Pemerintah Kota Surakarta
Mengenal Lebih Dekat Monumen Pasar Nongko. Pertempuran Sengit Pernah Terjadi dan 25 Orang Gugur Termasuk Seorang Bayi
  May 23, 2023 11:30

Rasanya tergelitik saat melihat sebuah monumen atau prasasti ketika melintas di bundaran atau perempatan kawasan Pasar Nongko. Di tengah perempatan ada sebuah monumen yang dilindungi oleh pohon besar yang cukup rindang.

 

Tak banyak orang yang memperhatikan bila melewati lokasi tersebut berdiri sebuah prasasti. Lokasinya persis di depan kantor Mangkubumen yang merupakan persimpangan Jalan Prof Dr Supomo dan Jalan RM Said.

 

Padahal di lokasi itu, pernah terjadi pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dengan Belanda. Di tempat itu juga, menjadi saksi kekejaman Belanda yang membunuh warga tanpa peduli, bahkan seorang bayi juga menjadi korban peperangan. Monumen itu dikenal sebagai Monumen Pasar Nongko.

 

Maka monumen itu sengaja dibangun guna mengingatkan bahwa kemerdekaan direbut dengan perjuangan besar para pahlawan, terutama pada Agresi Militer Belanda II dan Serangan Umum Empat Hari di Kota Solo. Gencarnya perjuangan pasukan TNI yang bersatu dengan laskar pelajar dan laskar rakyat membuat kawasan di sekitar monumen menjadi ajang pertumpahan darah dari kedua belah pihak.

 

Tidak hanya prajurit Indonesia yang gugur, namun banyak warga sipil yang tak berdosa ikut menjadi korban pertempuran di kawasan Pasar Nongko. Korban-korban warga sipil sampai diabadikan pada monumen yang terpasang di tengah-tengah persimpangan jalan. Ada sekitar 25 nama-nama korban yang gugur, yang tercatat di atas monumen itu.

 

Pertempuran sengit di Solo yang dikenal sebagai Serangan Umum Empat Hari di Solo pada 7-10 Agustus 1945, memang meletus di banyak tempat. Kisah heroik, warga Solo bersama pasukan TNI dan sejumlah laskar menggempur Belanda habis-habisan. Akibat serangan itu, kekuatan Belanda dan sekutu di Solo tercabik-cabik. Tokoh perwira muda seperti Letnan Kolonel Ignatius Slamet Riyadi tampil sebagai komandan tempur yang sangat disegani dan ditakuti pihak lawan.

 

Meskipun Belanda memiliki persenjatan lengkap termasuk tank, namun karena digempur pasukan Indonesia yang sangat banyak dari berbagai arah dan berlapis-lapis, maka kekuatan Belanda dan sekutu akhirnya lumpuh juga. Dunia internasional terhenyak dengan serangan tersebut dan akhirnya diadakan gencatan senjata yang berakhir Belanda menerima kekalahannya.  

 

Tugu yang digagas Dewan Harian Nasional Angkatan 45 dan disupport oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta itu dibangun pada tahun 1980. Material batu marmer yang kokoh tampak berdiri di pulau jalan yang berada di persimpangan Pasar Nongko.

 

Monumen itu juga menjadi simbol hebatnya perjuangan pasukan TNI yang dikenal melakukan taktik gerilya. Demikian juga saat pertempuran di kota, pasukan TNI dan berbagai laskar juga menggunakan taktik gerilya kota.

 

Saat bertempur di kawasan Pasar Nongko, pasukan Indonesi kerap menyerang patroli Belanda saat melintasi Mangkubumen atau Turisari. Serangan mendadak dan cepat itu kerap membuahkan hasil. Banyak tank-tank atau panser Belanda dan sekutu yang menjadi korban taktik gerilya kota tersebut. Setelah Belanda dan sekutu membalas, pasukan Indonesia melarikan diri ke arah utara atau masuk ke perkampungan Sambeng dan bersembunyi di lorong-lorong sungai di Kali Pepe.

 

Taktik semacam itu juga banyak dilakukan saat bertempur di kawasan Baron dan Sondakan. Meskipun banyak berguguran, namun para pejuang Indonesia tak pernah gentar menggempur Belanda, khususnya melalui peristiwa Serangan Umum Empat Hari di Kota Solo. Tak hanya Belanda dan sekutu yang kerepotan, namun akibat serangan tersebut, mata dunia terbelalak, bahwa Indonesia, terutama di Kota Solo masih memiliki kekuatan pasukan yang tidak bisa diremehkan. Dan pertempuran di Solo turut mempengaruhi perundingan-perundingan yang akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia.

 

Monumen Pasar Nongko itu, kini masih kerap dikunjungi dan diziarahi pada hari-hari tertentu, seperti peringatan Serangan Umum Empat Hari atau Hari Kemerdekaan RI. Nah, kita sekarang makin mengerti, bila sejarah Solo begitu banyak yang menarik. Terutama dalam masa kemerdekaan, Kota Solo dipertahankan dengan taruhan nyawa, darah dan tangis. Begitu banyak pasukan, laskar dan warga Solo yang menjadi korban demi mempertahankan Kota Solo agar tak dikuasai oleh Belanda dan sekutu.

 

Kalau kalian ingin mengenang kisah-kisah tentang Monumen Pasar Nongko, yang kini sudah dinyatakan sebagai cagar budaya, silahkan kalian untuk menelusurinya. Bagikan konten-konten menarikmu ke sosial media, supaya semakin banyak orang mengerti dan tertarik untuk berkunjung ke Kota Solo.

Agnia Primasasti
[yarpp]
Pemerintah Kota Surakarta

DISKOMINFO SP

Kompleks Balai Kota Surakarta

Jl. Jend. Sudirman No.2, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Kode Pos 57133
(0271) 2931667

Site Statistics

Visits today

0

Visitors today

0

Visits total

424,061

Visitors total

329,916

©️ 2022 Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Surakarta