Pemerintah Kota Surakarta
Gedung PGRI Kota Surakarta, Tempat Lahirnya PGRI di Tahun 1945. Solo Jadi Saksi Perjuangan Guru Indonesia yang Bersatu pada Kongres I PGRI
  May 13, 2023 10:15

Sepertinya tidak berlebihan bila menyematkan Kota Solo sebagai salah kota perintis pendidikan di Indonesia. Peran Solo sebagai kota yang memajukan dunia pendidikan sudah dikenal cukup lama. Sejarah  mencatatkan bahwa Solo pernah menjadi bagian penting dari lahirnya organisasi profesi guru yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

 

Yang menjadi menarik, lahirnya PGRI diawali dengan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 hingga 25 November 1945 di Solo. Saat ini tempat penyelenggaraan kongres tersebut, jejaknya masih bisa dilihat, yaitu sebuah gedung yang berada di dalam satu kompleks SMP Negeri 10 Surakarta. Gedung tersebut saat ini dijadikan aula dan ruang pertemuan dan masih terawat dengan baik dengan nama ‘Gedung PGRI Kota Surakarta’.

 

Bangunan yang berada di Jalan Kartini, Kampung Timuran, Solo ini memiliki arsitektur khas bangunan Jawa. Atap limasan yang menutupi gedung tersebut, begitu kental dipengaruhi oleh arsitektur bergaya Jawa. Demikian juga ornamen pada lisplang atap yang memiliki pahatan khas bangunan lawas.

 

Bangunan yang menghadap selatan ini memiliki pintu utama dengan 2 daun pintu kaca yang tinggi dan lebar. Di kanan kiri pintu utama terpasang banyak jendela kaca dengan ukuran cukup tinggi. Di sisi timur pintu utama terpahat sebuah prasasti yang menandakan kelahiran PGRI yang bertulis: ‘Persatuan Guru Republik Indonesia’ dan di bawahnya tertulis: ‘Di sini Aku Dilahirkan’. Secara jelas disebutkan tanggal dilahirkannya PGRI yaitu ‘Minggu Legi, 25 Nopember 1945’. Sebuah logo PGRI juga diukir di bagian atas prasasti.

 

Bagian teras depan, terlihat empat tiang menopang atap berbentuk segitiga. Pada selasar teras dan di sepanjang selasar juga ditopang dengan tiang-tiang kayu jati berornamen khas arsitektur Jawa klasik.

 

Memasuki ruang utamanya, interiornya betul-betul mencerminkan arsitektur Jawa. Mulai dari tiang-tiang penyangganya merupakan tiang-tiang kayu khas joglo. Dominasi warna abu-abu dengan pemanis warna emas prada, menghiasi semua interior bagian dalam, Bagian atapnya juga sangat indah dan dipercantik dengan lampu gantung bergaya klasik. Di dalam bangunana atau tempat inilah kongres pertama PGRI pernah digelar tahun 1945 dan melahirkan organisasi PGRI.

 

Tampaknya memang semangat proklamasi 17 Agustus 1945 yang memberikan jiwa dan semangat digelarnya kongres guru di Solo tersebut. Mengutip situs pgri-surakarta.info, pada kongres itu, seluruh organisasi dan kelompok guru melebur menjadi satu dan sepakat membentuk wadah PGRI. Sebelum terbentuk PGRI, begitu banyak organisasi guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku. Namun semua peserta yang hadir dan mewakili berbagai macam organisasi dan kelompok guru itu sepakat untuk menghapus semua perbedaan.

 

Peserta yang mengikuti kongres merupakan para guru aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang dan pegawai pendidikan. Mereka bersatu membentuk wadah PGRI dan berjuang dalam dunia pendidikan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mereka cintai bersama. 

 

Sebelum mereka menggelar kongres, perjuangan untuk membentuk PGRI tidak mudah dilalui begitu saja. Jauh sebelum terbentuk PGRI, diawali dengan semangat perjuangan guru pribumi di era kolonial Belanda, sekitar tahun 1912 para guru mendirikan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Anggotanya saat itu terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah dan penilik sekolah. Mereka mempunyai latar pendidikan yang berbeda-beda, namun pada umunya mereka bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

 

Pada era yang sama, kemudian banyak bermunculan organisasi guru, di antaranya Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS) dan Hogere Kweekschool Bond (HKSB). Muncul pula organisasi guru berlandaskan keagamaan seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.

 

Tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Kata ‘Indonesia’ dalam organisasi baru tersebut tidak disukai Belanda, lantaran mencerminkan semangat kebangsaan. Kemudian pada era pendudukan Jepang, PGI tidak diizinkan beraktivitas. Hingga akhirnya, kesadaran nasionalisme para guru kembali bangkit seiring dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bulan Agustus 1945. Atas semangat proklamasi itu, maka dibentuklah organisasi PGRI yang tidak lagi membeda-bedakan agama dan golongan.

 

Kalau kalian tertarik untuk mengupas tentang gedung bersejarah lahirnya PGRI, silahkan langsung datang ke lokasinya. Tentu banyak kisah menarik yang bisa kalian bagikan lewat akun sosial mediamu tentang perjuangan guru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Solo memang sarat akan kisah-kisah sejarah pendidikan dan seperti tak pernah habis untuk diikuti.

Agnia Primasasti
[yarpp]
Pemerintah Kota Surakarta

DISKOMINFO SP

Kompleks Balai Kota Surakarta

Jl. Jend. Sudirman No.2, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Kode Pos 57133
(0271) 2931667

Site Statistics

Visits today

17

Visitors today

15

Visits total

425,201

Visitors total

330,588

©️ 2022 Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Surakarta