(0271) 2931667
email@surakarta.go.id

22-09-2026

WIB

Ardymulya Iswardani

21-09-2026

 15:43:28 WIB
Wali Kota Respati Dorong UMKM Solo Naik Kelas dan Perluas Pasar Digital
Icon

SURAKARTA – Wali Kota Surakarta Respati Ardi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Solo untuk mengubah orientasi usaha dengan meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pasar. Pelaku UMKM tidak hanya didorong mengejar jumlah penjualan, tetapi juga membangun nilai tambah melalui kualitas, kemasan, kreativitas, merek, serta pemasaran digital.

Pesan tersebut disampaikan Respati saat berbicara dalam kegiatan Waktunya Start Jualan Nyaman Special Collaboration Perayaan Beli Lokal. Kegiatan tersebut mempertemukan Pemerintah Kota Surakarta, Kementerian Perdagangan, platform perdagangan digital, kreator konten, serta pelaku UMKM Solo Raya.

UMKM Solo Didorong Berani Tingkatkan Nilai Produk

Menurut Respati, peningkatan kelas UMKM tidak selalu harus dilakukan dengan memperbanyak jumlah produk yang dijual. Pelaku usaha justru perlu menciptakan nilai tambah agar produk memiliki kualitas dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Mulai beranilah berjualan mahal,” kata Respati.

Menurutnya, pernyataan tersebut bukan sekadar ajakan menaikkan harga. Harga yang lebih tinggi perlu disertai peningkatan kualitas sehingga konsumen memperoleh nilai yang sepadan.

“Dengan menaikkan sedikit kualitas, dengan kita meningkatkan kualitas, kuantitas kita tekan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut mendorong pelaku UMKM untuk lebih memperhatikan kualitas bahan, desain, kemasan, identitas merek, pelayanan, hingga pengalaman konsumen.

Target Pasar Tidak Hanya Warga Solo

Respati juga mendorong pelaku UMKM memperluas sasaran konsumen. Perkembangan teknologi digital memungkinkan produk lokal dipasarkan ke berbagai daerah tanpa harus membuka toko fisik di setiap kota.

“Set target konsumen Anda bukan warga Solo, tapi set target konsumen Anda adalah warga Jakarta, warga Semarang, warga Bandung, warga Surabaya,” ujar Respati.

Perluasan pasar tersebut perlu diikuti kemampuan membuat konten yang dapat memperkenalkan produk kepada calon konsumen. Produk berkualitas, menurut Respati, juga perlu memiliki cerita, identitas merek, kemasan, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan karakter pasar.

Kolaborasi pemerintah dengan platform digital juga diarahkan tidak hanya pada pelatihan berjualan secara daring. Pelaku UMKM perlu memahami strategi seperti upselling dan cara menjangkau konsumen dengan daya beli lebih tinggi.

“Duitnya ada di mereka. Kita harus jual kualitas,” katanya.

Kreativitas Jadi Modal Ekonomi Solo

Respati menyebut Kota Solo memiliki modal penting untuk mengembangkan ekonomi kreatif, yaitu talenta dan kreativitas masyarakat.

Ia mencontohkan sejumlah usaha lokal, seperti mainaudio.id, produk speaker asal Solo, serta produk essential oil diffuser dan parfum. Menurutnya, usaha tersebut menunjukkan bagaimana kreativitas dapat menjadi modal untuk mengembangkan produk dan menciptakan nilai tambah.

“Saya tidak mau klaim, mereka berkreatif sendiri, bukan programnya pemerintah kota,” ujar Respati.

Menurutnya, kreativitas pelaku usaha perlu dipertemukan dengan ekosistem perdagangan digital agar produk lokal memiliki kesempatan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Nilai sebuah produk juga dapat meningkat melalui pengolahan, penyajian, dan narasi. Produk makanan dengan bahan sederhana, misalnya, dapat memiliki nilai jual berbeda ketika dikemas sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Solo Kembangkan Potensi Ekonomi Wellness

Selain perdagangan digital, Respati melihat peluang pengembangan ekonomi melalui sektor wellness. Pemerintah Kota Surakarta tengah mendorong konsep 2030 Wellness City dengan memanfaatkan potensi kuliner, batik, kesehatan, ekonomi kreatif, serta layanan kebugaran.

Selama ini wisatawan datang ke Solo antara lain untuk menikmati kuliner dan berbelanja batik. Pemerintah ingin memperluas alasan wisatawan untuk tinggal lebih lama di Kota Solo melalui pengembangan layanan spa and wellness.

“Yang pertama, gastro-kuliner sudah pasti. Kedua, belanja batik. Tapi apa alasan untuk wisatawan lebih tinggal lama di Kota Solo? Yaitu spa and wellness, spa and treatment,” kata Respati.

Menurut Respati, Solo memiliki fasilitas kesehatan yang dapat mendukung pengembangan ekosistem tersebut. Ia menyebut terdapat 22 rumah sakit yang telah terintegrasi dan dapat menjadi bagian dari pengembangan sektor kesehatan dan wellness.

Peluang tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM dengan menghadirkan produk maupun layanan yang berkaitan dengan kesehatan, kebugaran, makanan sehat, spa, perawatan, serta gaya hidup.

“Gym, high rocks, fasilitas kesehatan itu banyak dicari. Spa and treatment premium banyak yang dicari. Dan healthy food premium,” ujarnya.

Kios Pasar Sepi Disiapkan untuk Uji Pasar UMKM

Untuk memperluas akses usaha secara fisik, Pemerintah Kota Surakarta juga menyiapkan skema pemanfaatan kios pasar yang sepi. Pelaku UMKM direncanakan dapat menggunakan kios tersebut selama enam bulan sebagai kesempatan untuk menguji pasar.

Pemkot Surakarta akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dalam pelaksanaan skema tersebut. Apabila usaha berkembang, pelaku usaha selanjutnya dapat membayar sesuai ketentuan. Sementara itu, apabila usaha tidak berjalan, pelaku usaha tidak dibebani pembayaran selama masa program sesuai skema yang disampaikan.

Pasar Jongke dan Pasar Klewer disebut sebagai bagian dari kawasan yang menjadi perhatian program tersebut.

Namun, Respati mengingatkan penyediaan tempat usaha harus berjalan bersama peningkatan kemampuan pelaku usaha. Kios atau etalase tidak akan cukup apabila produk yang ditawarkan tidak mampu menarik konsumen.

Karena itu, kemampuan membuat konten, membangun merek, memperbaiki kemasan, dan menentukan target pasar tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM.

Ekonomi Kreatif Dikembangkan Berbasis Kawasan

Pengembangan UMKM juga dikaitkan dengan keterbatasan ruang di Kota Solo. Pemerintah Kota Surakarta menyiapkan kawasan ekonomi kreatif yang mencakup Kemlayan, Kauman, dan Keprabon.

Ketiga kawasan tersebut memiliki karakter masing-masing yang dapat dikembangkan sesuai potensi lokal. Kauman, misalnya, memiliki peluang untuk dikembangkan sejalan dengan potensi halal tourism.

Gagasan pengembangan ruang kota juga mencakup pemanfaatan lahan melalui konsep seperti urban farming. Keterbatasan lahan dinilai perlu mendorong munculnya kreativitas dalam mengelola ruang perkotaan.

Dengan demikian, pengembangan UMKM tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan perdagangan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi perkotaan yang berkaitan dengan tata ruang, pariwisata, teknologi, perdagangan, dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Perdagangan Digital Ubah Cara Konsumen Menemukan Produk

Presiden Direktur Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo dalam kegiatan tersebut menjelaskan adanya perubahan pola konsumen dalam menemukan produk.

Produk kini tidak hanya ditemukan melalui kolom pencarian pada platform perdagangan elektronik, tetapi juga melalui video pendek, siaran langsung, dan konten kreatif. Pola tersebut dikenal sebagai Discovery Commerce, yaitu perdagangan yang mempertemukan produk dan konsumen melalui proses penemuan berbasis konten.

Tokopedia dan TikTok Shop juga menyampaikan program pemberdayaan pelaku usaha, termasuk pelatihan pembuatan konten dan pemanfaatan affiliate marketing. Program yang diluncurkan sejak 2024 tersebut disebut telah memberdayakan lebih dari 4.800 peserta.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 200 pelaku usaha dari Solo dan sekitarnya juga memperoleh pembekalan mengenai perdagangan digital.

Kemendag Tekankan Legalitas dan Kemasan Produk

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya legalitas, kemasan, dan kemampuan pemasaran bagi pelaku UMKM.

Menurutnya, produk UMKM Indonesia memiliki kualitas, tetapi sebagian pelaku usaha masih menghadapi tantangan dalam pemasaran dan menemukan pasar yang sesuai.

Budi juga menekankan pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai bagian dari membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperjelas identitas dan keterlacakan produk.

Pemerintah memiliki peran dalam membuka akses dan membangun ekosistem, sedangkan pelaku usaha perlu terus mengembangkan produk dan meningkatkan kualitas.

“Dan saya yakin, kami yakin Kota Solo punya kemampuan talenta-talenta yang luar biasa,” ujar Respati.

Dorong UMKM Solo Naik Kelas

Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan UMKM yang dibahas dalam kegiatan Waktunya Start Jualan Nyaman Special Collaboration Perayaan Beli Lokal.

Pengembangan UMKM diarahkan tidak hanya pada penambahan jumlah pelaku usaha, tetapi juga mendorong peningkatan kelas usaha melalui kualitas produk, akses pasar, digitalisasi, penyediaan ruang usaha, pengembangan ekonomi kreatif, dan kolaborasi dengan platform perdagangan elektronik.

Bagi Respati, perubahan cara pandang terhadap pasar menjadi bagian penting dari proses tersebut. Produk lokal tidak harus selalu dijual murah untuk mendapatkan pembeli. Harga yang lebih tinggi dapat diterima ketika kualitas, kemasan, cerita, layanan, dan nilai produk mampu memberikan pengalaman yang sepadan kepada konsumen.

“Set target konsumen Anda bukan warga Solo. Set target konsumen Anda adalah warga Jakarta, warga Semarang, warga Bandung, warga Surabaya,” kata Respati.

Digitalisasi, dengan demikian, tidak semata-mata menjadi alat transaksi. Teknologi juga menjadi sarana bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan produk lokal kepada konsumen di luar wilayah Solo.

Kota Solo memiliki produk dan talenta. Tantangan berikutnya adalah mengolah kualitas dan kreativitas tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah, kemasan menarik, identitas yang kuat, dipercaya konsumen, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.