PSEL Putri Cempo Jadi Percontohan

Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, Direktur PT Citra Solo Metro Plasma Power (SCMPP) Elan Syuherian (lima dari kiri) dan pejabat lainnya melakukan ground breaking PSEL 5MW.

Penantian publik akan kepastian pengelolaan tumpukan sampah di TPA Putri Cempo yang ramah lingkungan kini terjawab. Sempat diundur beberapa kali akibat sejumlah kendala, proses pembangunan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA itu akhirnya dimulai Rabu (23/10).

Melalui prosesi peletakkan batu pertama (ground breaking), harapan warga Kota Solo kini mulai membumbung. Jika tak ada aral melintang, dalam dua tahun ke depan sampah-sampah di kota ini akan mulai diolah menjadi energi listrik. Tidak lagi ditumpuk begitu saja di sudut-sudut TPA.

Apresiasi pun disampaikan pemerintah pusat. Asisten Deputi Infrastruktur Pertambangan dan Energi Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman, Yudi Prabangkara, bahkan menyebut jika proyek itu merupakan yang terlengkap di Indonesia. Sebelumnya ia merevisi, proyek tersebut bukanlah PLTSa melainkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Proyek PSEL di Solo ini yang paling lengkap prosesnya. Mulai dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkot Surakarta dengan PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) sebagai investor, pembangunan demoplan yang menghasilkan listrik 450 KwH, lalu pada 28 Desember 2018 telah ditandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PLN,” papar Yudi di sela-sela ground breaking.

Proses itu, imbuh dia, telah melampaui tahapan-tahapan proyek sejenis. “Sebelum ground breaking, PT SCMPP juga sudah menandatangani kesepakatan pembiayaan proyek dengan China Construction Bank (CCB) Indonesia.”

Pernyataan Yudi itu bisa jadi mewakili ambisi pemerintah pusat, untuk segera menuntaskan rencana pembangunan PSEL yang menjadi salah satu dari 223 proyek strategis nasional (PSN). Apalagi teknologi gasifikasi dalam pengolahan sampah menjadi listrik di TPA Putri Cempo, adalah yang pertama diantara 12 wilayah yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai percontohan proyek tersebut.

Engineer-engineer muda ini ternyata bisa membuktikan kalau mereka mampu menghasilkan dan merealisasikan teknologi ramah lingkungan dengan baik,” kata Yudi.

Ya, ground breaking tersebut adalah langkah nyata kesekian kalinya atas komitmen Pemkot menuntaskan persoalan penanganan sampah di Kota Solo. Setelah memulainya dengan pembongkaran TPS di banyak titik dan menerapkan manajemen pengangkutan sampah terpadu dari hulu ke hilir, kini PLTSa disiapkan sebagai sarana terakhir bagi lengkapnya sistem pengelolaan sampah terpadu itu.

Wali Kota FX Hadi Rudyatmo berharap, kerjasama pembangunan PLTSa ini bisa mengurai persoalan penanganan sampah di Kota Solo. “Kalau sudah bisa diolah menjadi energi listrik, Pemkot bisa melakukan perbaikan pelayanan kebersihan sampah dengan lebih optimal,” tegas dia.

Angan-angan Pemkot itu wajar adanya, mengingat sebelumnya sejumlah tantangan menghadang realisasi pembangunan PLTSa Putri Cempo. Terakhir, persoalan pendanaan menghampiri investor, lantaran pembicaraan kerjasama pembiayaan dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) gagal berbuah kesepakatan investasi.

Untungnya masalah ketersediaan dana proyek itu bisa teratasi, setelah manajemen PT SCMPP menggandeng CCB Indonesia sebagai kreditur. PT SCMPP akhirnya  mendapatkan pinjaman senilai 16 juta dollar AS atau setara Rp 226 miliar. Jumlah itu setara 70 persen dari total kebutuhan dana pembangunan konstruksi tahap pertama, yang berkisar 23 juta dollar AS.

”Saya berterimakasih, CCB bisa berpartisipasi dalam proyek ini. Kalau proyek ini berhasil, tentu sangat luar biasa bagi Indonesia,” tegas Direktur Bisnis CCB Indonesia, Setiawati Samahita.

Ia menjelaskan, keterlibatan CCB Indonesia murni didasari alasan bisnis. Di samping itu, CCB telah berkomitmen mendukung pembangunan infrastruktur berwawasan lingkungan dan pemerintah pusat juga telah menginstruksikan agar perbankan memfasilitasinya.

“Solo adalah kota pertama yang bekerja sama dengan kami, terkait pengelolaan sampah. Kerjasama dengan kota lainnya adalah bidang air, panas bumi dan sebagainya. Berdasarkan risk acceptance criteria, PLTSa Putri Cempo ini masih bisa masuk atau acceptable risk, ” beber Setiawati.

Direktur Utama (Dirut) PT SCMPP Elan Syuherlan pun optimistis akan masa depan operasional PLTSa. Ia bahkan menargetkan,  break event point (BEP) atas operasional pembangkit itu bisa dicapai dalam delapan tahun pertama. Penghitungan balik modal pada tahun ke delapan itu seluruhnya diperoleh dari penjualan listrik kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Delapan tahun itu dihitung sejak cash on delivery (COD). Namun ada grace period (kelonggaran waktu dalam melakukan pengembalian pinjaman pokok dan/atau bunganya selama jangka waktu tertentu) untuk masa pembangunan selama 1,5-2 tahun,” papar Elan.

Adapun nilai jual listrik produksi PLTSa adalah 13,26 sen dollar per KwH, tanpa disertai biaya pengolahan limbah sampah (BPLS) dari Pemkot. “Seluruh hitungan itu mencukupi dari kontrak kami dengan Pemkot Surakarta, yang berlangsung selama 20 tahun dan bisa diperpanjang,” jelas Elan. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This