Pemerintah Kota Surakarta
Pasar Kembang, Sentra Bunga Tabur yang Menjadi Jujugan Para Peziarah di Bulan Ruwah
  March 19, 2023 10:15

Kesibukan pedagang bunga tabur dan bunga tangkai di Pasar Kembang Solo sudah mulai terasa. Beberapa pembeli tampak memilih-milih bunga tangkai dan yang lain menuju setumpuk bunga tabur mawar merah dan putih. 

Sementara Sulastri (46) tampak sibuk memotong tangkai bunga bagian bawah yang sudah membusuk. Setelah memotong tangkai, dia menatanya kembali ke dalam puluhan wadah berisi air yang berjajar di rak. Sembari memotong tangkai-tangkai, dia juga memilih mahkota bunga yang tak segar untuk dibuang. 

Nggak gampang merawat bunga tangkai agar terlihat segar dan awet. Setidaknya dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam merawat bunga-bunga tersebut. Coba simak pesan Sulastri, pedagang bunga di Pasar Kembang ini, “Setiap hari air di dalam wadah harus diganti supaya bunga tangkainya tetap segar,” ujar perempuan berhijab asal Boyolali tersebut. 

Sudah 32 tahun dirinya berjualan bunga di Pasar Kembang, sehingga dia begitu hafal momentum atau musim bunga laris terjual. Seperti saat ini, menjelang bulan Ramadan, orang mulai menyerbu penjual kembang tabur atau bunga tangkai untuk keperluan nyadran. Maka seiring dengan musim ramai penjualan bunga, seluruh pedagang bunga yang berada di kawasan Pasar Kembang mulai menyetok persediaan bunga lebih banyak lagi, agar tidak kehabisan dan mengecewakan pembeli. 

Tradisi sadranan atau nyadran, menjadi tradisi yang tak bisa lepas dari masyarakat Solo dan banyak daerah lain. Tradisi ini merupakan kearifan lokal yang masih hidup dan berkembang. Tidak hanya masyarakat desa, namun masyarakat kota juga melakukan tradisi sadranan atau nyadran. 

Nyadran adalah tradisi turun temurun pada bulan ruwah menjelang bulan puasa, maka sering disebut ruwahan. Sangat banyak orang memanfaatkan ziarah ke pemakaman sembari memanjatkan doa dan ampunan bagi yang meninggal dunia dan menaburkan bunga atau meletakkan rangkaian bunga tangkai pada pusara, sebagai tanda bakti ke para leluhurnya. Biasanya dibarengi dengan membersihkan sekitar makam, batu nisan dan rumput-rumput liar.

Pada bulan ruwah, permintaan bunga tabur dan bunga tangkai segar secara otomatis akan meningkat. Momentum ini merupakan saat mendulang rezeki bagi Sulastri dan teman-temannya sesama pedagang di Pasar Kembang. Selama momen nyadran ini, beberapa pedagang meraup untung lumayan besar dan sedikitnya setiap pedagang bisa menghabiskan 1 hingga 2 kilogram bunga tabur setiap hari. 

Bunga tabur berupa mawar putih dan mawar merah sebagian besar banyak didatangkan dari daerah Musuk, Kabupaten Boyolali dan Bandungan (Kabupaten Semarang). Sementara bunga tangkai banyak didatangkan dari Bandungan hingga Malang, Jawa Timur. 

Ada beberapa jenis bunga tangkai segar yang dijual di Pasar Kembang, di antaranya, Bunga Aster, Bunga Sedap Malam, Bunga Lily, Bunga Krisan, Bunga Mawar Merah, Bunga Mawar Putih dan lain sebagainya. 

Sebagian besar pedagang bunga di Pasar Kembang merupakan pedagang asal Boyolali. Sulastri mengaku berasal dari Banyudono, Boyolali. Pedagang lain banyak yang berasal dari daerah Musuk, Boyolali. 

Kecamatan Musuk yang berada di lereng Gunung Merapi memang dikenal sejak lama sebagai penghasil bunga mawar. Bila berkunjung ke Musuk, bunga mawar banyak ditanam di halaman atau pekarangan rumah. Ada banyak desa yang menjadi penghasil bunga mawar, di antaranya Desa Sruni dan Desa Kembangsari. Beberapa desa lain juga banyak menanam dan penghasil bunga mawar. 

Sulastri masih tampak sibuk menata bunga-bunga tangkai. Perempuan ramah ini menjelaskan, di bulan ruwah ini, selain warga Solo, pembeli juga banyak dari luar kota. Mereka yang dari luar kota biasanya memang sengaja pulang ke Solo untuk nyekar leluhurnya di beberapa Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang banyak tersebar di wilayah Solo. 

Bagi dia, tidak hanya bulan ruwah bunga di Pasar Kembang diserbu pembeli, namun saat wisuda sarjana, pernikahan, valentine dan dekorasi untuk gereja pada perayaan ibadah, penjualan bunga juga mengalami peningkatan. 

Kehidupan para penjual bunga di Pasar Kembang, rata-rata memang sudah berdagang cukup lama. Dari hasil berdagang bunga, Sulastri sudah bisa membiayai sekolah kedua anaknya dan menyukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan baik di desa. 

Uniknya, Pasar Kembang ini buka hampir 24 jam. Para pedagang terbiasa melayani pembeli hingga larut malam. “Di sini buka hampir 24 jam, pagi, siang, sore, malam selalu buka,” ujar Sulastri. Jerih payah Sulastri dan teman-temannya berjualan di Pasar Kembang memang pantas diapresiasi. Sebab, warga Solo tak lagi kesulitan mencari bunga tabur atau bunga tangkai saat diperlukan untuk suatu acara. 

Pasar Kembang memang menjadi sentra penjualan bunga tabur. Namun di beberapa pasar juga bisa ditemui penjual bunga tabur, seperti di kawasan Pasar Nusukan, dan Pasar Ledoksari. Sementara di Pasar Gede, juga bisa ditemu penjual bunga tangkai segar. 

Jadi…bagi kalian yang membutuhkan bunga tabur dan bunga tangkai segar, gak perlu bingung ya…Datang saja ke Pasar Kembang, kalian akan bertemu dengan banyak pedagang bunga di sana yang siap melayanimu. Begitu banyak pilihan bunga tangkai aneka warna yang indah dan segar, yang bisa menjadi pilihan favoritmu.

Agnia Primasasti
[yarpp]
Pemerintah Kota Surakarta

DISKOMINFO SP

Kompleks Balai Kota Surakarta

Jl. Jend. Sudirman No.2, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Kode Pos 57133
(0271) 2931667

Site Statistics

Visits today

0

Visitors today

0

Visits total

426,497

Visitors total

331,352

©️ 2022 Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Surakarta