SOLO DAMAI BERSEMANGAT KE-BHINEKAAN

Kain berwarna merah-putih yang tersemat di seluruh peserta Apel Nusantara Bersatu di Lapangan Kotabarat, Solo, (30/11/2016) lalu, menjadi simbol etos menjaga kebhinekaan. Agenda ini memang digelar secara serentak di beberapa daerah. Namun Apel Nusantara Bersatu di Solo layak mendapat perhatian serius mengingat kota ini memiliki latar belakang historis politik yang dinamis.

Apel seperti ini perlu diilhami tanpa perlu menutup mata. Masyarakat sudah terbuka menerima beragam informasi yang mencuat belakangan ini. Khususnya dalam isu politik strategis menyangkut SARA.

Isu tersebut semakin dirasa mengancam persatuan dan kesatuan, juga perdamaian di antara masyrakat. Utamanya adalah kesadaran terhadap upaya polarisasi masyarakat dengan bahan bakar perbedaan agama.

Solo diketahui sebagai kota yang ditinggali oleh masyarakat majemuk dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu, tokoh dan simbol masyarakat majemuk tersebut memegang peranan penting dan terlibat dalam acara Apel Nusantara Bersatu ini.

Mengusung slogan Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita Bersatu, Bhineka Tunggal Ika, beragam unsur masyrakat di Kota Solo menandatangani kesepakatan damai. Muspida Kota Surakarta, perwakilan MUI Kota Solo, perwakilan pemimpin agama juga perwakilan dari Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, membubuhkan tandatangan pada kertas kesepakatan tersebut.

Wali Kota Surakarta, F.X. Hadi Rudyatmo menekankan pentingnya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai wadah dan rumah bagi seluruh masyarakat. Rudy, panggilan akrab wali kota, merangkum empat hal penting yang perlu diperhatikan dalam apel ini. “Kegiatan ini bagian dari sebuah bangsa yang besar, bangsa yang mau menghargai pahlawannya dalam mempedomani empat hal. Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI adalah harga mati dan rumah besar NKRI,” tegas Rudy.

Usai apel, ribuan peserta upacara melanjutkan kegiatan dengan pawai damai. Mereka berjalan kaki sekitar 4 Km, dari Lapangan Kotabarat menyusuri Jalan Slamet Riyadi dan menuju Balai Kota Solo.

Sementara itu, Kapolresta Surakarta Kombes Pol Achmad Luthfi sempat memaparkan tak ada laporan gangguan keamanan terkait isu perpecahan tadi. Luthfi mengutarakan pihaknya juga berkonsentrasi menjamin kemananan tabligh akbar 2 Desember di Masjid Agung Solo, bertepatan dengan aksi ratusan ribu umat di Monas yang dikenal dengan Aksi Damai 212.

Komisaris besar polisi ini juga menyebut 1.700 personel gabungan disiagakan menjaga Solo dalam agenda hari tersebut.

Komandan Komando Resort Militer (Danrem) 074/Warastratama Surakarta, Kolonel (Inf) Maruli Simanjuntak juga mengatakan Solo aman. Walau tak ada ancaman, pihaknya tetap bersiaga menjaga objek vital seperti kediaman Presiden Joko Widodo. Maruli menegaskan pihak keamanan selalu siap menerapkan tindakan sesuai prosedur. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This