Ponten, Sanitasi Umum Di Jaman Kolonial
September 1, 2018 08:31
Perkenalkan Dolanan Tradisional, Pemkot Gelar Festival Bocah Dolanan
September 1, 2018 19:02

Sejarah Stasiun Balapan Solo

Stasiun Balapan Solo merupakan stasiun paling besar dan bersejarah di Kota Solo. Stasiun ini didirikan pada tahun 1873 pada jaman kolonial dan merupakan stasiun tertua di Solo. Stasiun ini berada di jalur kereta api yang menghubungkan kota Bandung, Jakarta, Surabaya dan Semarang. Stasiun Balapan berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi No. 112, Kestalan, Banjarsari.

Sejarah berdirinya stasiun Balapan ini menarik untuk disimak. Lahan yang sekarang digunakan menjadi Stasiun Balapan, dahulunya merupakan Alun-Alun Utara milik Keraton Mangkunegaran. Di dalam alun-alun terdapat pacuan kuda Balapan, pada masa Mangkunegoro IV.

Pada masa itu, Solo sedang digalakkan terjadinya perubahan. Perubahan dari pola pedesaan menjadi pola perkotaan. Ide perubahan itu datang dari Pemerintah Kolonial Belanda. Secara tidak langsung, ide-ide perubahan menuju pola perkotaan ini juga menyentuh soal sarana dan prasarana umum. Salah satunya menyangkut soal alat transportasi kereta api.

Pemerintah Kolonial Belanda sudah menggagas jalur rel kereta api dari Semarang (sebagai Ibu Kota Provinsi) menuju Solo, maka Solo harus punya stasiun kereta api. Lokasi lapangan pacuan kuda Balapan dianggap paling pas untuk menjadi sebuah stasiun, karena jalur rel bisa langsung mengarah ke Semarang. Akhirnya, pacuan kuda itu diubah menjadi sebuah stasiun, dan nama Balapan tetap dipertahankan.

Setelah Stasiun Balapan berdiri, rel KA dihubungkan dengan stasiun-stasiun yang berada di titik-titik strategis, yakni di Purwosari, Sriwedari, dan Jebres. Stasiun-stasiun itu terhubungkan oleh rel-rel yang melewati tengah kota. . Salah satu buktinya adalah jalur rel yang ada di tepi jalan Slamet Riyadi, jalur rel ini masih digunakan hingga sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *