Menghormati Serta Seluruh Kenangan

Tampak pekerja sedang berusaha menggali dan memindahkan makam Bong Mojo dengan hati-hati.

Terhitung sejak 23 Oktober hingga akhir bulan depan, Bong Mojo dipastikan tidak lagi menjadi “makam mati”. Kompleks pemakaman etnis Tionghoa itu bakal diwarnai aktivitas orang-orang yang menggali liang lahat, serta hilir mudik kendaraan pengangkut peti jenazah.

Namun itu bukan berarti Bong Mojo kembali diaktifkan Pemkot Surakarta sebagai lokasi pemakaman jenazah baru. Sebaliknya, Pemkot justru merealisasikan pemindahan ratusan makam di Bong Mojo sisi timur ke sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) yang sudah disiapkan.

Ya, usai disosialiasikan berkali-kali sejak Mei, Pemkot akhirnya membongkar makam-makam di Bong Mojo. Dibuka umbul donga, relokasi makam tersebut dilakukan kontraktor mitra proyek pemindahan dengan melibatkan 25 penggali makam.

“Kami membongkar makam-makam itu secara manual. Sama sekali tidak ada alat berat yang digunakan. Paling banter hanya linggis, untuk membongkar cor beton,” ungkap pelaksana pemindahan makam Bong Mojo, Angga Yosi Rawas.

Pemilihan metode pembongkaran itu didasari alasan kehati-hatian. Angga menegaskan, para penggali tidak diperkenankan merusak apapun isi makam saat mereka membongkarnya. Seluruh barang-barang yang ditemukan di dalam makam pun diharuskan dimasukkan ke dalam peti, sebelum diserahkan kepada ahli waris atau ikut dimasukkan ke liang lahat baru yang telah disiapkan.

“Para pekerja sudah diedukasi, bagaimana cara membongkar atau memperlakukan benda-benda yang mungkin ditemukan di dalam makam. Kami tetap menjamin keamanan benda-benda tersebut. Jika tidak diserahkan kepada ahli waris, kami akan menguburkan kembali benda itu di makam yang baru,” tandas Angga.

Kiranya itu sebabnya sosialisasi relokasi 191 makam di Bong Mojo sisi timur disosialisasikan Pemkot melalui berbagai cara. Para ahli waris diharapkan menyaksikan langsung proses pembongkaran makam, agar mereka bisa melihat sendiri isi makam leluhur yang telah dipendam selama bertahun-tahun.

“Memang ada barang-barang yang ditemukan di dalam makam. Mungkin itu barang yang dianggap berharga oleh almarhum/almarhumah semasa hidup. Macem-macem bentuknya, termasuk boneka,” tutur Katiman, seorang penggali yang ditemui di sela-sela pembongkaran makam.

Sayangnya respon ahli waris 191 makam masih terbilang minim. Hingga saat ini baru 17 ahli waris yang menghubungi Pemkot atau kontraktor, terkait pemindahan makam leluhur mereka. Proses identifikasi makam selama sebulan terakhir pun berakhir stagnan, karena 115 makam tetap belum dikenali.

“Seluruh makam tetap kami pindahkan ke TPU Daksinalaya, Purwalaya dan Untaralaya. Sebelumnya memang hanya dua makam, yakni Daksinalaya dan Purwalaya, yang disiapkan sebagai tempat relokasi. Tapi dalam perkembangannya, sejumlah ahli waris menghendaki agar makam dipindahkan ke Untaralaya yang lebih dekat.”

Bahkan tak hanya itu. “Beberapa ahli waris memilih merelokasi makam leluhur mereka ke pemakaman Delingan Kabupaten Karanganyar, atau dikremasi. Kami tetap menuruti permintaan mereka, hanya saja tidak bisa menanggung biaya pengiriman dan pemakaman jenazah di sana atau biaya kremasi. Sebab kompensasi dari Pemkot hanya penggratisan biaya pembongkaran makam dan pemakaman ulang di TPU yang sudah disiapkan,” beber Angga.

Pemindahan ke tiga TPU itu juga tetap dilakukan terhadap makam-makam yang tak kunjung teridentifikasi, hingga akhir masa pemindahan. “Semuanya akan diberi nisan bertuliskan no name. Sebelum dipindahkan, kami akan mendata nomor dan lokasi makam Bong Mojo dan lokasi makam di TPU baru,” terang Angga.

Pendataan itu diharapkan bisa membantu ahli waris, manakala mereka kelak mencari lokasi makam leluhur yang telah direlokasi.

Kasi Pemakaman Umum Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Sawaras Budi Kusuma menjelaskan, Pemkot juga menyiagakan petugas yang akan membantu proses penguburan kembali di TPU Daksinalaya, Purwalaya dan Untaralaya. “Harapannya proses pemindahan selesai sebelum memasuki musim hujan. Tapi karena proses pembongkarannya manual, paling banyak hanya 10 makam yang bisa dibongkar setiap harinya,” kata dia.

Sawaras juga menandaskan, Pemkot telah mewanti-wanti kontraktor agar memperlakukan barang-barang di dalam makam sebaik-baiknya. “Kami tidak menyimpan atau memisahkannya dari jenazah. Semuanya tetap kami masukkan ke dalam peti lagi untuk ikut direlokasi,” tegas Sawaras. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This