Lokomotif Jaladara Kini Tak Sendiri
February 8, 2020 16:55
Begini Rangkaian Acara Hari Jadi Kota
February 17, 2020 20:17

Wajah Baru Pasar Sidodadi

Wali Kota menandatangani prasasti sebagai tanda diresmikannya Pasar Sidodadi, Jumat (7/2) lalu. Pembangunan pasar ini sebagai upaya Pemkot Surakarta untuk merelokasi pedagang agar tidak lagi berjualan di jalan.

Bertahun-tahun, suasana Jalan Wuni Barat nampak semrawut. Ruas jalan lingkungan penghubung Jalan Slamet Riyadi dan permukiman warga di wilayah Karangasem selalu dipadati ratusan pedagang setiap pagi.

Mereka menyemut di kedua tepi jalan, untuk menjajakan berbagai komoditas kepada masyarakat. Ratusan pembeli pun memadati Jalan Wuni Barat, guna membeli berbagai barang kebutuhan mereka. Kondisi itu diperparah dengan aktivitas parkir pengunjung Pasar Sidodadi, yang turut memanfaatkan badan jalan yang tak seberapa lebar tersebut sebagai area parkir.

Akibatnya bisa ditebak. Jalan Wuni Barat beralih fungsi menjadi pasar dadakan. Pengendara pun kesulitan mengakses jalan tersebut, lantaran aktivitas jual beli di lokasi itu meluber hingga badan jalan.

Tak ingin persoalan itu berlanjut, Pemkot Surakarta memilih membangun Pasar Sidodadi II tak jauh dari pasar sebelumnya yang sudah berdiri di tepi Jalan Slamet Riyadi. Pasar yang diresmikan penggunaannya oleh Wali Kota FX Hadi Rudyatmo pada Jumat (7/2) itu, secara khusus menyediakan lahan parkir khusus pengunjung di lantai atas.

“Saat menyusun perencanaan perbaikan Pasar Sidodadi beberapa tahun lalu, tokoh-tokoh masyarakat Karangasem menilai bahwa tempat parkir di Pasar Sidodadi ini menutup akses kendaraan warga setiap pagi,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan Heru Sunardi.

Memang, Jalan Wuni Barat lebih berfungsi sebagai jalur keluar masuk perkampungan. Namun Pemkot tetap melihat jika ruas jalan tersebut harus kembali kepada peruntukkannya semula. Yakni sebagai jalur kendaraan.

Ini juga sejalan dengan kebijakan penataan PKL yang dilakukan Pemkot berkali-kali, dengan memindahkan lokasi berjualan pedagang dari tepi jalan ke berbagai selter PKL atau pasar tradisional. “Makanya saat perencanaan berikutnya, kami siapkan lokasi parkir di atas. Maksudnya supaya akses lalu lintas keluar masuk kampung dapat berjalan dengan lancar,” imbuh Heru.

Alhasil, bentuk bangunan Pasar Sidodadi sisi barat relatif berbeda dibanding pasar tradisional lainnya. Dibangun setinggi dua lantai, lantai satu pasar tersebut didesain mampu menampung 16 kios dan 87 los bagi pedagang. Adapun lantai dua berisi 16 los pedagang pelataran, serta lahan parkir yang relatif lapang.

Lokasi berjualan bagi pedagang sengaja disediakan Pemkot, lantaran pasar tersebut juga disiapkan untuk menampung para pedagang kaki lima (PKL) yang setiap hari mengais rezeki di Jalan Wuni Barat.

Jumlah tempat berdagang itu dirasa memadai, karena jumlah PKL yang mengantongi surat hak penempatan (SHP) hanya belasan orang. Sekalipun setiap hari PKL di Jalan Wuni Barat bisa mencapai 150 orang. “Kebanyakan PKL oprokan di situ adalah warga sekitar yang berjualan di teras rumah.”

Wali Kota pun menyatakan hal senada. “Kami berharap fasilitas jalan umum di sekitar pasar bisa dipakai untuk lalu lintas dengan nyaman dan lancar. Kami berharap, Pasar Sidodadi sisi barat dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya para pedagang maupun pembeli. Peningkatan fasilitas pasar akan terus dikembangkan, guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera dalam perekonomian dan tidak mengganggu lingkungan,” tegas Rudy, demikian Wali Kota akrab disapa warganya.

Komitmen untuk menjaga ruas jalan di depan pasar tetap steril dari pedagang dadakan,turut ditandaskan Wali Kota. “Sekarang kawasan di sekitar pasar sudah bersih. Pedagang yang dulu berjualan di tepi jalan, sudah masuk semua. Nanti kalau muncul pedagang-pedagang baru di luar pasar, akan langsung ditindak,” kata orang nomor satu di Solo ini.

Komitmen Pemkot tersebut lantas diacungi jempol pedagang. Salah seorang pedagang, Suparji, mendukung niat Pemkot untuk tegas menindak pedagang liar di depan Pasar Sidodadi. Sebab mereka dianggap menghalangi niat calon pembeli berbelanja ke dalam pasar.

“Sebenarnya mau dipindah ke mana saja, pedagang itu mau. Asalkan ada pembelinya,” tuturnya. (**)

Comments are closed.