Pemerintah Kota Surakarta
Bangunan Bersejarah dengan Desain Khas Kolonial yang Ada di Kota Solo
  February 24, 2022 11:19

Bangunan dengan ciri khas kolonial yang masih ada di berbagai wilayah Indonesia tentu menyimpan sejarahnya tersendiri. Mulai dari bekas pusat pemerintahan, hingga saksi bisu perkembangan peradaban yang terjadi di Nusantara. Begitu pula di Solo, beragam bangunan dengan arsitektur berciri khas kolonial yang masih berdiri kokoh dan beberapa diantaranya dialihfungsikan sebagai bangunan yang tidak hanya cantik, namun juga fungsional dan memiliki ceritanya masing-masing. Berikut diantaranya.

  1. Loji Gandrung

Bangunan khas bernuansa masa kolonial Belanda ini kini beralih fungsi menjadi rumah dinas Walikota Solo. Didirikan pada tahun 1797 pada masa pemerintahan Pakubuwono IV, dulunya bangunan ini adalah milik seorang pengusaha gula yang terkenal, Johannes Augustinus Dezentje. Keluarga Dezentje memiliki hubungan baik dengan pihak kolonial Belanda dan Keraton Kasunanan Surakarta. Pada tahun 1819, Augustinus Dezentje menikah dengan salah seorang anggota keluarga Keraton Kasunanan bernama Raden Ayu Cokrokusumo. Karena itulah banyak ditemukan perpaduan unsur arsitektur Belanda dan Jawa yang kuat dalam bangunan ini seperti bagian loji dengan halaman yang panjang.

  1. Omah Lawa

Dengan dominasi arsitektur khas Eropa dengan pilar-pilar tinggi, bangunan ini merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda di abad ke-19. Sudah lebih dari 50 tahun bangunan ini tidak berpenghuni sehingga terdapat banyak kelelawar (lawa) yang hidup disana. Maka dari itu bangunan ini disebut Omah Lawa. Hingga akhirnya pada tahun 2016, Omah Lawa ini mulai dipugar oleh ahli waris sebagai galeri batik dan pusat kerajinan, kemudian berubah nama menjadi Rumah Heritage Batik Keris.

  1. Gedung Djoeang 45

Gedung bersejarah ini dibangun pada masa pemerintahan Belanda tahun 1876 sebagai pelengkap dari Benteng Vastenburg yang terletak di utara gedung ini. Beberapa alih fungsi gedung ini, meliputi kantin bagi tentara Belanda, gedung fasilitas Belanda, asrama militer (Solosiehoe Internaat) tentara Belanda, hingga barak militer pada masa pendudukan Jepang. Tak hanya itu, dalam bangunan gedung ini juga ada monumen Laskar Putri Indonesia Surakarta dimana tertulis nama-nama para pejuang wanita yang ikut perlawanan terhadap Belanda pada 11 Oktober 1945. Melihat sejarahnya, Gedung Djoeang 45 ini kini resmi menjadi spot wisata sejarah.

  1. Benteng Vastenburg

Benteng yang berdiri kokoh di pusat Kota Solo ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Belanda, Jenderal Baron Van Imhoff, tahun 1745. Bangunan ini digunakan untuk tempat mengawasi kinerja Keraton Surakarta sebagai pemerintah yang berkuasa pada masa itu. Terdapat parit yang mengelilingi tembok luar benteng. Hal ini bertujuan untuk melindungi jembatan di pintu depan dan belakang. Di dalamnya, merupakan tanah lapang yang kerap digunakan persiapan apel atau upacara bendera. Bangunan ini tidak lagi difungsikan dan terbengkalai sejak tahun 1980. Namun, renovasi dimulai kembali tahun 2014. Kini benteng vastenburg telah berbenah dan menjadi tujuan wisata Kota Solo.

  1. Gedung Kavallerie-Artillerie Mangkunegaran

Bangunan ini berada di Jalan Ronggowarsito No. 128 Kelurahan Kepabron, Kecamatan Banjarsari. Tepatnya di kompleks Pura Mangkunegaran. Tampak depan, bangunan ini mirip dengan pintu masuk benteng yang megah. Dibangun pada masa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV, di tahun 1874. Dahulu, gedung ini difungsikan sebagai tangsi Legiun Mangkunegaran, sebagai unit militer Asia termodern, atas kuasa Napoleon Bonaparte. Kemudian dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Surakarta untuk event tertentu, seperti Solo International Performing Art (SIPA) tahun 2010-2012, Mangkunegaran Jazz, dan Solo International Ethnic Music (SIEM). 

Agnia Primasasti
Pemerintah Kota Surakarta

DISKOMINFO SP

Kompleks Balai Kota Surakarta

Jl. Jend. Sudirman No.2, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Kode Pos 57133
(0271) 2931667

Site Statistics

Visits today

43

Visitors today

11

Visits total

416,058

Visitors total

325,386

©️ 2022 Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Surakarta