Panen Untung Lewat Wisata Kampung

KAMPUNG MURAL--Salah satu warga menyelesaikan pembuatan karya mural di Kampung Mural Joho, Manahan, Sabtu (24/2/2018).

Di era digital yang semakin maju, berwisata kini tak rumit dan repot lagi. Bagaimana tidak, internet seakan menghilangkan sekat jarak dan waktu di bumi yang tak datar ini. Memilih destinasi wisata, membeli tiket pesawat, memesan hotel, sampai memilih warung makan khas suatu daerah pun dapat dilakukan dengan menggeser jari dan jempol saja. Internet dapat membuat pelancong berwisata dengan efisien.

Solo memiliki label kota wisata, dan era digital ini adalah sebuah peluang bagi masyarakat Kota Solo sendiri untuk memunculkan  potensi pariwisata yang dimilikinya kepada seluruh penghuni jagat raya.

Saat ini, Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Pariwisata telah merancang dan melakukan penggalian potensi destinasi wisata baru dengan program Urban Tourism. Apa itu Urban Tourism? Secara sederhana dapat diartikan wisata kota atau bisa disebut wisata kampung. Urban Tourism ini muncul untuk menjawab tantangan jaman khususnya masalah stagnasi obyek wisata di Kota Solo agar tidak terjadi penurunan jumlah wisatawan.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Iis Purwaningsih mengatakan, kita telah mengawali program ini dengan menyelenggarakan Gelar Wisata Kampung Kota melalui susur kampung dan merekonstruksi kampung Kepatihan dan Laweyan. Dengan modal itu Dinas Pariwisata ingin menciptakan kampung yang tematik, tapi bukan hanya sekedar meniru kampung-kampung yang sudah banyak ada di daerah-daerah lain.

Pemkot berkeinginan masyarakat secara aktif menggali potensi apa yang sekiranya diliki untuk dijadikan destinasi wisata kampung. Menurut Iis, pada dasarnya kepariwisataan yang berkelanjutan itu adalah kepariwisataan yang berbasis masyarakat, kalau hanya berasal  dari pemerintah saja hsailnya tidak akan dahsyat. “Karena masyarakat sendiri yang lebih mengetahui tentang potensi yang dimiliki kampungnya”, jelas Iis.

Pemerintah akan mengambil peran sebagai fasilitator, masyarakat akan dilatih dalam workshop membuat paket wisata kampung, pelatihan menjadi pemandu wisata yang baik, serta mendorong promosi wisata yang lebih efisien dan kekinian.

Sebelumnya Dinas Pariwisata Surakarta telah mengundang seluruh jajaran lurah dalam rangka sosialisasi program urban tourism ini. “Saat ini respon masyarakat sudah mulai terlihat, beberapa kampung mulai menggali potensi apa yang ada di kampung mereka”, terang Kepala Seksi Pengembangan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Weni Andrianto.

Andri menambahkan, semisal di suatu kampung ada potensi sejarah, maka alangkah baik bila dimunculkan, namun jika tidak ada maka coba berkreasi untuk menciptakannya. Saat ini di Kota Solo sudah ada beberapa kampung tematik wisata, diantaranya Kampung Batik di Laweyan dan Kauman, Kampung Sayur Mojosongo, Kampung Blangkon Serengan, Kampung Ekowisata Bumi, Kampung Mural Joho dan Kampung Permata Jayengan.

Pemkot juga berencana menggandeng start up lokal dan juga hotel-hotel di Kota Solo untuk ikut mempromosikan kampung-kampung wisata ini sehingga nantinya diharapkan kampung wisata ini bisa menarik banyak wisatawan. Selain itu ada banyak hal yang bisa didapat dari kampung wisata diantaranya adalah warga menjadi guyub rukun, munculnya usaha kuliner kampung, muncul banyak peluang pendapatan bagi warga kampung dan lapangan kerja, pendapatan bagi kas kampung, transfer pengetahuan, promosi kampung, lingkungan menjadi bersih, indah, dan rapi, budaya dan atraksi seni menjadi hidup, banyak kegiatan menyenangkan di kampung, lingkungan terjaga, munculnya dukungan pemerintah menyediakan sarana prasarana.

Dengan begitu banyaknya keuntungan yang bisa didapat, diharapkan masyarakat akan memiliki kesadaran untuk menggali potensi wisata di daerahnya dan mengembangkan urban tourism, sehingga nanti hasilnya kembali dapat dirasakan masyarakat sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This