08-04-2026
WIB
Vinta
07-03-2026
22:05:58 WIBWakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, membuka pagelaran wayang kulit bertajuk Pendawa Gembleng dalam rangkaian kegiatan “Menyambut Ramadan 2026”, Sabtu malam. Kegiatan yang digelar komunitas pemuda dan pegiat seni tersebut menjadi ruang ekspresi generasi muda sekaligus penguat kecintaan terhadap budaya tradisional Jawa.
Dalam sambutannya, Astrid mengapresiasi inisiatif para pemuda yang tetap berkomitmen menjaga dan mengembangkan warisan budaya di tengah arus modernisasi. Ia menilai, wayang kulit menjadi salah satu media penting untuk mengajak masyarakat kembali memahami akar budaya.
“Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, kita tetap membutuhkan ruang untuk memperlambat langkah dan kembali melihat akar budaya kita. Salah satunya melalui wayang kulit,” ujarnya di hadapan masyarakat yang memadati lokasi pagelaran.
Menurut Astrid, pertunjukan wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi yang sarat nilai kehidupan. Kisah-kisah pewayangan mengandung pesan tentang kebijaksanaan, ketuhanan, perjuangan, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian.
Ia mencontohkan lakon Pendawa Gembleng yang menggambarkan perjalanan manusia dalam menghadapi cobaan sebelum mencapai kemuliaan. Dalam filosofi Jawa, proses tersebut dikenal sebagai “gemblengan” yang membentuk karakter manusia menjadi lebih kuat.
“Dalam kehidupan, setiap orang pasti menghadapi ujian. Ujian itulah yang justru membentuk manusia menjadi lebih kuat dan mulia,” kata Astrid.
Ia menambahkan, pendekatan budaya menjadi cara efektif untuk mengenalkan nilai moral kepada generasi muda secara lebih dekat dan kontekstual. Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda dalam pelestarian seni tradisional menjadi hal yang sangat penting.
Astrid menegaskan, tanpa peran aktif generasi muda, kesenian tradisional seperti wayang kulit akan sulit bertahan di tengah dominasi hiburan digital. Ia pun mengapresiasi para pemuda yang memilih menghadirkan pertunjukan budaya sebagai ruang berkumpul dan belajar bersama.
“Ini bukan hanya tentang pertunjukan seni, tetapi tentang bagaimana kita menjaga jati diri sebagai masyarakat Jawa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Astrid menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Surakarta terus mendorong dan mendukung kegiatan seni budaya di berbagai tingkatan. Menurutnya, kegiatan budaya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, ruang kreativitas, serta penguat identitas kota.
“Surakarta dikenal sebagai kota budaya. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Bahkan, ia membuka peluang agar pertunjukan budaya dapat diselenggarakan di berbagai ruang publik, termasuk lingkungan pemerintahan.
Pagelaran wayang kulit malam itu menghadirkan lakon Pendawa Gembleng yang dinilai relevan dengan momentum menjelang Ramadan, sebagai simbol pengendalian diri dan penguatan spiritual. Sejumlah dalang muda turut ambil bagian, di antaranya Dimas Febri Kalismaputra, Yoga Daksa Permana Putra, dan Yusuf Radamulya, yang memperkuat semangat regenerasi dalam dunia pedalangan.
Selain itu, pagelaran juga melibatkan kelompok karawitan serta berbagai komunitas seni yang turut meramaikan suasana. Bagi masyarakat yang hadir, acara tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang silaturahmi sekaligus refleksi menjelang bulan suci Ramadan.
Astrid menegaskan, melalui seni tradisional seperti wayang kulit, masyarakat dapat belajar banyak tentang kehidupan. Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, kesetiaan, dan tanggung jawab menjadi inti dari berbagai lakon pewayangan yang tetap relevan hingga saat ini.
“Budaya adalah jati diri kita. Selama kita masih merawatnya, selama itu pula identitas kita akan tetap hidup,” ujarnya.
Pagelaran kemudian dilanjutkan dengan prosesi penyerahan simbolis kepada para dalang sebelum pertunjukan dimulai, yang disambut antusias oleh masyarakat hingga larut malam.