Upacara Hari Kemerdekaan di Putri Cempo

Beberapa komunitas pegiat lingkungan memaknai Dirgahayu Kemerdekaan ke-71 dengan cara yang berbeda. Mereka menggelar upacara bendera di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Rabu 17/8/2016. “Kami ingin menunjukkan bahwa kita masih punya masalah sampah. Kalau dulu kita yang dijajah, sekarang gantian kita yang menjajah ibu pertiwi dengan tumpukan sampah ini,” kata inisiator upacara di TPA Putri Cempo, Denok Marty Astuti. Ia mengakui sempat tak tahan berlama-lama di Putri Cempo. Bau busuk sampah yang menyengat membuatnya pusing. Namun ia berusaha bertahan sampai acara selesai.

Ia berharap dengan aksi menggelar upacara di tumpukan sampah terbesar se-Soloraya itu, masyarakat akan sadar bahwa permasalahan sampah di Solo sudah cukup mengkhawatirkan. Menurut data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Kota Solo “memproduksi” sampah hingga 260 Ton per hari. Semuanya berakhir di TPA Putri Cempo. Tak heran, kawasan Putri Cempo yang dulunya berupa jurang dalam kini menjadi gunung sampah berikut berbagai persoalan yang dibawanya.  

Bau menyengat seringkali tercium dari sana hingga jarak beberapa kilometer pada musim hujan. Sebaliknya di musim kemarau, kebakaran kerap terjadi karena timbunan gas yang mudah terbakar. Denok bersama komunitas Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh) sejak satu setengah tahun lalu telah berupaya mengangkat masalah sampah di masyarakat. Melalui kelurahan-kelurahan ia bersama komunitasnya memberi pelatihan daur ulang untuk mengurangi volume sampah yang dihasilkan. “Sedikit-demi sedikit masyarakat mulai sadar. Banyak yang sekarang memanfaatkan sampah untuk digunakan lagi, misalnya dibuat kerajinan tangan dan lain sebagainya,” kata dia.
 


Share/Save

Konten Terkait

Info Kota | Indeks Berita