Awas Bahaya TBC di Sekitar Kita …!!!

Masyarakat diminta untuk mendukung Program Ketuk Pintu yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta. Program yang sudah berjalan hampir satu bulan itu bertujuan menjaring penderita Tuberkulosis (TB). Potensi warga Kota Surakarta menderita TB diduga sangat besar. Karena itu dukungan masyarakat terhadap program tersebut sangat diharapkan.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan DKK Surakarta, Efi Pertiwi sejak diluncurkan awal Maret lalu, program ini sudah menjangkau 240 warga. Program yang dilaksanakan setiap hari Jum’at itu mendapati hampir dari 10 persen setiap 100 warga yang diperiksa secara intensif dinyatakan positif mengidap TB.

“Program Ketuk Pintu itu dilakukan dengan etugas kita mendatangi satu persatu rumah warga yang mengalami batuk lebih dari dua pekan. Hasilnya cukup efektif karena baru berjalan beberapa Jum’at, sudah dapat diketahui jika setiap 100 warga yang diperiksa, 10 di antaranya positif TB. Kita berharap dukungan warga,” ujarnya, Jum’at (24/3/2017) di sela-sela persiapan Tuberkulosis Day.

DKK Surakarta menyelenggarakan peringatan Tuberkulosis Day dia area Car Free Day (CFD) Solo, Minggu (26/3/2017). WHO menetapkan tanggal 24 Maret sebagai Hari Tuberkolusis sebagai momentum mengkampanyekan pemberantasan penyakit menular ini. Indonesia masuk dalam urutan lima negara dengan kasus TB terbesar di dunia bersama India, Cina, Nigeria dan Pakstan.

Selain menggelar peringatan di CFD, DKK juga mengadakan serangkaian kegiatan, termasuk lomba cerdas cermat dengan tema Tuberkulosis. Wali Kota FX Hadi Rudyatmo dijawalkan hadir dalam puncak Tuberkolusis Day dan akan menyampaikan pesan peringatan agar warganya untuk berhati-hati dan terhadap penyakti menular dan mematikan tersebut. Ratusan kader kesehatan juga akan menggelar parade menyebarkan pesan-pesan bahaya TB berikut pencegahannya.

Meski tergolong mematikan, penyakit TB sebenarnya dapat disembuhkan sepanjang penderita bersedia melakukan pengobatan terus menerus selama minimal enam bulan secara terus menerus. “Proses pengobatan tidak boleh terhenti, sebab jika terhenti harus dilakukan pengobatan dari awal lagi, dan memerlukan waktu lebih lama,” kata Kepala DKK Surakarta, Sri Wahyuningsih.

Kepala Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta, Riskiyana  menambahkan sering kali penderita menghentikan pengobatannya di tengah jalan meski pengobatan TB gratis dengan alasan sudah tidak batuk lagi. Padahal, kesembuhan penderita TB sepenuhnya ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter bukan inisiatif pasien itu sendiri yang sekadar merasakan kondisi tubuh sudah membaik.

Menurut Riskiyana Kota Surakarta termasuk salah satu daerah berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit tuberculosis. Hal itu dikarenakan, selain daerah padat penduduk, wilayah seluas 44,5 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 550.000 jiwa termasuk daerah yang mobilitas warganya cukup tinggi. “Dan ironisnya meski di Solo ada Balai Besar Kesehatan Paru, tetapi biasanya penderita yang berasal dari dalam kota justru datang sudah terlambat dengan kondisi parah dengan batuk berdarah,” kata dr. Riskiyana.

Dia mengingatkan, masyarakat yang menderita batuk berkepanjangan dan terindikasi menderita TB supaya segera berobat. Sebab, penularan penyakit TB sangat cepat, dalam setahun seorang pasien TB dapat menginfeksi 10 sampai 15 orang di sekitarnya. Oleh karena itu upaya pencegahan penularan TB, tidak hanya dilakukan ke penderita melainkan juga orang yang berada di sekitar penderita TB.  “Ini menjadi masalah tersendiri, sehingga penanganan penyakit TB tidak sebatas pada penderita itu sendiri, tetapi juga warga sekitar,” ujarnya.

Oleh karena itu, baik Riskaya maupun Kepala DKK Surakarta meminta agar jika ada warg ayang memiliki gejala awal TB, yang biasanya ditandai dengan batuk berkepanjangan segera melapor ke Puskesmas atau layanan kesehatan lainnya. “Jangan menunggu penyakitnya terlanjur parah baru berobat. Pengobatan TB lebih muda jika ditangani secara dini,” ujar keduanya. (***)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This