SIPA 2016

BENTENG Vastenburg seperti malih rupa malam itu. Cagar budaya di Kota Solo yang dibangun tahun 1745 itu tak lagi terlihat tua dan angker. Sebaliknya, yang terlihat adalah keindahan indah ketika diterangi warna-warni cahaya menyirami bangunan tua lawas tersebut. SIPA atau Solo International Performing Art, sebuah pergelaran tahunan yang diinisiasi Pemerintah Kota Surakarta dan Semarak Candrakirana Art Centre, sejak tahun 2009 yang menjadikan Benteng Vastenburg menjadi berbeda setidaknya selama tiga malam. Taburan kembang api di malam pembukaan Jum’at (8/9/2016) menjanjikan pertunjukkan yang glaumor, wah dan eksotik.
Artis populer semacam Dewa Budjana, Maya Hasan, Djaduk Ferianto dengan Kua Etnika, dipajang di hari pertama menjadi magnet yang menarik ribuan pengunjung. Belum lagi sederet penyaji dari luar negeri seperti Nadi (Singapura), Blessing Chimanga (Zimbabwe), Na Hoon Park (Korea), Neil Chua and Ruanatzwork (Singapura-Malaysia), Philip Graulty (Amerika Serikat), Rodrigo Parejo (Spanyol) dan Manipuri Dance Group (India). Selain itu masih ada Keteng-keteng Girls (Medan), Duo Ubiet dan Dimawan (Jakarta-Yogyakarta), Trodon & Fajar Satriadi (Jakarta-Solo), Gangsadewa (Yogyakarta), Elly D. Luthan (DLDC–Jakarta), Vicky Sianipar (Jakarta), Gondrong Gunarto & Friends (Solo), Komunitas seni Tadaluko (Palu) dan Sruti Respati (Solo)
Tapi apa itu SIPA? Adalah sebuah pergelaran seni pertunjukan berskala internasional yang digelar di Kota Solo. Tahun 2016 ini merupakan penyelenggaraan kali yang kedelapan sejak pergelaran kali pertama tahun 2009 lalu. Pada mulanya, pergelaran hasil kerjasama antara Pemerintah Kota Surakarta dan SIPA Community serta Semarak Candrakirana Art Centre itu diselenggarakan di Pamedan Pura Mangkunegaran. Namun beberapa tahun terakhir lokasi pergelaran dipindah ke Benteng Vastenburg.
”SIPA hadir dari sebuah pemikiran untuk menggali potensi seni pertunjukan sebagai bagian dari kehidupan budaya. SIPA ada karena keinginan untuk terus mendewasakan kehidupan kota dengan melalui energi seni pertunjukan,” ujar Dra Irawati Kusumorasri MSn, Ketua SIPA.
Setiap tahun, SIPA selalu mengusung tema yang berbeda-beda. Tahun ini tema yang diusung adalah Mahaswara. Itu semacam pesan kemanusiaan yang diharapkan bisa digelorakan seiring dengan beragam seni pertunjukan yang dipentaskan. Tema Mahaswara sendiri diartikan sebagai suara-suara kemanusiaan yang selama ini menjadi daya dukung harmonisasi kehidupan dunia.
”Dunia membutuhkan swara atau suara. Tentang suara perdamaian, pelestarian alam, persahabatan dan suara-suara kemanusiaan yang lain. Dari sanalah sesungguhnya harmonisasi kehidupan itu akan terus terjaga,” terang dia.
Setiap tahun, SIPA selalu mengusung tema yang berbeda-beda Kecuali mengusung tema, tradisi SIPA setiap tahun juga selalu menghadirkan maskot yang berbeda-beda. Tahun ini maskot SIPA adalah Peni Candrarini. Seniman yang eksis karena basis suaranya yang luar biasa berkualitas itu memang sedang naik daun di jagad seni internasional sekarang. Oleh karena itu, kapasitasnya dipandang layak untuk mewakili simbol Mahaswara.
Gelora Mahaswara
Seiring acara pembukaan yang meriah dengan menghadirkan maskot berikut garapan musik dan tari serta taburan kembang api yang indah, bersamaan dengan itu pula pergelaran SIPA 2016 dimulai. Selanjutnya, selama 3 malam berturut-turut, delegasi dari dalam dan luar negeri akan silih berganti mewarnai panggung pertunjukan. Untuk dipersembahkan kepada ribuan penonton yang selalu datang setiap malam.
Maka lihatlah bagaimana kemudian ketika 20 delegasi yang datang menyuarakan dan menggelorakan pesan kemanusiaan Mahaswara di panggung SIPA. Bagaimana kemudian selama tiga malam berturut-turut panggung megah SIPA diwarnai beragam seni pertunjukan mulai dari musik, tari hingga teater.
”Karena temanya Mahaswara, tentu yang paling dekat adalah seni pertunjukan yang lebih mengedepankan pada perangkat musik. Namun di luar itu yakinlah tetap ada suara lain yang juga kami hadirkan,” kata Putri Paramitha Wisnu Wardhani, Humas SIPA 2016.
Penampilan delegasi dari luar negeri tentu saja banyak menyita rasa penasaran ribuan penonton yang hadir. Semisal Philip Graulty (Amerika Serikat) dengan gitarnya yang liar dan menyihir itu. Atau juga dengan tiupan saxsofon dari Rodrigo Parejo (Spanyol) yang seperti membius. Musik rancak Nadi (Singapura) hingga musik yang kental akan nuansa afrika dari Blessing Chimanga (Zimbabwe).
Sementara penampilan dari delegasi dalam negeri juga tak kalah memukau. Apalagi ada beberapa nama kondang di sana. Seperti Maya Hasan yang bagai malaikat cantik dengan kemerduan suara harpa-nya. Cabikan gitar Dewa Bujana yang tentu sudah sangat dikenal penggemar musik itu. Atau juga musik Vicky Sianipar dengan full band-nya serta meggelitik-nya musik Djadug Ferianto.
Demikian beragam sajian seni pertunjukan itu kemudian menggelorakan semangat Mahaswara yang sedang dijadikan pesan kemanusiaan malam itu. Ada kultur yang berbeda di sana. Ada rasa suara yang berbeda pula di sana. Demikian juga dengan ragam dan cara seni pertunjukan-nya. Namun meski masing-masing menggunakan ragam dan cara yang berbeda, namun semua menyatu dalam semangat yang sama. Semangat Mahaswara dalam pergelaran SIPA 2016.

Semangat Budaya
Begitulah, selama 3 malam dalam balutan beragam seni pertunjukan dari berbagai belahan dunia, SIPA sepertinya telah memberi pelajaran betapa kesenian bukan semata persoalan estetika panggung. Namun di luar itu sesungguhnya juga bisa dimaknai untuk membangun semangat kebersamaan yang dibangun melalui bahasa panggung. Harapannya, panggung itu akan menjadi etalase seni yang akan memberikan dampak positif pada banyak bidang kehidupan manusia.
‘ ‘Melalui SIPA, Solo akan menjadi jembatan bertemunya berbagai ragam dan jenis seni pertunjukan. Sebutan Kota Budaya pun akan semakin terteguhkan di dalamnya. Sehingga, harapannya akan muncul multi efek pada berbagai bidang kehidupan dari kegiatan tersebut. Baik itu dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik terkait denan ketahanan budaya,” terang Irawati Kusumorasri.
Meski hingga sekarang harapan itu belum begitu banyak terlihat, namun ada harapan besar ke depan SIPA akan bisa menggerakan seluruh kehidupan di Kota Solo khususnya dan Indonesia pada umumnya. Hingga ketika pergelaran seni pertunjukan itu diselenggarakan, semua akan turut bergerak dari mulai kehidupan ekonomi, sosial dan tentu saja kehidupan budaya. Sungguh, tahun ini, SIPA memang sudah memberikan resonansi yang indah dari spirit Mahaswara-nya. (Krisna Dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This