Tradisi Nginang Saat Sekaten

Ditengah era globalisasi yang mewabah di Indonesia khususnya Kota Bengawan, tak lantas menyurutkan eksistensi tradisi Budaya Jawa. Salah satunya tradisi nginang atau mengunyah sekapur sirih yang dirangkai sedemikian rupa, seiring dengan ditabuhnya sepasang gamelan Sekaten, yakni Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari, di Bangsal Pradangga di Komplek Masjid Agung Solo.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusumo menjelaskan Nginang sudah jadi tradisi turun temurun saat Sekaten. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan Sekaten berbunyi untuk pertama kalinya. Akan awet muda dan giginya kuat, apalagi kinang kan mengandung antibiotik yang bagus untuk tubuh. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan Maulid Nabi ini.

Dijelaskan, filosofi mengunyah kinang tersebut adalah selalu ingat kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. Hal itu didasarkan pada bahan yang terkandung dalam kinang tersebut, diantaranya injet (kapur), suruh (sirih), tembakau, gambir dan bunga kantil. Kelimanya merupakan kiasan lima Rukun Islam yang harus dijalankan.

Selain sekapur sirih tradisi tersebut dilengkapi dengan ndog amal atau telur bebek yang sudah diasinkan. Hal tersebut sebagai filosofi manusia harus beramal dan membantu sesamanya.

 


Share/Save

Konten Terkait

Info Kota | Indeks Berita