Festival Jebres 2016

Pendar warna-warni cahaya itu seperti magnet. Setiap malam menjelang, seratusan orang berduyun-duyun datang. Sekadar makan angin atau mengantar anak, cucu atau keponakannya bermain-main di taman. Tidak sedikit pula yang memang berjanjian untuk menikmati keindahan keindahan lampu-lampu hias yang dipasang di antara lampion berbagai rupa tersebut. Dari semua mereka itu, nyaris tak ada yang tidak mengabadikan suasana dengan foto selfie.

“Saya tahu ada taman lampion dari instagram teman dan kepengin selfie dengan anak isteri. Ternyata banyak banget yang datang,” kata Yatno, bapak satu anak asal Boyolali yang jauh-jauh ke Taman Cerdas Jebres hanya untuk sekadar berselfie ini tersenyum. Lampu hias yang dipasang di salah satu bagian taman dibentuk sebagai lorong, dengan lampion berpendar cahaya bergelantungan.

Memiliki lahan seluas 5000 meter persegi, Taman Cerdas Jebres menjadi satu tempat yang paling sering dikunjungi orang. Letaknya strategis, di belakang Kampus UNS dan di samping gedung STP. Memiliki sejumlah fasilitas, mulai dari ruang baca, wahana permainan anak-anak, ruang pertunjukkan terbuka dan tertutup, dan sebagainya. Tak hanya itu, Taman Cerdas Jebres kini tengah mempersiapkan pendirian stasiun radio anak.

Menurut Ketua LPMK Jebres, Tri Sapto Handoyo Taman Cerdas Jebres, bukan sekadar ruang dengan fasilitas edukasi dan permainan belaka. Taman Cerdas Jebres, kata dia, didesain sebagai ruang terbuka untuk interaksi warga khususnya anak-anak sekolah dalam rangka pembentukan pribadi yang berkarakter. “Fasilitas hanya pendukung, yang utama sebenarnya adalah program secara stimultan dan berkelanjutan kita upayakan,” kata dia.

Salah satu program yang digagas dan direalisasikan adalah Jebres Festival yang diselenggarakan sekaligus untuk menyambut HUT RI ke-71. Sejumlah kegiatan digelar sebagai rangkaian acara yang melibatkan berbagai lapisan warga Kelurahan Jebres, baik orang tua, muda-mudi maupun kanak-kanak. Beberapa di antaranya adalah lomba vokal grup, lomba teater bahasa Jawa, lomba dolanan anak dan yang paling meriah adalah Mas & Mbak Jebres.

Jebres Festival merupakan event yang mengutamakan proses interaksi antar warga, bukan sekadar hasil akhir di atas panggung. Pengelola Taman Cerdas Jebres, Sapto mengatakan warga Jebres membutuhkan ruang untuk berinteraksi dan Taman Cerdas memfasilitasinya. “Titik berat kegiatan ini adalah interaksi sosial dalam rangka meningkatkan kebersamaan warga, khususnya muda mudi. Muda-mudi diharapkan lebih mengenal lingkungan dan peka dengan kondisi sosial di sekitarnya,” kata Lurah Jebres, Ari Dwi Daryatmo, SSTP.

Dari sisi konten, Jebres Festival bermaksud untuk mengangkat ke permukaan potensi yang dimiliki kelurahan tersebut. Teater Jawa dan dolanan anak misalnya, merupakan pilihan yang secara sadar diambil anak-anak muda Jebres dari pengamatan semakin memudarnya perhatian terhadap budaya lokal. “Kami ingin ambil bagian dalam pembentukan karakter anak-anak muda. Penggunaan Bahasa Jawa dalam keseharian, memiliki pengaruh signifikan terhadap kepribadian seseorang. Juga pilihan jenis permainan anak. Karenanya kami angkat kembali dua hal tersebut,” kata Ketua Jebres Festival 2016 Yani Mardiyanto.

Pemilihan Mbak dan Mas Jebres sengaja menjadi puncak dari Jebres Festival yang berlangsung tiga hari tersebut. Menurut Yani, Mbak dan Mas Jebres yang terpilih meski bukan personifikasi sempurna tetapi setidaknya bisa mewakili generasi yang diidealkan. “Aspek kepedulian sosial dan problem solving menjadi lebih penting daripada kecerdasan intelektual. Makanya, seleksi pertama yang dilakukan adalah dengan mengajak peserta Mbak dan Mas Jebres blusukan, melihat langsung problem masyarakat pinggiran. Bukan hanya sekadar tahu, tetapi juga bagaimana mereka berbuat setelah melihat dan mendengar kenyataan di lapangan,” ujarnya.

Jebres Festival benar-benar menjadi ajang bagi anak-anak muda untuk menunjukkan kreatifitasnya. Mereka mendapat kebebasan penuh untuk melakukan eksplorasi mulai dari bentuk acara hingga evaluasi dan rencana jangka panjangnya. Menurut Pengelola Taman Cerdas, pihaknya memberi kebebasan penuh kepada anak-anak muda untuk melakukan aktivitas positif. “Termasuk kepanitiaan, kami mengutamakan anak-anak muda di bawah 20 tahun, agar mereka terbiasa bekerja sama dan gotong royong,” kata Sapto.

Penyelenggaraan Jebres Festival ini mendapat apresiasi dari Walikota FX Hadi Rudyatmo. Tak hanya menyaksikan sendiri puncak pagelaran Jebres Festival yakni pengumuman Mas dan Mbak Jebres terpilih, Walikota Rudyatmo juga berharap agar kegiatan semacam ini dapat dilakukan secara rutin. “Jebres Festival bisa menjadi contoh daerah lain bagaimana menggerakkan anak-anak muda untuk bergotong royong. Dengan kegiatan semacam ini, karakter anak muda akan terbangun,” ujarnya.

Camat Jebres Tamso berjanji untuk memfasilitasi agar Jebres Festival dapat menjadi agenda rutin. Menurut dia, meski hanya level kelurahan, namun Jebres Festival memiliki manfaat yang tak kecil. “Mereka lebih mengenal lingkungan dan peka dengan kondisi sosial di sekitarnya. Kegiatan semacam ini harus dicontoh dareah lain, apalagi pendanaannya juga mandiri,” kata dia. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This