Kota Surakarta Raih BKN Award Untuk Pertama Kali
July 20, 2018 15:11
Mencari Putra Putri Solo
July 25, 2018 11:42

Lindungi Warga, Walikota Berinisiatif Buka Kios Telur Ayam Harga Kandang

Antusiasme warga mengantre membeli telur ayam di Pasar Gede, Jumat (20/7/2018) pagi, menjadi kisah yang perlu diperhatikan. Di hari pertama operasi pasar yang digelar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Surakarta itu, 300kg telur ayam ludes terbeli hanya dalam hitungan 2 jam.
Memang selisih cukup banyak harga telur dalam operasi pasar ini, Rp20.500/kg. Wajar jika warga antusias menyerbu telur karena harga di pasaran mencapai Rp25.000/kg, menurut pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) saat itu.
Walikota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo yang meninjau langsung operasi pasar hari pertama menyatakan rencananya membuka kios khusus penyedia telur ayam di pasar tradisional. Dengan memperhatikan tak mematikan pedagang telur pasar tradisional, pemilik panggilan akrab Rudy ini ingin kios telur ayam tersebut mampu menyediakan dengan harga di kandang. “Kami akan mengadakan pasar murah telur ini selama seminggu, yakni 20 – 26 Juli dan ke depan akan diadakan secara terus seperti ini. Tapi nanti akan kita atur jamnya supaya tidak menganggu pedagang telur yang ada di pasar,” tegasnya.
Rencana Wali Kota di atas bukan tanpa alasan. Sebab menurut Sekretaris TPID Surakarta sekaligus Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Muhammad Taufik Amrozi, harga telur di tingkat produsen tak bergerak banyak, kisaran Rp18.000-Rp19.000/kg. Berbagai analisa di balik naiknya harga telur ayam muncul ke permukaan.
Alasannya di antaranya adalah larangan impor jagung dan antibiotik ayam yang mempengaruhi biaya produksi telur. “Adanya larangan impor jagung dan antibiotik ayam, itu mempengaruhi,” katanya.
Meskipun demikian, dia mengatakan stok telur ayam masih terjaga. Operasi pasar TPID Surakarta merupakan salah satu langkah yang langsung menyasar terhadap pemenuhan kebutuhan warga juga dalam rangka mengendalikan harga pasar.

Kenaikan harga telur di pasar belakangan ini, lanjut Taufik Amrozy, menjadi fenomena. Sebab tren harga telur ayam menurun pasca lebaran. Walau sempat turun, harga telur di Kota Surakarta kembali merangkak naik.
Hal itu menjadi pembahasan antara stakeholder di Kota Surakarta dilanjutkan dengan digelarnya operasi pasar. Operasi pasar digelar di dua lokasi, Pasar Gede dan Pasar Legi.
Asisten Pengembangan Ekonomi Pemkot Surakarta, Triyana mengatakan pihaknya bersama dengan TPID telah menggandeng sejumlah produsen telur untuk dapat menyediakan telur pada saat operasi pasar berlangsung. “Kita selenggarakan di dua pasar tradisional yakni Pasar Gede dan Pasar Legi. Untuk sesi pertama kita sediakan telur 300 kg, tapi nanti misal habis kita pasok lagi tidak ada batasan,” jelas Triyana.
Beberapa kali berlangsung, operasi pasar tersebut mendapat apresiasi positif. Salah seorang warga yang ikut mengantri, Sumaryani (42) mengaku senang. Sebab, wanita ini justru mendapati telur ayam dijual seharga Rp26.000/kg. “Acara ini sangat membantu masyarakat, belakangan saya beli telur itu per-kilo bisa Rp 25.000 – Rp 26.000, ini kita bisa dapat harga murah. Saya berterimakasih kepada pemerintah dan mudah-mudah acara seperti ini bisa sering-sering digelar,” tuturnya.
Pemerintah Kota Surakarta terus mengkaji faktor di balik dinamisnya harga telur ayam dan kebutuhan pokok warga lainnya. Perlu pengamatan komprehensif untuk melindungi warga dan menurut pantauan, Selasa (24/7) malam, PIHPS merilis harga telur ayam ras di Jawa Tengah adalah Rp23.600/kg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *