Walikota dan Wakil Walikota Surakarta Sampaikan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Tahun 2020 Kepada DPRD Kota Surakarta
April 6, 2021 15:35
Wakil Walikota Solo, Teguh Prakosa Hadiri Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 dengan Gubernur dan Forkopimda Jawa Tengah
April 7, 2021 14:23

Walikota Dukung Sektor Wisata Wellness Di Surakarta, Minta Untuk Bersabar Selama Larangan Mudik

SURAKARTA – Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka dalam sambutannya pada kegiatan Forum Komunikasi Pegiat Pariwisata Kota Surakarta yang mengusung tema “Menangkap Peluang Dan Trend Pariwisata Pasca Pandemi – Wellness Tourism, Rabu (7/4/2021) di Hotel Swiss – Bell Hotel mengatakan, “Sebisa mungkin saya longgarkan terkait larangan mudik. Saya tidak mau mempersulit. Saya yakin sebulan ini hotel penuh dan restoran laku. Namun kita tetap larang mudik. Satu bulan apabila dihancurkan oleh covid karena mudik maka kita mulai lagi dari nol lagi,” urainya.  Beliau juga mengatakan bahwa Sebagian besar Kota Surakarta sudah zona hijau, dan hanya 2 yang oranye.

Terkait, 5 ribu vaksin per hari untuk memulihkan ekonomi Surakarta. Gibran meminta para pelaku pariwisata di Surakarta bersabar menunggu sampai Ramadan dan masa mudik selesai. “Saya yakin kalau grafik Covid 19 naik, ekonomi bisa memburuk lagi. Saya yakin kok. Wisata bersabar dulu. Nanti, Juni – Juli membaik. Mohon sabar sekali lagi,” ucapnya.

Walikota menjelaskan, akan menarik event event ke Surakarta. Pemerintah Kota Surakarta sudah mengijinkan kegiatan budaya seperti wayang dan ketoprak dipentaskan, live music sudah boleh digelar dengan pembatasan jam dan penonton. Kegiatan lomba tanpa penonton dan senam warga kampung sudah diperbolehkan.

Singgung wellnes tourism atau wisata kebugaran, Surakarta sudah memperbaiki venue  olahraga dan diperbanyak event olahraga bertaraf nasional. “Jangan sampai kosong dari kegiatan,” katanya.

Walikota menambahkan , untuk pengembangan pariwisata di Surakarta, Pemkot sselaku menjalin koordinasi Solo Raya, dengan para bupati di wilayah eks Karisidenan Surakarta “Mereka sudah  mau berkumpul di balai kota. Komunikasi kita jalin kembali dengan Solo Raya setelah 8 tahunan vakum,” katanya.

Dengan Kota Semarang, Pemkot Surakarta sudah menjalin kerjasama untuk berkompetisi dengan Yogyakarta. “Kita masih wait and see untuk MICE. Kalau kita punya convention hall seperti Kota Yogyakarta, MICE akan berkembang oesat lagi ki Kota Solo. MiICE menjadi PR yang segera saya benahi.

Terkait Wellness tourism dikatakan Walikota, akan segera dikembangkan dengan antara lain membangun Rumah Sakit Herbal di RS Bung Karno. “Kita Tidak mau kalah sama Penang Malaysia dengan pusat herbal nya. Bahan baku herbal justru berasal dari Surakarta dan sekitarnya. Wisata herbal seperti jamu dan spa tradisional Jawa dan terapi herbal, bisa berkembang pesat  jika kita mau bergerak cepat,” terangnya.

Diketahui, selama pandemi Covid-19 industri pariwisata Indonesia bisa dibilang lumpuh. Hal itu dibuktikan dengan jutaan pekerja di sektor pariwisata yang kehilangan pendapatan. Namun, usai kelumpuhan akibat Covid-19, nantinya industri akan memasuki era new normal tourism.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memprediksi produk ekowisata di Indonesia akan sangat diminati pascapandemi Covid-19. Apalagi, dengan hadirnya kondisi new normal. nantinya wisatawan diharapkan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang terkait dengan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta Aryo Widyandoko menerangkan, pandemi Covid-19 mengubah jenis atau tipe dan pengelolaan destinasi termasuk di dalamnya kegiatan ekowisata. Aktifitas perjalanan sangat dibatasi termasuk kunjungan wisata. Hal tersebut berdampak pada keberlangsungan hidup dan industri dan pelaku pariwisata khususnya Kota Surakarta yang banyak, mengandalkan pemasukan PAD dari sektor tersebut.

Sementara pegiat pariwisata dari ASITA Jawa Tengah, Daryono mengatakan Wisata MICE andalan Surakarta. Paulus mengatakan 70 – 80 % hotel mengandalkan MICE untuk dongkrak pemasukan.

Grand strategy MICE Untuk Surakarta dan Solo Raya dilakukan dengan mendatangkan orang sebanyak mungkin; sama sama bekerja dan bekerja bersama sama. Selain itu perlunya aliansi strategis Pemerintah Kota Surakarta dengan pelaku pariwisata.

Kota Surakarta menduduki peringkat 8 dalam pariwisata. Kuat dalam budaya namun dinilai masih lemah dalam MICE yang merupakan basis berkembangnya sektor pariwisata saat ini.

Dinilai perlunya insentif dari Pemerintah Kota Surakarta untuk pelaku MICE dan bersinergi dengan pelaku lain di Solo Raya dan Kota MICE lain seperti Semarang dan Yogyakarta.

Sementara Paulus Mintarga, pegiat pariwisata menjelaskan, Perlu evaluasi dan penataan ulang pola perjalanan wisata yang disesuaikan dengan kondisi new normal. “Kami prediksikan kegiatan wisata berbasis alam atau outdoor dan wellness tourism paling cepat rebound karena ecoturism dan wellness tourism bukan mass tourism tetapi wisata minat khusus. Kita mendukung akan kembalinya atau malah berkembangnya wisata tersebut di Indonesia.

 Ecotourism, Adventure Tourism, dan Wellness Tourism diperkirakan akan menjadi produk-produk yang paling diminati setelah pandemi Covid-19, khususnya untuk kegiatan dengan grup kecil dan aktif seperti interaksi di luar ruangan, kegiatan edukasi alam untuk keluarga, hingga aktivitas yang berkontribusi pada konservasi alam.

Ekowisata juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepedulian wisatawan pada pentingnya menjaga kualitas lingkungan kawasan tempat mereka berwisata, hanya dalam konteks ekowisata perlu penyempurnaan, dimana keuntungan devisa bukanlah kiblat satu-satunya, namun juga memikirkan kelestarian dan pelibatan masyarakat lokal. Kebersihan diutamakan kaitannya dengan taman Kota seperti di Taman Balekambang dan Manahan untuk olahraga event maupun eco tourism dan wellness tourism.

Sementara itu dari sisi pelaku pariwisata, menjelaskan, pelaku bisa memanfaatkan momentum ini untuk menceritakan hal positif dan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable) kepada wisatawan.

“Destinasi juga bisa mengkomunikasikan hal-hal positif apa yang sudah dilakukan jadi bukan keindahan saja yang dibagikan tetapi bagaimana usaha Anda untuk memerangi COVID, climate change (perubahan iklim), itu punya nilai-nilai positif yang harus diangkat ke permukaan,” jelasnya.

Dari pemaparan Paulus, wellness tourism memiliki peluang besar karena mengandalkan wisatawan dalam grup kecil yang aktif mencari informasi mengenai kebugaran ( body, mind dan spirit).

Wisata kebugaran juga berpeluang besar untuk dikembangkan di masa depan karena orang akan peduli pada kesehatan jasmani dan rohani, terutama bagi orang-orang kota yang membutuhkan kebugaran setelah bekerja.

Comments are closed.