13-05-2026
WIB
Vinta
09-04-2026
15:11:21 WIB
Wali Kota Surakarta menghadiri kegiatan sosialisasi dan peningkatan kapasitas pengelolaan obat bebas (OB) dan obat bebas terbatas (OBT) yang ditujukan bagi tenaga pendukung dan penunjang kesehatan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, industri, hingga organisasi terkait, sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat pengawasan distribusi obat di masyarakat.
Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sekaligus menyambut para peserta yang hadir di Kota Surakarta. Ia menuturkan bahwa meskipun kota ini tidak memiliki potensi alam seperti pegunungan atau pantai, kekuatan budaya dan keramahan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang berkunjung.
Lebih lanjut, Wali Kota menekankan pentingnya peningkatan kapasitas bagi tenaga yang berhadapan langsung dengan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan obat bebas dan obat bebas terbatas. Menurutnya, isu ini menjadi krusial karena berkaitan langsung dengan kondisi sosial dan keamanan di lingkungan masyarakat.
Ia mencontohkan peristiwa kerusuhan yang terjadi pada Agustus 2025 yang melibatkan remaja usia sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan bersama aparat, mobilisasi massa banyak dipicu melalui media sosial dan grup komunikasi digital. Selain itu, ditemukan adanya penyalahgunaan obat-obatan yang dicampur dengan alkohol untuk meningkatkan keberanian pelaku dalam melakukan tindakan anarkis.
Dalam konteks tersebut, Wali Kota menegaskan bahwa tenaga penjual, khususnya di sektor retail, memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mencegah penyalahgunaan obat. Diperlukan kepedulian serta kewaspadaan tinggi agar tidak terjadi penjualan obat secara sembarangan tanpa mempertimbangkan potensi dampaknya.
Dampak dari kerusuhan, lanjutnya, tidak hanya dirasakan oleh pemerintah, tetapi juga langsung memukul masyarakat kecil seperti pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga pekerja sektor informal yang terpaksa menghentikan aktivitas ekonomi mereka.
Melalui kegiatan ini, Wali Kota berharap seluruh peserta dapat meningkatkan pemahaman, kompetensi, dan komitmen dalam pengelolaan obat, terutama di tengah pesatnya perkembangan sarana retail modern di wilayah perkotaan.
Pada kesempatan yang sama, ia juga menyinggung program sekolah rakyat yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebagai upaya memutus rantai kemiskinan. Program tersebut menyediakan fasilitas pendidikan, asrama, hingga kebutuhan dasar bagi peserta didik. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan, termasuk kondisi ekonomi keluarga serta adanya indikasi penyelundupan obat-obatan ke lingkungan sekolah.
Ia mengungkapkan bahwa peredaran obat dosis tinggi yang disalahgunakan oleh anak-anak, khususnya dari kelompok rentan, masih menjadi persoalan serius. Hal ini menunjukkan pentingnya pengawasan distribusi obat secara ketat dan berkelanjutan.
Wali Kota pun menegaskan bahwa industri farmasi dan seluruh pihak terkait harus memiliki tanggung jawab bersama dalam memastikan distribusi obat tepat sasaran serta tidak disalahgunakan.
Pemerintah Kota Surakarta, lanjutnya, berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk dalam pengawasan distribusi obat. Saat ini, Kota Surakarta didukung oleh 22 rumah sakit, 17 puskesmas, serta ratusan klinik yang terus berkembang, sebagai wujud peningkatan akses dan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat.
Menutup kegiatan tersebut, Wali Kota berharap para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan optimal serta turut menikmati suasana Kota Surakarta. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga pengelolaan obat yang aman, tepat, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat dan semakin memperkuat komitmen kita dalam melindungi kesehatan masyarakat,” pungkasnya.