Blangkon, Warisan Budaya Jawa
Blangkon selama ini dikenal sebagai salah satu perlengkapan budaya Jawa, bahkan bisa dibilang telah menjadi warisan budaya nasional, sehingga perlu dilestarikan.  Blangkon adalah kelengkapan pakaian adat Jawa yang sesungguhnya berasal dari Iket (udeng) semacam tutup kepala adat Jawa adalah selembar kain berwarna hitam bujur sangkar dibelah menjadi dua bagian pada garis diagonalnya sehingga berbentuk segi tiga.
Kota Surakarta adalah salah satu sentra kota penghasil blangkon yang cukup terkenal di Indonesia. Tepatnya di Kampung Potrojayan, Kelurahan Serengan. Sekarang ini ada sekitar 20 pengrajin blangkon di kampung tersebut. Tak ayal kampung ini pun disebut sebagai Kampung Blangkon.

Wardoyo, salah satu pemilik usaha Blangkon Kaswanto yang merupakan generasi ke tiga menjelaskan sejarah keberadaan blangkon yang ada di kampung halamannya. Awalnya, di kampung Potrojayan hanya memiliki satu perajin blangkon yakni Kaswanto yang juga abdi dalem Keraton Surakarta. Kaswanto tidak sendiri dalam membuat blangkon. Dibantu Slamet Djazuli, mereka sudah membuat blangkon sejak tahun 1960.
Pada waktu itu, Kaswanto membuat blangkon hanya berdasar pesanan dari Keraton. Misalnya untuk acara kirab maupun jumenengan. Namun, seiring perkembangan jaman, banyak permintaan dari pihak luar untuk membuatkan blangkon. Barulah pada tahun 1970 Kaswanto memberanikan diri memproduksi blangkon secara massal.
Selain sebagai usaha melestarikan budaya, usaha blangkon ini juga menjadi potensi bisnis yang menjanjikan. Diliriknya blangkon sebagai souvenir khas Surakarta, membuat pasar penjualan blangkon meningkat dari hari ke hari.
Blangkon Kaswanto sendiri mampu memproduksi hingga 200 blangkon per hari dibantu lima pegawainya. Pangsa pasar blangkon beragam, mulai lokal hingga mancanegara. Negara-negara yang pernah memesan blangkon Kaswanto seperti Amerika, Jerman, Inggris, Malaysia, Belanda.
Harga blangkon bervariasi mulai 10 ribu hingga 300 ribu tergantung bahan dan tingkat kesulitan.  Misalnya blangkon halus dengan kualitas yang bagus dan terbuat dari kan batik tulis dibanderol Rp200.000 sampai Rp300.000 per buah. Dari penjualan tersebut Blangkon Kasmanto mampu meraih omset mencapai 20 juta hingga 30 juta per bulan.
Proses pembuatan blangkon tergolong mudah dan relatif cepat. Hanya perlu pengguntingan, pengeleman, dan pengeringan. Membuat satu blangkon kira-kira butuh waktu sekitar satu jam. Namun, yang cukup lama adalah dalam proses pengeringannya lantaran membutuhkan tenaga matahari.
Pembuatan batik dimulai dari kain hitam penutup kepala yang dicetakkan pada cetakan blangkon yang terbuat dari kayu. Kain tersebut kemudian  diolesi lem dan ditempeli kertas koran. Baru kemudian setelahnya ditempel kain batik dan dibentuk sesuai model blangkon. Proses ini dinamakan klobot. Klobot kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah proses pengeringan selesai, calon blangkon dijahit manual menggunakan tangan.
Di Surakarta sendiri terdiri dari dua jenis yakni untuk abdi dalem atau abdi keraton dan untuk masyarakat umum. Blangkon untuk abdi dalem memiliki ciri mondolan  atau bulatan di belakang yang bulat dan diatasnya terdapat bentuk dasi kupu-kupu. Untuk blangkon yang digunakan masyarakat umum hanya ada bulatan kecil di belakang.
Untuk abdi dalem keraton diberi nama blangkon cekok mondol. Sedang untuk masyarakat umum blangkon solo kasatriyan. Ini berbeda dari blangkon Yogyakarta yang memiliki ciri tonjolan di belakangnya yang berbentuk bulat dan besar dan tidak memiliki spesifikasi khusus untuk dipakai orang awam ataupun abdi keraton.
Nah, bagi para wisatawan yang tertarik melihat prosesi pembuatan blangkon bisa mengunjungi kampung Potrojayan, Kelurahan Serengan, Jaw Tengah. Tak hanya melihat prosesi pembuatan blangkon, wisatawan juga bisa mencoba membuat sendiri sesuai selera.
 

Share/Save

Konten Terkait

Info Kota | Indeks Berita