menara utama yang didesain menjulang setinggi 104 meter dan akan dilengkapi lift.

Mimpi besar Pemkot Surakarta akan adanya sebuah tempat ibadah berarsitektur megah di tengah kota, memang perlahan diwujudkan. Bahkan, mimpi itu kini kian berkembang manakala MTSS dianggap layak sebagai pusat pembinaan dan pengembangan Islam (Islamic Center).

Adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, yang mencuatkan potensi tersebut. Di sela-sela meninjau lokasi pembangunan MTSS, Kamis (29/8), Luhut menyebut jika masjid itu kelak bisa berfungsi lebih dari “sekadar” tempat ibadah.

“Awalnya kami kira masjid di Sriwedari cuma 1,7 hektare. Ternyata bisa dikembangkan sampai 10 hektare. Kalau 5 hektare diantaranya dikembangkan lebih jauh, sudah bisa jadi sentral (Islamic Center) dengan fasilitas first class,” ungkap Luhut di hadapan Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, Wakil Wali Kota (Wawali) sekaligus Ketua Panitia Pembangunan MTSS Achmad Purnomo, Sekretaris Daerah (Sekda) Ahyani, dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lain.

Kehadiran Luhut di Sriwedari memang istimewa. Ia ditugaskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) guna mengecek alternatif lokasi pembangunan masjid, yang rencananya dibiayai Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan.

Crown prince (putra mahkota) UEA itu teman baik Presiden. Beliau ingin bantu banyak dan salah satunya ingin membangun masjid yang jadi Islamic Center (di Solo).”

Menurutnya, Islamic Center hibah Putra Mahkota UEA itu bertujuan menyebarkan ajaran Islam yang damai. “Itu kata-kata Crown Prince. Beliau pakai istilah itu (damai),” tegas Luhut.

Meski harus diakui, alternatif Islamic Center tersebut tidak tunggal. Sebab Sriwedari masih harus “bersaing” dengan lahan bekas depo bahan bakar milik PT Pertamina (Persero) di wilayah Gilingan. Lahan itu juga sudah ditinjau Duta Besar (Dubes) Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Mohammed Abdulla Al Ghfeli, tepat sehari sebelum HUT Ke-74 RI.

Luhut beserta rombongan juga menyempatkan meninjau alternatif lokasi kedua itu. Usai melihat langsung kedua alternatif tempat pembangunan Islamic Center, Luhut pun enggan mengambil keputusan final.

“Nanti saya lapor Presiden, terserah beliau yang memutuskan. Akan kami lihat untung ruginya dulu,” tegasnya seraya menambahkan, keputusan Kepala Negara itu akan disampaikannya dalam pertemuan dengan Putra Mahkota UEA bulan depan.

Namun apapun keputusannya, mimpi menjadikan MTSS sebagai Islamic Center harus perlu dipelihara. Panitia pembangunan pun telah merancang tempat ibadah senilai Rp 165 miliar itu menjadi sarana berbagai aktivitas keagamaan. Tidak sebatas tempat shalat, melainkan juga pertemuan umat hingga destinasi wisata religi.

Fasilitas berupa ruang-ruang pertemuan nampaknya menggambarkan niat mulia tersebut.

“Bahkan nantinya MTSS juga bakal dilengkapi menara pandang yang bisa diakses pengunjung. Siapapun nantinya bisa naik ke menara pandang tersebut, karena akan dilengkapi lift dan tiga titik singgah. Di mana titik singgah tertinggi ada di puncak menara,” beber Achmad Purnomo, dalam sebuah kesempatan.

Kini, progres pembangunan MTSS telah berkisar separuh dari total pekerjaan. PT Wijaya Karya (Wika) selaku kontraktor pelaksana proyek menenggat, masjid itu sudah selesai dibangun September 2020.

Panitia juga terus mengupayakan pendanaan proyek, dengan menagih komitmen berbagai pihak yang sudah bersedia menyokong anggaran pembangunan MTSS. Selain itu, mereka juga berburu calon donatur baru.

“Kami tetap berusaha agar dana pembangunan MTSS pure dari corporate social responsibility (CSR). Kami juga tetap optimistis seluruh rencana awal bisa terealisasi, karena tidak ada ceritanya membangun masjid itu tidak jadi (selesai),” tandas Purnomo. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This