Berbelanja di Solo Yuk…
February 1, 2016 18:00
Dilantik, Langsung Tancap Gasss…!!!
February 22, 2016 12:37

Jayengan Kampung Permata

JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino Penjabat (Pj) Wali Kota Solo, Budi Suharto (kanan), meninjau galery berlian saat acara Launching Jayengan Kampung Permata di Kampung Jayengan, Serengan, Solo, Minggu (18/10). Acara tersebut meresmikan kampung kreatif di Kota Solo yang menghasilkan kerajinan permata.

Solo memiliki ikon destinasi wisata yang baru dengan diresmikannya Kampung Jayengan sebagai Kampung Permata, pertengahan Oktober 2015 silam. Kampung ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Kampung Batik Kauman, ikon wisata lainnya yang ada di Kota Solo. Penjabat Walikota Surakarta Budi Suharto, memberi nama Jayengan Kampung Permata (JKP) dan diharapkan menjadi pilihan bagi pengunjung Kota Solo yang hendak berwisata belanja.

Kampung Jayengan Tengah selama ini memang sudah dikenal sebagai bermukimnya para perajin permata. Mereka adalah perajin-perajin permata tangguh asal Martapura di Kalimantan Selatan yang telah bermukim sejak awal abad 20. Generasi pertama perajin permatan ini, konon diundang untuk membuat pesanan kaum bangsawan, terutama dari Pura Mangkunegaran. “Mungkin kami ini sudah generasi kelima,” kata Ketua Forum Jayengan Kampung Permata, Yusuf Al Katiri.

Perajin permata generasi kedua, ketiga atau generasi sekarang ini telah bercampur dengan warga setempat. Mereka pun telah membentuk subculture baru namun ketrampilan mengasah permata dan batu mulia lain yang diperoleh secara turun temurun langsung dari Banjar tetap mereka dipertahankan. “Sayangnya kami tidak pernah ada yang punya galeri sendiri karena dari ratusan perajin baru ada dua perajin yang punya galeri,” kata Yusuf.

Disebutkan, JKP memiliki sekitar 68 perajin permata dan berlian, kemudian yang memiliki spesialisasi sebagai perajin batu mulia sebanyak 65 orang serta 66 perajin emas dan perak 66 orang. Jumlah perajin ini masih bertambah lagi dengan mereka yang mengusahakan diirnya sebagai perajin batu akik sebanyak 50 orang serta kemasan atau tukang asah emas 21 orang. “Belum lagi yang menjadi pedagang,” tambah Chairul Anwar, pengurus JKP lainnya.

Karena tidak memiliki galeri atau showroom, , dulunya perajin permata di Jayengan hanya bisa memperdagangkan hasil kerajinannya dengan cara mulut ke mulut alias gethok tular. Mereka juga menggunakan tempat tinggalnya sebagai workshop atau tempat bekerja menggosok permata. “Kami tidak memiliki kemampuan untuk memasarkan secara modern,” kata Yusuf.

Didampingi akademisi dari UNS dan UMS, perajin permatan di Jayengan membentuk komunitas yang kemudian diberi nama Forum JKP.  Mereka bersama-sama berusaha untuk mengembangkan Jayengan sebagai kampung kreatif. Selain memiliki komoditas unggulan berupa permata, keunikan sub culture berupa persilangan budaya Jawa dan Banjar menjadi modal sosial Jayengan untuk menjadi destinasi wisata.

Sokongan perpaduan budaya Jawa-Banjar yang unik serta keterampilan mengolah batu mulia menjadi modal awal bagi mereka membuat kampung permata. Masyarakat Kampung Jayengan memiliki tradisi budaya yang khas. Salah satunya adalah tradisi takjil bubur samin di setiap bulan Ramadhan. Masjid kampung mereka, yakni Masjid Darussalam menjadi pusat kegiatan ini selalu ramai dikunjungi masyarakat

Menurut Yusuf, Masjid Darussalam memang akan diproyeksikan sebagai sentra Kampung Permata. Jayengan, katanya, kehidupan masyarakatnya tidak bisa dilepaskan agama. Di sekitar masjid yang dibangun tahun 1907 ini akan didirikan bangunan tiga lantai. “Kami punya mimpi itu. Lantai pertama dipakai untuk kios pengrajin, pedagang permata serta perhiasan, serta sentra kuliner khas Jayengan. Lantai atasnya dipergunakan sebagai masjid serta ruang kajian dakwah,” tutur dia.

Penjabat Walikota Surakarta, Budi Suharto berharap Kampung Permata sebaiknya memang hanya menjual satu produk saja. Produk tersebut sebagai produk khas yang tidak dimiliki kampung-kampung lainnya. Pengelolaan JKP harus dilakuakn dengan cerdas. “Bagamana caranya bisa menjaga kualitas sehingga ada kelanjutan untuk memajukan Jayengan Kampung Permata,” ujar dia.

Penjabat Walikota meminta agar seluruh pihak memegang teguh komitmen untuk terus menjaga eksistensi kampung tersebut. Menurutnya, keberadaan Jayengan Kampung Permata akan menjadi daya tarik tersendiri ketika muncul inovasi atau sebuah ciri khas dari batu permata yang tak dimiliki oleh daerah lainnya. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *