Kinerja Direksi TSTJ Mendapat Apresiasi

Pemerintah Kota Surakarta sebagai pemegang saham tunggal Perusda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) memberikan apresiasi terhadap direksi perusahaan plat merah yang mampu meningkatkan pengunjung ke obyek wisata tersebut. Pada tahun 2016, sebanyak 400.000 orang disebut mengunjungi taman yang terletak di tepi Bengawan Solo tersebut. Jumlah ini meningkat 50.000 dari tahun sebelumnya.

Apresiasi tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Budi Yulistianto sesuai pelantikan Dewan Pengawas TSTS yang baru, Jum’at (31/3/2017). “Revitalisasi TSTJ memang bukan hal yang mudah. Selain biayanya cukup besar, yang ditangani juga bukan perkara gampang Karena TSTJ tidak hanya sarana edukasi dan hiburan, tetapi juga konservasi hewan. Mudah-mudahan Dewan Pengawas yang baru ini akan membantu mendongkrak kinerja direksi,” ujarnya.

Tiga anggota Dewan Pengawas TSTJ yang baru terdiri dari perwakilan masyarakat, akademisi, dan Pemerintah Kota Surakarta. Mereka akan bekerja untuk periode 2017-2020. Ketiga anggota Dewan Pengawas itu adalah Eny Tyasni Suzana dari Pemkot, Agus Budiyono dari akademisi, serta Sutarto dari tokoh masyarakat.

Budi mengatakan Dewan Pengawas, harus memiliki taring untuk melakukanevaluasi segala macam kegiatan yang dilakukan direksi. Baik dari segi pelaksanaan kegiatan harian, penggunaan anggaran, hingga hubungan dengan lembaga lain di luar TSTJ. Ia mewanti-wanti agar keberadaan dewan pengawas bukan sekadar formalitas belaka. ”Jangan sampai ompong. Semua diperhatikan, diawasi, dan dilaporkan kepada wali kota,” tegas Budi.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo secara khusus meminta TSTJ agar memaksimalkan potensi alam yang sudah ada. Misalnya, Segaran yang berada di sisi timur TSTJ dapat dimaksimalkan sebagai objek wisata air. Ia yakin jika setiap bagian dimaksimalkan, dapat menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke kebun binatang terbesar di eks Karesidenan Surakarta itu. “Silakan manajemen mengelola. Dewan pengawas juga harus ikut berkontribusi,” kata wali kota.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Surakarta juga telah menggelontorkan tambahan modal bagi pengembangan TSTJ. Modal sebesar Rp 3 miliar itu akan digunakan untuk menambah fasilitas berupa kolam keceh yang diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan. Direktur TSTJ Bimo Wahyu Widodo mengatakan, kolam keceh bakal dibangun di atas lahan seluas 1.000 meter persegi. Lahan tersebut sebelumnya adalah kolam lumba-lumba. “Anggaran Rp 3 miliar itu selain digunakan untuk pembangunan fisik, juga untuk keperluan perencanaan, konsultan pengawas, dan sebagainya,” katanya.

Kolam keceh dan tangkap ikan dibangun di zona komersil TSTJ yang total luasnya mencapai 2 hektare. Letak zona komersil hanya berjarak beberapa meter dari pintu masuk Solo Zoo, sebutan lain untuk TSTJ. Wahana tersebut, nantinya akan menjadi salah satu sumber pemasukan bagi TSTJ, yang akan mendukung fungsi konservasi di Solo Zoo. Sebab selain sebagai tempat rekreasi, Solo Zoo juga diplot sebagai lokasi konservasi flora dan fauna, serta memiliki fungsi edukasi bagi masyarakat.

Pembangunan wahana baru tersebut juga merupakan bagian dari grand design revitalisasi yang dilakukan di TSTJ. Dari total luas 14 hektare lahan di kebun binatang di tepi Bengawan Solo tersebut, 10 hektare digunakan sebagai area konservasi, 2 hektare untuk zona komersil dan 2 hektare untuk area parkir. (***)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This