Plasa Manahan Jadi Ikon Baru Kota

Patung dengan ketinggian tujuh meter dari lantai itu menjulang. Dikelilingi air mancur yang di kala malam hari nampak berwarna-warni membuat siapapun yang melewati tidak bisa tidak untuk melihatnya. Berada persis di depan pintu masuk Stadion Manahan, kawasan yang disebut dengan Plasa Manahan ini diharapkan akan menjadi ikon baru Kota Solo. Sebuah ruang publik yang disediakan Pemerintah Kota Surakarta bagi warganya.
Pembangunan Plasa Manahan memakan waktu hampir dua tahun. Dengan menggunakan dana dari APBD Kota Surakarta tahun 2015 dan 2016, Jum’at (28/10/2016) tepat pukul 00.00 diresmikan. Walikota FX Hadi Rudyatmo membuka selubung patung berupa profile Proklamator Ir. Sukarno yang tengah duduk santai sembari membaca. “Mudah-mudahan ini (patung Bung Karno membaca) menginspirasi warga Solo, khususnya para pemuda agar menjadi pemuda kreatif yang suka bekerja keras untuk bangsa dan negaranya,” kata walikota.
Menurutnya, simbol Soekarno Membaca memiliki makna sangat luas. Dengan membaca, dapat membuka jendela dunia. Tak hanya membaca dalam lembaran buku semata, melainkan juga membaca situasi, lingkungan dan apa yang ada di sekitar. Sehingga, lebih waspada dan mawas diri terhadap apa yang akan terjadi. “Membaca memiliki makna yang luas. Dengan membaca masyarakat akan lebih terbuka terhadap kemungkinan yang ada saat ini. Sehingga, dapat mengantisipasi hal tidak diinginkan dikemudian hari,” jelas walikota lagi.
Peresmian Plasa Manahan sengaja dilakukan bertepatan dengan hari bersejarah, di mana 88 tahun silam pemuda-pemudi Indonesia berikrar untuk bersatu padu yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober. Diawali dengan renungan makna sumpah pemuda yang diikuti ratusan pemuda dari berbagai ormas, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran pemutaran film perjuangan, parade puisi hingga pembacaan kisah Bung Karno muda. “Semoga para pemuda bisa mengikuti jejak para pejuang kemerdekaan Indonesia,” kata Walikota Rudyatmo.
Patung dari perunggu setinggi 3 meter dan lebar 1,2 meter itu memang menjadi titik sentral Plasa Manahan. Areal di depan pintu utama selatan komplek Stadion Manahan ini sesungguhnya didesain sebagai ruang publik untuk srawung warga yang ramah lingkungan. Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) meminta agar semua pihak menjaga benar kebersihan kawasan yang dinyatakan terlarang untuk kendaraan bermotor tersebut. “Kawasan Plasa Manahan hanya untuk pejalan kaki dan pesepeda,” kata Kepala DKP Hasta Gunawan.
Plasa Manahan menawarkan keasrian taman terbuka. Keberadaan Plasa Mananan memang untuk melengkapi fasilitas kompleks Manahan yang diperuntukkan bagi kegiatan olah raga dan rekreasi warga. Kawasan tersebut bakal disterilkan dari parkir maupun PKL. Keteduhan pepohonan dari hutan kota di komplek Manahan membuat orang betah berlama-lama di tempat itu. Gemericik air mancu mengundang kesejukan. Landscape yang membuat gatel penggemar selfie untuk mengabadikan keindahannya.
Namun di balik tawaran keindahan Plasa Manahan seperti menjadi ujian bagi stakeholder di Kota Surakarta bagaimana bisa menjaga dan merawat bangunan yang nilainya tidak sedikit tersebut. Meski dibangun oleh pemerintah, Plasa Manahan sesungguhnya merupakan milik bersama yang harus dijaga bersama-sama pula. Sebab, jika tempat itu menjadi kotor dan kumuh, tak ada artinya lagi.
“Kami berharap semua pihak memiliki rasa handarbeni. Mudah-mudahan tidak ada yang membuat aksi vandalisme. Kami sudah menyiapkan piranti untuk menjaga, tetapi tentu ada keterbatasan sehingga rasa memiliki semua pihak jauh lebih penting dalam menjaga tempat ini,” kata Hasta. (***15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This