Yuk Mengubah Kebiasaan Lama Berlalu Lintas
August 17, 2016 00:59
Punya Keluhan Layanan Kesehatan? SMS Saja
September 3, 2016 00:50

119, Layanan Kegawatdaruratan Kesehatan

Fasilitas layanan kesehatan di Kota Surakarta, khususnya dalam hal penanganan kegawatdaruratan, kini semakin maju. Selain sistem penanggulangan gawat darurat terpadu atau SPGDT yang sudah berjalan satu tahun, layanan kesehatan Kota Surakarta sudah terintegrasi dengan layanan darurat medik Kementerian Kesehatan.

Mulai Agustus 2016, Kementerian Kesehatan meluncurkan layanan telepon darurat 119. Telepon bebas pulsa ini diluncurkan untuk memfasilitasi layanan darurat medik. Alurnya adalah warga yang menemui kasus darurat kesehatan, seperti kecelakaan, bisa menelpon dengan ponsel atau telepon rumah dan meminta bantuan pengiriman tenaga medis serta armada sesuai kebutuhan.

Sebelum mendapat pertolongan, warga akan tersambung ke operator National Comand Center (NCC) di Kantor Kementerian Kesehatan. Operator ini akan meneruskan informasi kepada operator Public Servise Center (PSC) yang berkantor di kabupaten/kota. Kota Surakarta sudah memiliki PSC di Kompleks UPT Puskesmas Gajahan, Pasar Kliwon.

Operator PSC menempati petugas garis depan. Petugas ini akan meminta konfirmasi kondisi kedaruratan pelapor lalu mengontak petugas medis di rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat dengan lokasi calon pasien. “Sejauh ini, laporan yang masuk antara lain kasus kecelakaan, demam lama, pusing lama dan ada pula warga yang butuh layanan darurat untuk persalinan. Jadi kami meminta keterangan rinci tentang apa masalah pelapor, lokasi, tingkat kedaruratan. Kami memandu sampai layanan medik dipastikan meluncur ke lokasi,” terang salah satu operator PSC Kota Surakarta, Winarso.

Di sinilah letak keunggulan SPGDT yang sudah lebih dulu terbentuk di Kota Surakarta. Sebab, SPGDT sebagai sistem integrasi layanan kesehatan ini memiliki konsep sama dengan layanan Kementerian Kesehatan 119. “SPGDT di Kota Surakarta sudah berjalan selama satu tahun. Namun walau sudah disosialisasikan, masyarakat belum maksimal memanfaatkan. Sebelum terintegrasi dengan 119 milik Kementerian Kesehatan, kami pakai nomor lokal. Namun setelah diluncurkan 119, kami berharap masyarakat semakin memaksimalkan fasilitas ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan Surakarta, Siti Wahyuningsih.

Menurut Siti Wahyuningsih, sistem layanan 119 dan SPGDT merupakan produk yang menjawab problematika masyarakat terhadap akses layanan kesehatan. Sebab selain memberikan layanan darurat medik, sistem ini juga menyajikan informasi ketersediaan kamar untuk rawat inap di sejumlah rumah sakit yang ada di Kota Surakarta. Selain memuat kapasitas kamar rawat inap berbagai kelas juga informasi jumlah kamar yang kosong serta fasilitas kesehatan lainnya.

Untuk mendapatkan informasi tersebut selain dengan menelpon 119, warga juga bisa memantau layanan SPGDT secara mandiri. Caranya adalah dengan mengakses http://spgdt.surakarta.go.id/. Dalam website ini tertera informasi tentang ketersediaan kamar rumah sakit lengkap dengan keterangan kelasnya, ambulan siaga, dokter jaga serta dokter spesialis.

Informasi ini dimutakhirkan setiap saat sesuai kondisi riil di fasilitas kesehatan masing-masing, sebab petugas terkait menginput data sesuai perkembangan terkini. Kepala DKK Siti Wahyuningsih mengakui untuk membuat layanan ini efektif, memang sangat diperlukan komitmen petugas kesehatan dan masyarakat. “Petugas harus sadar pentingnya informasi layanan kesehatan bagi masyarakat dan tertib menyajikan informasi akurat. Sementara untuk masyarakat, penting menggunakan layanan ini secara tepat,” kata dia.

Sebagai operator PGC 119 Kota Surakarta, Winarso tidak menampik sering kali pihaknya mendapatkan informasi yang tidak bisa ditindaklanjuti. Menurut dia, tidak jarang ada orang iseng yang menghubungi nomor telpon bebas pulsa ini. “Informasi yang akurat dan detail sangat diperlukan agar kami bisa memberikan tindakan yang tepat,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *