Dua Skenario Underpass Transito
April 29, 2020 13:07
Bantuan Masyarakat Bukti Kebersamaan Atasi Corona
April 30, 2020 23:43

Karantina Selesai, Pemudik Diantar Sampai Rumah

Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, mengantar pemudik dari Grha Wisata Niaga ke rumah masing-masing.

Para pemudik yang datang ke Solo menjelang Lebaran tahun ini memang diperlakukan “istimewa” oleh Pemkot Surakarta. Pandemi virus

corona (Covid-19) mengharuskan mereka menunda untuk sampai ke tempat tujuan di Kota Bengawan.

Pemudik, terutama mereka yang menggunakan transportasi umum, memang diwajibkan “transit” di dua lokasi. Yakni Grha Wisata Niaga dan Ndalem Joyokusuman. Bukan untuk beristirahat semata, melainkan menjalani proses karantina.

Karantina yang diberlakukan sebelum pemerintah pusat resmi melarang aktivitas mudik Lebaran ini, memang dimaksudkan guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pemkot tak ingin mengambil risiko, mengingat para pemudik berpotensi menjadi carrier pembawa virus tersebut. Atau yang lebih buruk, tiba di Solo dengan gangguan kesehatan akibat terpapar corona.

“Jadi selama dikarantina, pemudik selalu diperiksa kesehatannya oleh tim medis. Kami juga menjamin kecukupan logistik, serta menyediakan beberapa fasilitas olahraga agar mereka tetap bisa menjaga kebugaran tubuh,” tegas Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Pemkot pun membagi para pemudik yang tiba di Solo itu menjadi dua kategori, berdasarkan pemeriksaan awal. Yakni sehat dan mengalami gangguan kesehatan.

Mereka yang sehat dikarantina di Grha Wisata Niaga. Jika sebaliknya, maka dikarantina di Ndalem Joyokusuman. Bahkan bila perlu pemudik dari kedua lokasi itu bisa dirujuk ke fasilitas kesehatan (faskes), jika kondisi kesehatannya menurun secara tiba-tiba.

Selama 14 hari, tim medis posko penanganan Covid-19 terus memantau kondisi fisik para pemudik tersebut. Usai dua pekan menjalani proses karantina, mereka pun diizinkan pulang ke rumah masing-masing.

Uniknya, Pemkot tak sekadar membuka pintu Grha Wisata Niaga atau Ndalem Joyokusuman lebar-lebar, bagi pemudik yang dinyatakan “lulus” karantina tersebut. Selain dibekali surat keterangan dari tim medis yang menyatakan status kesehatan mereka, pemudik juga diantarkan hingga pintu rumah masing-masing.

Metode khusus pemulangan pemudik dari tempat karantina itu dipilih Pemkot bukan tanpa alasan. “Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat. Yang dikarantina itu sudah berstatus Orang Dalam Pengawasan (OPD). Jadi kalau sudah selesai karantina, ya kami kembalikan ke rumah dalam kondisi sehat,” tegas Wali Kota.

Sayangnya, tidak jarang sebagian kalangan menilai negatif terhadap mereka yang berstatus OPD tersebut. Bukan rahasia lagi jika masih ada kalangan yang berpersepsi keliru terkait Covid-19. Termasuk status OPD, yang kerap distigma sebagai pasien terkonfirmasi positif terserang virus tersebut.

“Jadi jika pemudik diantarkan pulang oleh Pemkot, kami minta masyarakat tidak mengucilkan mereka. Apalagi pemudik yang dikarantina di Grha Wisata Niaga ini sebenarnya kondisinya sehat-sehat saja dan tidak terpapar virus corona,” tandas Rudy, sapaan akrab Wali Kota.

Orang nomor satu di jajaran Pemkot ini bahkan terlibat langsung dalam pengantaran pemudik tersebut. Sejak 21 April, Wali Kota tercatat beberapa kali mengantarkan belasan pemudik hingga pintu rumah mereka, serta menemui keluarga dan perangkat RT/RW setempat.

“Saya keraya-raya mengantarkan pemudik ini yo ben masyarakat percaya. Mereka sudah selesai dikarantina selama 14 hari, dan dinyatakan sehat oleh tim medis.”

Syaiful Qomar, salah seorang pemudik yang diantar pulang Wali Kota mengapresiasi prosedur karantina yang diterapkan Pemkot. Pemudik yang tiba dari Jakarta dengan tujuan Banjarsari itu, mengaku nyaman menjalani karantina di Grha Wisata Niaga.

“Beda dengan bayangan saya pada awalnya. Sempat deg-degan dan bingung mau diapain, karena yang pertama masuk ke situ adalah saya. Tapi ternyata di sana asyik-asyik saja dan semuanya sudah seperti saudara,” aku pemudik yang dikarantina sejak awal April tersebut.

Ia pun berjanji menuruti pesan tim medis, agar tidak keluar rumah selama sepekan pertama kepulangannya dari lokasi karantina.

Ketua RW tempat keluarga Syaiful tinggal, Sunarmin, juga merespon positif pemulangan warganya tersebut. Ia berjanji untuk memberikan pemahaman terhadap warga, seandainya terjadi pengucilan terhadap Syaiful maupun keluarganya.

“Masyarakat juga diharapkan semakin jeli dalam mengawasi lingkungan masing-masing. Khususnya jika ada pendatang atau pemudik dari luar daerah,” tuturnya. (**)

Comments are closed.