“Jika Sungainya Resik, Waras Pula Warganya”

Pemerintah Kota Surakarta serius untuk mengembalikan fungsi sungai yang ada di dalam kota. Di masa lalu, sungai tidak hanya sekadar mengalirkan air tetapi juga memiliki fungsi kultural dan ekonomi. Bahkan sungai merupakan halaman depan yang terawat karena selalu dijaga. “Kita mulai dari Kali Pepe,” kata Walikota FX Hadi Rudyatmo.
Di Surakarta, setidaknya memiliki 43 sungai. Kali Pepe menjadi prioritas lantaran sungai tersebut memiliki badan paling besar dan paling banyak menampung aliran dari anak-anak sungai lainnya. Kali Pepe dinilai paling mendesak untuk segera dinormalisasikan karena kondisinya juga sudah sangat memprihatinkan. “Nantinya Kali Pepe bakal memiliki tiga dermaga sebagai penunjang wisata air,” tambahnya.
Walikota mengajak mengajak seluruh masyarakat untuk bergotong royong membersihkan sungai. Setidaknya dalam satu bulan sekali, gotong royong resik-resik kali dilakukan secara serentak. Bahkan memasuki musim penghujan Oktober ini, dua kali kegiatan resik-resik kali dilakukan secara serentak. Pertama di Hari Minggu 9 Oktober lalu, yang melibatkan ribuan warga kita membersihkan sungaidan di empat titik yakni di belakang Terminal Tirtonadi, Kawasan Loji Wetan, Kawasan Pintu Air Demangan, dan Kampung Sewu. Dua pekan berselang, kawasan Loji Wetan dan kembali “dikeroyok” ratusan warga.
Walikota FX Hadi Rudyatmo sendiri yang memimpin kerja bakti gotong yoyong tersebut. Walikota bahkan turut terjun ke sungai memungut sampah dan menaiki tebing mencabuti rumput-rumput maupun sampah yang dibuang sembarang. “Kalau gotong royong seperti ini rutin dilakukan dengan peserta sebanyak ini, saya yakin Kali Pepe bakal bersih, enak dipandang dan tidak akan terjadi banjir. Tapi ya kalau sudah dibersihkan jangan buang sampah ke sungai lagi,” tandasnya. Kepala Badan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta Gatot Sutanto mengatakan aksi massal membersihkan sungai itu merupakan salah satu upaya pengurangan risiko bencana di kawasan kota. Dengan melibatkan masyarakat luas termasuk ana-anak diharapkan akan tumbuh kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian sungai. “Banjir itu disebabkan karena perilaku kita terhadap sungai yang tidak baik. Kalau sedari kecil, anak-anak sudah dikenalkan memperhatikan sungai maka mereka dewasa manti akan dengan sendiri memperhatikan sungai,” kata Gatot.
Selain melibatkan dalam gotong royong, untuk mengenalkan sungai BPBD Surakarta juga merintis pendirian sekolah sungai yang berlokasi di Kampung Sewu, Jebres. Sekolah Sungai tersebut resmi dibuka oleh Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan Kamis (22/9/2016) silam. Meski disebut sekolah, namun kegiatan yang dilakukan sebenarnya bersifat informal seperti diskusi mengenai sungai, penanganan bencana, juga praktik mitigasi bencana.
Sementara itu Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Surakarta juga berencana untuk menyediakan peralatan pengeruk lumpur guna mendukung program normalisasi sungai. DPU akan membeli ekskavator berbentu spider yang sangat membantu pengerukan sedimen maupun sampah di dalam sungai. Selain pengeruk sedimen, DPU juga berencana membeli peralatan penyedot lumpur. Walikota Rudyatmo mengatakan sungai yang bersih bisa menjadi indikator bahwa perilaku masyarakatnya sehat. Kegiatan resik-resik sungai adalah mewujudkan masyarakat yang waras atau sehat perilakunya. ”Sungai itu sumber kehidupan manusia. Kalau sungainya waras, berarti perilaku masyarakatnya juga sehat. Kami akan terus mengajak masyarakat mencintai sungainya.,” kata Walikota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This