Makna Malam Selikuran Ramadhan

Malam selikuran adalah salah satu tradisi orang jawa. Biasanya orang jawa melaksanakan atau memperingati tradisi tersebut pada 21 Ramadhan atau lebih dikenal dengan sebutan malam Lailatul Qadar. Pada malam itu awal Rasulullah Saw memulai beri’tikaf. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr di sepuluh hari terakhir  bulan Ramadan.
Selikuran (21 Ramadhan) menurut masyarakat jawa memiliki nilai/arti yang spesial. Tradisi malam selikuran (21 Ramadhan) adalah tradisi budaya sekaligus religius (agama) yang syarat dengan makna. Pada umunya masyarakat jawa memperingati malam selikuran dengan berbagai ragam tradisi. Tentunya hal ini sangat istimewa, karena kita dapat melihat banyak nilai-nilai positif yang ada dalam peringatan selikuran tersebut.
Menganalisa dari penghayatan masyarakat Jawa terhadap Islam, barangkali banyak sisi menarik yang dapat disimak. Sunan Paku Buwono IV sebagai pewaris dinasti.Mataram di Keraton Surakarta Hadiningrat, dalam Serat Wulangreh, menulis demikian:
Jroning Quran nggoning rasa jati
Nanging pilih wong kang uninga,
Anjaba lawan tuduhe,
Nora kena binawar,
Ing satemah nora pinanggih,
Mundhak katalanjukan,
Temah sasar susur,
Yen sirdayun waskitha,
Kasampurnaning badanira puniki,
Sira anggegurua.
Terjemahan bebas petuah yang ditulis dalam tembang dhandhanggula tersebut, kurang lebih “Alquran adalah tempat rasa sejati. Tetapi tidak setiap orang mengetahuinya, kecuali (mereka) yang tekun dan patuh. Karena jika demikian (dia) tidak akan menemui sejatinya ajaran. Jangan pula sembarangan yang bisa mengakibatkan kesasar. Jika engkau waspada, akan mendapatkan kesempurnaan dan karenanya engkau harus berguru”.
Sunan Paku Buwono IV (1788-1820), dalam ajaran Wulangreh yang arti harfiahnya pengajaran dan perintah secara tersirat ingin menunjukkan kedalaman makna wahyu Alquran. Pada dua baris pertama tembang dhandhanggula itu, Sri Sunan yang dikenal sebagai seorang pujangga menuturkan tentang pentingnya penghayatan Alquran dan orang-orang terpilih yang memahaminya. Ungkapan itulah yang mengilhami masyarakat Jawa dalam menghayati Alquran, serta keyakinan adanya misteri anugerah Allah SWT yang turun di malam Lailatulkadar.
Tradisi adat di Keraton Surakarta dalam menyelenggarakan Nuzulul Quran (turunnya Aquran) dan menyambut malam Lailatulkadar, menurut berbagai sumber berpedoman pada Serat Ambya2. Di dalam Serat Ambya yang menjadi acuan tatanan keraton antara lain disebutkan, pada setiap tanggal ganjil mulai tanggal 21 Ramadan, Nabi Muhammad saw. turun dari Jabal Nur. Di.Gunung Nur itulah, Rasulullah menerima wahyu ayat-ayat Alquran.
Merujuk pada sumber tertulis itulah, Keraton Surakarta berkeyakinan di malam Lailatulkadar Allah SWT menurunkan anugrah setara seribu bulan kepada Rasulullah. Kalangan keraton dan seluruh masyarakat adat Jawa mengharapkan limpahan berkah dan anugrah, seperti yang telah diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. di malam Lailatulkadar.
21 Ramadhan menurut ajaran Islam dimaknai istimewa karena 21 Ramadhan menurut sejarah islam awal Rasulullah Saw memulai beri’tikaf (I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr) di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan, Nabi Saw bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (Bukhari dan Muslim).

Share This
X